
Sesuai perintah, Candra sampai di Indonesia setelah seminggu pemanggilan. Candra yang mendengar sendiri ucapan kakaknya. Dia langsung mencari kakaknya di rumahnya.
"Kakak, apa nggak bisa lebih logis lagi kalau nyuruh pulang? Apa aku lelaki yang tidak bisa mencari istriku sendiri? Kak, Vio itu bukan gadis yang baik." Ocehan Candra sepertinya hanya membuang-buang tenaga saja. Bagaimana tidak? Bima bahkan tidak sekali pun merespon adiknya.
Bima masih asyik dengan putranya yang memainkan jarinya. Galuh yang baru selesai mandi pun kaget akan keberadaan adik iparnya.
"Candra, sudah dari tadi? Ikut sarapan, yuk." Galuh menyiapkan satu set peralatan makan untuk adik iparnya.
"Kakak...." Candra mulai manja dan memeluk kakak iparnya. Pada saat itulah Bima tak mengabaikannya lagi.
"Lepasin! Dia istriku, bukan istrimu." Bima memisahkan Candra dengan Galuh dan langsung memeluk Galuh posesif.
"Kak, Kaka itu enggak adil. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?" Candra masih mode ngambek.
"Melakukan apa?" Bima memberikan putranya pada baby sitter yang di tugaskan secara khusus mengajari Galuh merawat Dewangga.
__ADS_1
"Kakak menikahi kak Galuh dengan cinta. Tapi aku? Vio itu wanita gatel, aduh. Dosa apa yang aku perbuat di kehidupan laluku." Candra masih mengeluhkan sang calon istrinya.
Bima tidak bisa mengatakan apa-apa untuk hal satu ini. Karena dialah yang sejah dulu mencintai Galuh, bukan sebaliknya. Tapi, memang benar, dia menikah karena cinta. Ya, walaupun istrinya tidak cinta padanya.
"Kakak tidak memaksamu, kalian Ketemu saja dulu. Kalau misalnya tidak cocok, ya sudah.... Kirim jauh dari kehidupan kakak." Ucapan Bima inilah yang di tunggu-tunggu oleh Candra.
"Bener ya kak. Kakak nggak memaksa sama sekali." Mendengar hal itu, Candra kembali bernafas makan.
"Bener, itu kakak sudah masakin makanan kesukaan kamu. Kakak tau kamu pasti akan cari kakak secepat mungkin." Bima menyuguhkan ayam kecap untuk adik keduanya.
"Kak, numpang dong. Aku belum di beri mobil sama papa." Candra duduk di samping kakaknya di ruang tamu.
"Bawa saja mobil kakak." Bima memberikan kunci mobil yang ada di meja untuk adiknya.
"Memang, kakak enggak ngantor? Kakak ipar kalau minta jalan-jalan, gimana?" Candra sama dengan Bima. Dia perhatian dan pengertian, tau mana yang harus di utamakan dan di undur.
__ADS_1
"Kakak bakal nyari kamu kalau mau pergi, tapi kakak nggak ngantor. Kak Galuh juga sepertinya enggak ada acara keluar. Pakai saja."
"Ya sudah kalau kakak maksa." Candra mengambil kunci mobil dan langsung pamit pulang.
Badan Candra terasa lelah, perjalanan di atas pesawat membuatnya sedikit jetleg. Dia segera pulang dan ingin mengistirahatkan badan lelahnya.
Bima melihat putranya sudah bangun, Galuh menggendongnya dan duduk di sampingnya.
"Eh, Candra mana?" tanya Galuh.
"Sudah pulang, ayo Dewa ikut papa. Biar mama istirahat sebentar." Galuh tak memberikan Dewangga pada Bima. "Kenapa?"
"Kamu mau nyusuin Dewangga? Kasih aku main sama Dewangga sebentar saja." Jawab Galuh.
"Kan kamu sudah setiap hari main bersama si dedek ini selama aku kerja. Sekarang sudah ada Candra, kerjaan ku juga sedikit ringan. Jadi, giliranku yang main sama Dewangga Fedrik. Si tampan putraku." Bima tak mau kalah, walau dia tak bisa menyusui putranya.
__ADS_1
"Ya sudah, tapi tunggu dulu sebentar. Dewangga baru nyusu."