
Tiwi terus saja meneleponku entah berapa kali namun takku hiraukan. Aku menenggelamkan wajahku pada bantal kemudian menangis dan berteriak sekencang - kencangnya.
"Kenapa orang tuaku begitu tega merusak hari bahagiaku yang hanya bisa dirasakan sekali seumur hidup" ucapku dalam hati.
Entah kepada siapa lagi Aku harus mengadu, Aku juga tidak ingin mengganggu hari bahagia Tiwi. Terpaksa untuk saat ini Aku harus merasakan kepedihan ini seorang diri. Tidak tau lagi kemana Aku harus melampiaskan sakit hati ini.
Sekitar satu jam Aku tidak berhenti menangis, namun masih saja terasa begitu sesak di dadaku. Perutku yang belum di isi sama sekali membuatku tidak peduli. Ingin rasanya nyawaku dicabut saat ini juga.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Malam telah datang, tidak tau sudah berapa banyak panggilan yang tidak terwajab dan pesan - pesan dari Tiwi yang tidak Aku respon. Namun Aku kembali berpikir "Apakah semua ini bagian dari cobaan yang diberikan Tuhan terhadapku?" ucapku dalam hati menatap langit - langit kamar dalam keadaan masih berpakaian wisuda.
Perlahan Aku mencoba bangkit dari tidurku, meraih ponsel yang sejak siang tadi tidak Aku sentuh sama sekali. Aku melihat sudah ada sekitar 20 panggilan tak terjawab dan 12 pesan dari Tiwi.
Aku mencoba membalas pesan Tiwi walaupun tidak tau apa tujuannya.
"Maaf wi, Aku lagi gak bisa diganggu" Aku mengirimkan Tiwi pesan.
Selang beberapa menit, Tiwi baru membalasnya.
"Kamu kenapa rel? Aku khawatir banget sama kamu" balas Tiwi.
"Aku gak apa - apa wi. Kamu udah pulang?" Aku berbohong.
"Ini jalan pulang rel" balas Tiwi.
"Yaudah, hati - hati ya. Nanti aja hubungi Aku lagi kalau udah di kos" ketikku mengakhiri chattingan.
"Iya rel" balas Tiwi dan Aku kembali meletakkan ponselku di atas lantai.
Kembali Aku merebahkan tubuhku, terasa begitu hampa malam ini. Aku terlalu bingung kenapa orang tuaku sampai hati melakukan hal itu kepadaku. Terkadang Aku berpikir "Apakah Aku ini bukan anak mereka" bathinku karena memang Aku merasa tidak begitu penting di keluarga ini.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Setelah cukup lama Aku melamun tiba - tiba ada panggilan masuk dari Tiwi.
*Kriiinnng kkrriiinngg*
"Halo wi" ucapku mengawali percakapan.
"Iya rel, Aku udah sampai kos" ucap Tiwi
"Syukur deh kalau gitu wi" balasku singkat karena tidak tau harus berkata apa karena otakku terasa buntu.
"Iya rel. Kamu ada masalah apa? Coba cerita sama Aku, mana tau Aku bisa bantu" bujuk Tiwi agar Aku menceritakan apa yang sedang Aku rasakan.
__ADS_1
Aku terdiam sesaat karena takutnya jika Aku menceritakan hal ini, Tiwi akan terganggu ataupun merasa terbebani. Aku pikir cukup Aku saja yang menanggungnya.
"Enggak ada apa - apa kok wi. Aku baik - baik aja" ucapku membohongi Tiwi.
"Aku gak yakin rel. Plis kasih tau Aku" ucap Tiwi memohon.
"Hmmmm... Besok deh Aku ceritain. Malam ini Aku mau menenangkan diri dulu wi" ucapku karena belum siap untuk menceritakannya hari ini.
"Kok besok rel?" Tiwi terlihat penasaran dan khawatir jika Aku terlalu memendam masalah.
Tiwi sangat tau bagaimana Aku dalam menghadapi masalah. Nyawa saja bisa Aku pertaruhkan jika pikiranku terlalu kacau.
"Iya besok aja wi. Aku belum siap sekarang. Aku mau tidur dulu ya" ucapku ingin menutup panggilan.
"Hhmmm.. Iya deh rel" balas Tiwi lesu dan terlihat kecewa.
Aku langsung saja mematikan panggilan dari Tiwi.
Aku mencoba bangkit dari tidurku untuk mengganti pakaian yang sejak pagi belum diganti. Karena sejak pagi Aku belum makan sama sekali membuat kepalaku sedikit pusing saat ingin berdiri.
"Aduuhh.." rintihku sedikit oleng di saat mencoba berdiri.
Dengan sisa - sisa tenaga yang Aku miliki, terus kucoba untuk bergerak. Perlahan Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan membuang air kecil.
Setelah semuanya selesai, kepalaku mulai terasa lebih baik dari sebelumnya. Namun tubuhku masih terasa begitu lelah karena perutku yang kosong. Tidak ada niat sedikit untuk makan, nafsu makanku hilang mengingat kejadian tadi siang.
Mungkin karena sudah terlalu banyak menangis sehingga membuat tubuhku begitu lelah dan terasa mengantuk, tidak lama setelah Aku rebahan akhirnya Aku pun tertidur.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
*Kukuruyuuukk*
Kokok ayam di pagi ini membangunkanku dari tidur panjang. Sama sekali Aku tidak terbangun karena hujan yang tidak henti - hentinya mengguyur kota dimana Aku meraih gelar sarjana itu.
"Hoooaaammmm..... Udah pagi aja ya" gumamku sambil menggeliat meluruskan otot - ototku yang terasa begitu tegang.
Merasa bingung ingin melakukan apa pada hari ini, Aku hanya rebahan dan bergelut dengan ponselku saja. Cukup lama Aku bermain ponsel yang tidak tentu apa tujuannya.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, perut yang sejak kemarin masih kosong sekarang terasa begitu lapar. Aku berniat ingin mencari lontong untuk mereda rasa lapar yang teramat sangat ini.
Tanpa mandi sedikit pun namun hanya membasuh muka saja, aku menyusuri jalanan yang terasa begitu sepi karena sekarang adalah hari minggu. Banyak warung yang tutup dan setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Aku menemukan warung lontong yang terlihat cukup ramai, segera Aku menepikan! motorku.
"Buk, lontongnya satu ya makan di sini aja" ucapku perlahan masuk ke dalam warung itu.
"Iya nak" ucap Ibu penjaga warung yang sibuk membungkus lontong untuk pembeli yang lainnya.
__ADS_1
Aku duduk di bangku paling pojok. Wajahku yang terlihat lusuh membuat beberapa orang di sana terlihat memperhatikanku heran. Namun Aku cuek dan tidak peduli.
Beberapa menit Aku menunggu, pesananku akhirnya datang.
"Ini lontongnya nak" ucap Ibu penjaga warung memberikan sepiring lontong dengan kuah yang terbilang cukup banyak.
"Terima kasih buk" balasku dengan sedikit senyuman.
Karena kuah yang diberikan Ibu itu cukup banyak, Aku menambahkan bakwan dan kerupuk ubi agar sedikit lebih kenyang, mengingat Aku yang sejak kemarin belum makan sama sekali.
Aku menyuapi lontong yang nikmat itu secara perlahan, suapan demi suapan melayang ke dalam mulutku hingga di saat suapan terakhir ponselku berbunyi.
"Kriiinnngg kkriiiinggg*
Ternyata panggilan dari Ibuku.
"Halo nak" ucap Ibu seperti sedang menangis.
"Ada apa bu?" tanyaku heran mendengar suara Ibu yang terdengar berbeda. Aku meletakkan sendok yang merupakan suapan terakhirku namun Aku mengurungkannya.
"Kamu bisa pulang sekarang?" ucap Ibu yang membuatku semakin merasa aneh.
"Kenapa mendadak gini bu?" ucapku panik.
"Pokoknya kamu pulang aja dulu ya" balas Ibu tidak ingin menjelaskan.
Mungkin saja ini hal yang begitu penting dan jika Ibu memberi tauku takutnya di saat dalam perjalanan pikiranku tidak fokus.
"Iya bu, nanti Farel pulang" ucapku dengan nada bicara rendah.
"Assalamualaikum" ucap Ibu mengakhiri percakapan.
"Waalaikumsalam" balasku mematikan panggilan dari Ibu.
Karena perasaanku yang tidak enak, lontong yang tersisa hanya tinggal 1 suapan lagi membuatku tidak bernafsu untuk memakannya. Aku segera berdiri dari dudukku dan bergegas balik menuju kos - kosan.
"Buk, berapa lontongnya?" tanyaku kepada Ibu penjaga warung.
"5 ribu dek" ucap Ibu penjaga warung itu.
"Aku nambah kerupuk sama bakwannya 1 buk" ucapku.
"Jadinya 7 ribu dek" jelas Ibu penjaga warung dan Aku membayarnya dengan uang pas.
"Terima kasih buk" ucapku mulai meninggalkan warung itu.
__ADS_1
"Sama - sama nak" balasnya.
Bersambung...