Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Godaan di pagi hari


__ADS_3

Malam di pesisir pantai ternyata menyenangkan. Debur ombak dan terpaan angin yang terbilang kencang. Malah membuat peserta kemah nyenyak tidur.


Mimpi indah itu ternyata tidak seperti kenyataannya. Angin kencang dan deburan ombak itu ternyata membawa serta hujan yang lebat namun tak di rasa oleh semuanya.


Pagi-pagi, udara semakin dingin dan ini di rasakan sangat normal sekali bagi yang lainnya. Tapi Bima? karena dia membawa serta Dewangga, kepanikan pun muncul.


"Galuh, hujan sayang. Apa kita pindah ke dalam saja?" Bima membangunkan Galuh yang mengeloni putranya.


"Ah, tidak usah sayang. Lagian tidak akan banjir juga kalau hujannya begini saja." Jawab Galuh yang merasakan hujannya masih di batas normal.


"Kamu yakin? Nanti kalau udah terasa genangan, kita pindah ya sayang."


"Iya, ya sudah sini tidur lagi." Galuh menarik Bima untuk pindah posisi di belakangnya.


Bima pun menurut, dia pindah tidur di belakang Galuh dan memeluk erat-erat. Dewangga juga terlihat sangat nyenyak sekali tidurnya. Tidak mungkin Bima akan membangunkan hanya karena hujan.

__ADS_1


Bima memang tiduran dengan memeluk Galuh. Tapi matanya masih tidak mau terpejam, itu semua karena rasa was-was akan orang asing itu.


Lagian, dari mana Vio kenal dengan orang seperti itu? pikir Bima yang terus tak bisa mengerti nalar adik iparnya.


Selama sebulan lebih adiknya di Australia menjadi petani anggur. Selama itu pula, Bima tidak menanyakan kabar. Jika bukan Candra sendiri yang mengabari. Dan selama itu pula, Candra hanya beberapa kali mengabari keadaannya.


Bima ya Bima, dia akan terlelap dengan gampangnya saat mencium aroma parfum Galuh. Parfum yang ia racik sendiri saat berada di toko parfum langganannya di luar negeri.


Entah apa saja yang sudah ia campurkan, mungkin lupa sudah menambahkan obat bius ke dalam parfum itu.


Raya keluar tenda lebih dulu, karena dia tidak tahan lagi buat ke kamar mandi. Perutnya yang sudah memasuki bulan ke tujuh pun membuatnya lebih sering ke kamar mandi dari sebelumnya.


"Biasa, setoran. Kamu sendiri?" Tanya Raya pada istri Johannes.


"Laper, ada makanan yang bisa di makan nggak?" Shanti yang ternyata baru hamil beberapa Minggu itu mengalami ngidam yang di inginkan orang-orang. Makan banyak dan tak ada pantangan.

__ADS_1


"Ah, semalem kayak e di simpen di boks itu deh. Coba aku bukain...."


"Biar aku saja, itu perut bikin takut kalau kegencet." Kata Shanti bikin ngakak Devi yang ada di dalam tenda mendengar samar percakapan para Bumil itu.


"Kenapa tertawa?" Tanya Adnan yang merasakan perut Devi bergoyang.


"Enggak, lucu aja sama percakapan mereka. Satunya kebangun karena kebelet, satunya kebangun karena kelaparan. Emang bumil, ada-ada saja." Devi menjelaskan dengan senyuman dan tawa tipis yang membuat Adnan semakin gemas.


"Kamu mau?" Adnan mencium leher Devi dari belakang.


"Mau apa?"


"Mau isi juga di sini." Adnan mengelus perut rata istrinya dengan lembut.


Adnan sepertinya lupa kalau dia meminta jatah di sini sekarang. Dia mungkin tidak sadar kalau posisi mereka masih di pinggir pantai di halaman belakang villa bosnya dalam tenda.

__ADS_1


Bahkan Adnan mulai memasukkan tangannya ke dalam selimut milik Devi. Di sentuh tepat di titik yang membuatnya melayang, siapa yang masih bisa sadar? Yang menyentuh juga suaminya sendiri. Apa ini yang di namakan iblis dalam rumah tangga? Kerjaannya selalu menggoda saja.


Kalau tidak di turuti, takutnya berdosa nanti. Kalau di turuti, mereka hanya ada di dalam tenda. Devi harus apa?


__ADS_2