
Memindahkan lokasi kemah? Itu sungguh sangat mudah bagi Bima. Jangankan memindahkan lokasi kemah, memindahkan kantor pusat perusahaannya saja bisa Bima lakukan. Jika Galuh sudah membuka suaranya.
Tapi sayang, Galuh tidak pernah meminta hal yang di anggapnya mustahil. Dengan memindahkan lokasi kemah saja, Galuh tidak membuka mulut sama sekali. Itu semua karena Bima melihat ada kebahagiaan di mata Galuh.
Keempat pasang temannya sudah mendirikan tenda. Bima masih belum datang dari berbelanja. Sedangkan Galuh, dia tampak sangat bahagia sekali melihat tenda-tenda menghiasi halaman belakang villanya.
"Luh, laki mu itu emang kadang-kadang ye. Dia bilang view nya pantai, ini apa? lokasi emang di pesisir pantai, tapi tembok besi menjulang tinggi. Awas aja kalau pulang, langsung sunat ngepok aja." Oceh Raya yang merasa di bohongi oleh Bima.
"Yah, jangan kali Ray. Malem-malem aku pegangan apa dong." Kata Galuh sedih.
"Astaga Galuh, emang kalo malem cuma di pegangin doang? Emang sekecil tongkat? Hahahaha..." goda Johannes kala mendengarkan ocehan dua orang bersahabat ini.
"Hooh, Jo. Cuma sebesar tongkat, tongkat bisbol."
"Wow, kokoh dan membengkak begitu, Luh? Emang nggak kenyang tiap malem di kasih?" Goda istri Johanes.
__ADS_1
"Mana mungkin kenyang ini anak say, kalau pun seharian dia begitu. Lapaaaar aja terus bilangnya, si Bima-nya juga begitu. Nempel Mulu kayak perangko."
"Awas Luh, kalau sekali lepas dari pengawasan. Biasanya orang seperti itu kalo udah lepas tu suka gampang nyantol."
"Doa lu jelek banget sih Jo? Apa jangan-jangan, dirimu begitu ya kalau Sasha nggak ada?"
"Enak aja, enggak lah."
Keseruan mereka harus terhenti karena kedatangan Bima dengan membawa berbagai macam bahan makanan. Bukan hanya itu, Bima juga membeli alat untuk api unggun.
"Mana pemandangan pantai nya, Bima?" Protes Raya yang sudah mengidamkan pantai sudah lama.
Deru ombak tak lagi hanya bisa di dengar. Bahkan aroma air pantai seolah mampu mengusik hidung Raya. Pada saat ini, seandainya Fairus tidak cekatan. Pasti Raya sudah menceburkan diri ke birunya laut.
"Jangan ke sana, nanti saja bareng-bareng. Ingat, kamu sedang hamil." Fairus mengingatkan.
__ADS_1
"Astaga, bapak. Nyonya Raya cuma mau ke depan situ, apa nggak bisa biarkan main sebentar?" Adnan berkomentar. Dia cukup puas melihat kemesraan bosnya. Masa masih di tambah dengan mantan dosennya? Bisa gumoh Adnan kalau begini lama-lama.
"Ya sudah lah sayang, biarkan saja. Mereka begitu kan juga sayang istri, bukan kayak kamu. Cuek sama istri." Devi seakan mendapat kesempatan untuk menunjukkan rasa irinya.
"Tahta tertinggi itu bukan seorang King, tapi Queen. Kalian lah pemegang tahta terkuat di muka bumi ini wahai wanita. Ya aku akui itu, dan sekarang, jadikan aku budakmu." Ucapan Adnan membuat semua tertawa.
Tidak ada hal yang tidak membuat tawa bagi mereka. Galuh, orang yang merasa bahagia, dia tidak sendiri. Rupanya, Adnan dan Johanes mempelajari serta memperaktekkan apa yang Bima dan Fairus lakukan.
Dengan begitu, wanita yang menjadi istri mereka berdua termulyakan seketika. Rasanya beda, ketika kita di anggap ada hanya karena seratus seorang istri. Dengan di ratukan karena kita istri.
"Kalau saja kamu seperti ini selamanya, Adnan. Aku bisa menyerahkan hidupku seperti Galuh menyerah pada Bima." bisik Devi kala mereka sudah masuk ke dalam tenda.
"Ya, aku akan mengusahakan. Devi, maaf. Selama ini aku membuatmu lelah, capek hanya karena aku merasa itu semua kewajibanmu. Aku lupa, kalau rumah tangga ini kita jalani berdua. Aku lupa, akan ada massanya kamu mempertaruhkan hidup dan matimu demi kebahagiaan rumah tangga kita. Aku janji, akan membantu kamu, walau selelah apa pun aku bekerja. Kita hadapi semua masalah yang ada, ya."
Devi dan Adnan adalah pasangan yang tidak mendapat restu dari keluarga. Karena adat dan kepercayaan mereka yang berbeda.
__ADS_1
Devi seorang Chinese dan Adnan adalah seorang Jawa tulen. Padahal, mereka berdua ini saling mencintai satu sama lain. Tapi orang tua menganggap itu semua hanya guyonan hidup saja.
Dengan menyewa sebuah apartemen milik Bima, Adnan dan Devi memiliki kehidupan yang lebih baik saat ini. Maka dari itu, apa pun yang Bima inginkan. Selama itu masih di batas kewajaran, Adnan bisa mengikutinya.