Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Curiga


__ADS_3

Galuh sedang sendirian di rumah, Bima tengah bekerja sepulang dari kuliah. Mengantar Galuh, mampir sebentar untuk ganti baju formal lanjut ke kantor.


Bima benar-benar dalam keadaan yang tidak memiliki waktu untuk Galuh. Hal ini terjadi hampir satu bulan. Selama itu pula, Galuh tidak pernah mendapati senyum manis Bima.


Suaminya selalu dalam mode tegang dan serius, membuat Galuh capek sendiri. Tidak ada pilihan lain bagi Galuh, selain kembali mengelola cafe yang di tinggalkan oleh orang tuanya.


"Dek, kok Lo udah malem gak balik sih? Tumben Bima gak ngomel?" terakhir kali ketemu kakaknya, Galuh malah di omeli karena pulang lebih dari jam delapan malam.


"Aku pulang." lamunan Galuh di buyarkan oleh suara Bima yang baru pulang.


"Bim," Galuh langsung memeluk Bima dalam gelapnya malam.


Galuh sengaja menunggu Bima di ruang tamu tanpa penerangan. Takut sih, tapi dia tidak mau ada yang melihatnya menangis.


"Ini sudah malam, sayang. Kenapa belum tidur?"


"Aku rindu. Masih lembur-lembur besok?" tanya Galuh pelan.

__ADS_1


"Masih, kamu kenapa? Maaf, kamu bosen ya? Mau ikut ke kantor?" dengan lembut Bima berucap.


Bima paham apa yang di rasakan Galuh, ini adalah bulan-bulan paling sibuk bagi Bima. Tapi istrinya juga butuh waktu dengan dirinya.


"Aku masakin makanan kesukaan mu, mau? Aku temani kamu makan." kata Bima.


Galuh tidak menjawab, dia diam saja dan hanya napas yang panas di rasakan Bima.


"Kamu sakit?" napas Galuh panas, apa istrinya ini demam?


Bima langsung menggendong Galuh ke kamar. Galuh sudah pingsan, rupanya. Bagaimana bisa Bima kecolongan seperti ini? ini semua karena pekerjaan yang mengikat tangan dan kaki Bima.


"Bangun dong sayang, maafin aku. Semua aku lakukan demi masa depan kita, aku gak akan biarkan kamu merasa sengsara. Tapi aku juga tidak tega melihatmu begini. Bangun Galuh."


Bima adalah satu-satunya lelaki yang dengan sangat mudah mengeluarkan air mata untuk Galuh. Padahal Bima sama sekali bukan orang yang cengeng.


Bahkan, lelaki itu sangat tanggung jika di depan masyarakat atau anak buahnya.

__ADS_1


Bima akan menjadi pribadi lain saat bersama dengan Galuh. Lelaki dingin dan terbilang kejam itu, selalu hangat pada Galuh. Tunduk tanpa alasan.


Bima tidak tidur semalaman, padahal dia ada kuliah pagi esok harinya. Meeting di sana sini pada siang sampai sore hari. Dan malam akan menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaan asing.


Galuh sadar ketika mama mertua nya datang. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan imut itu datang setelah menerima pesan dari Bima. Beliau sangat menyayangi Galuh, karena gadis itu menerima Bima bukan karena harta dan kedudukannya.


"Mama, perut Galuh kembung dari semalam." adu Galuh.


"Kenapa tidak bilang Bima? Mama bisa merawat mu sayang." kata Ibu Bima dengan lembut membelai rambut Galuh.


"Galuh kangen terus sama Bima, Ma. Tapi dia sibuk sekali," rengek Galuh mengadu.


"Samperin ke kantornya sayang, Mama di kantor juga kok. Kalau kamu merasa tidak ada teman, perusahaan lagi genting soalnya."


Mendengar apa yang di katakan ibu mertuanya, Galuh sedikit tenang. biar bagaimana pun, Bima sudah jujur padanya.


tidak seperti yang ada di pikirannya. Bima bemain serong dengan seorang wanita, atau dia sudah tidak mencintai dirinya.

__ADS_1


__ADS_2