Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kenyataan baru


__ADS_3

Hari kedua tanpa Bima di rasa Galuh sangat melelahkan. Dewangga yang sudah merangkak, tak bisa di tinggal main sendiri seperti sebelumnya. Galuh kualahan menjaga Dewangga sendirian.


Awalnya Bima mengajak Dewangga ke cafe. Namun, setelah merasakan kembali tingkah putranya. Galuh mengajak pulang lagi.


"Begini melelahkannya, kenapa mama malah enggak mau pakai baby sitter? Astaga, sepertinya memang aku sudah sangat merepotkan mama." gerutu Galuh selama perjalanan pulang ke rumah.


Hari ini Galuh menggunakan mobil baru Bima ke cafe. Itu semua karena tak ingin Dewangga kesusahan selama di jalan.


"Dek, nanti main di arena bermain itu saja ya. Mama kerja, jangan cerewet sayang ya." Ucap Galuh pada putranya yang entah mengerti atau tidak dengan apa yang dia katakan.


Selama perjalanan, Bima terus saja memantau istrinya melalui video call. Biar bagaimana pun, Bima tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti waktu itu. Galuh sampai mengidap depresi ringan.


"Sayang, kalau kamu lelah. Serahkan pada Devi saja." Kata Bima tak tega melihat kesibukan istrinya.


"Aku bisa, sayang. Kamu jangan terlalu khawatir, istrimu ini kan super mom." Bima merasa sedikit lega di tengah kekhawatirannya.


"Iya sayang, kamu super mom yang aku miliki. Oh iya, aku mau survei lahan dulu. Sama nanti langsung inspeksi ke pabrik. Kalau memungkinkan, besok pagi aku sudah balik ke Jakarta." ucap Bima sebelum mengakhiri telepon nya.


Dengan terputusnya sambungan telepon mereka. Itu artinya Galuh harus kembali ke dunia hampanya. Bima pasti tak akan menghubungi dirinya sebelum semuanya selesai. Di akui Galuh, Bima cukup baik dengan masih menemaninya sepagian ini.

__ADS_1


Tapi, dengan mengorbankan dirinya. Galuh merasa sedikit khawatir pada kesehatan suaminya.


Mendengar kata besok akan pulang, Galuh merasa bahagia. Dirinya yang lelah dengan pekerjaan dan mengurus Dewangga secara bersamaan. Pasti akan berakhir ketika Bima sudah kembali.


Sesampainya di rumah, Galuh langsung membawa putranya masuk. Di dalam sudah ada Vio duduk di sofa ruang tengah rumah Galuh.


Rasa tak suka Galuh masih tersisa di dalam hatinya. Tapi keberadaan ibu mertua di antara mereka, tak mungkin Galuh mengusir adik iparnya.


"Mama sudah dari tadi?" tanya Galuh.


"Baru saja, nak Galuh. Mama mau ngomong sesuatu yang penting. Tapi, tolong jangan mikir negatif ya, nak." Rosmia terdengar sangat hati-hati untuk mengatakan apa yang akan ia katakan selanjutnya.


".... Nak Galuh, Dewangga kan sudah besar. Dan kamu juga tidak terlalu sibuk...."


"Langsung saja Ma, jangan basa basi, kaya ke siapa saja." Kata Galuh yang sepertinya tau kemana arah pembicaraan Mama mertuanya.


".... Vio tengah hamil muda, nak. Dan Candra juga sangat sibuk di kantor. Maunya mama yang menemani di rumah, dan enggak mungkin kalau sambil jaga Dewangga. Jadi, mama...."


"Oalah, iya Ma. Enggak apa-apa, aku juga longgar. Bima besok juga sudah pulang." Kata Galuh yang sudah membesarkan hatinya untuk bergantian dengan Vio sebagai adik ipar.

__ADS_1


"Pulang? Bukankah besok sudah mulai membangun pabrik baru dan perusahaan di Kendari? Kok bisa cepet-cepet pulang? Apa yang Bima pikir, sih!"


Bak tersambar petir, ucapan ibu mertuanya ini seperti orang yang berbeda. Galuh kaget dengan kenyataan yang di sampaikan oleh ibu mertuanya. Dan kenapa Bima mengatakan dia akan pulang, tadi?


"Oh, berapa lama, Ma?" tanya Galuh pelan-pelan.


"Ya, bangun perusahaan dan pabrik kan enggak sebentar. Lagian ini kan perusahaan yang akan di berikan pada Bima nanti. Jadi, dia sendiri yang harus mengawasi semua dari awal." Kata Rosmia seperti sudah membagi seluruh hartanya untuk putra-putrinya.


"Untuk Bima? Terus yang di sini?"


"Yang di sini untuk Candra dan yang di Kalimantan punya Nanda. Memangnya Bima nggak ada bilang?" Rosmia masih seperti orang lain saat ini di depan Galuh.


Perusahaan yang di besarkan oleh Bima di berikan pada Candra? Benar-benar sudah di bagi. Lantas, kemana ibu mertua yang selama ini baik padanya?


"Oh begitu. Oh iya ma, sepertinya Galuh juga akan ikut sama Bima. Jadi mama jangan enggak enak begitu sama Galuh." Galuh masih berusaha untuk tak mempedulikan dengan perubahan sikap ibu mertuanya.


"Aku enak-enak saja, ya sudah mama pulang ya. Kasihan Vio kalau terlalu lelah." Gadis di samping ibu mertuanya itu terlihat lebih anggun dan penurut. Jelas berbanding terbalik dengan Galuh yang suka membantah.


"Iya ma."

__ADS_1


Vio melihat ke arah Galuh, Galuh yang juga menoleh ke arah mereka pun melihat sebuah senyum kemenangan. Apa maksudnya ini? Apa Vio masih belum berubah? memang dasar licik.


__ADS_2