
Semakin hari Dewangga semakin pintar. Usia bayi yang baru menginjak delapan bulan, sudah belajar berdiri. Galuh selaku ibu yang dua puluh empat jam bersama, merasa sedikit kuwalahan.
"Dewangga, nenek sama kakek datang." Teriak suara wanita yang selalu di rindukan oleh Galuh, Maya.
Galuh yang berada di kamar pun segera berlari membawa Dewangga. Galuh yang baru memandikan putranya pun tak memakaikan baju lebih dulu.
Ini karena dia sangat bahagia atas kedatangan kakak dan kedua orang tuanya.
"Astaga, Galuh. Hati-hati, nak." Ibu Galuh langsung mengambil cucunya yang masih mengenakan handuk.
"Mama sudah sarapan? Tadi Bima kayaknya sudah masak sebelum berangkat kerja. Ayo sarapan dulu." Galuh tak sabar menunjukkan masakan suaminya pada orang tuanya.
Melihat beragam makanan sehat di meja makan, Prayan selaku ayah dari Galuh pun merasa puas. "Nggak salah kamu pilih suami, benar-benar di manjakan, kamu nak." Prayan membelai rambut putrinya.
__ADS_1
"Siapa dulu yang cari suami, sudah ayo makan dulu. Mbak, tolong di gantiin bajunya Dewangga." Galuh memberikan sang putra pada pembantu rumah tangganya.
Galuh menemani kedua orangtuanya dan kakaknya makan. Sarapan pagi ini memang di siapkan lebih oleh Bima. Karena Maya sudah bilang pada adik iparnya, malam sebelumnya.
Galuh terlihat begitu lahap, Prayan dan istri terlihat sangat bahagia. Bagaimana tidak, putri-putrinya mendapatkan suami yang begitu menyayanginya. Inilah puncak kebahagiaan seorang ibu dan bapak.
Bermain, bercerita saling meninggikan pasangan dan bertukar kabar buruk yang di lalui. Itulah yang di lakukan keluarga tanpa suami-suami. Galuh merasa menjadi seorang anak bungsu kembali. Di tambah dengan Maya yang memang menyayanginya, lengkap sudah keinginan Galuh.
Malah sudah mulai menjelang, Galuh tidur bersama dengan Dewangga di tengah-tengah keluarganya. Bima dan Arief tak ingin membangunkan semuanya.
"Dulu, aku pikir kamu itu anak begajulan yang cuma bisa buat onar saja. Nggak taunya, kamu malah lebih sukses dari aku." Arief mengenang masa lalu.
Bima tersenyum dia pun kembali bernostalgia ke masa di mana dia masih SMA. "Ya, bisa di katakan begitu, dulu. Tapi semua ini berkat kepercayaan Galuh juga kak."
__ADS_1
"Sempat kaget aku, pas Galuh bilang minta nikah sama kamu. Apalagi dia baru sekali putus dari Jovan."
"Ya, masa-masa itu sangat sulit bagiku. Galuh terus berhubungan dengan Jovan. Mataku terbuka tapi harus pura-pura buta. Sebenarnya saat itu bukan masa terkelam mencintai Galuh. Karena setidaknya aku sudah menikahinya. Sangat berbeda dengan masih sekolah. Aku mencintainya namun harus ingat dia milik orang." Kenang Bima saat mencintai Galuh bertepuk sebelah tangan.
"Jadi, kamu sudah lama sekali mencintai Galuh?"
"Jelas, dia orang pertama dan satu-satunya yang menerimaku juga merawatku saat pengasingan ku."
Bima menceritakan kembali betapa dia tersiksa saat itu. Walau dia tersiksa akan perasaannya, Bima tidak bisa mengatakannya. Lebih parahnya, Bima harus tersenyum saat Galuh bercerita tentang Jovan.
Galuh mendengarkan samar-samar, tapi dia tidak ingin membuka matanya. Walau begitu, mata dia tetap berair mendengar cerita cinta Bima padanya. Sungguh sangat bodoh sekali Galuh yang tidak peka dengan keadaan.
Jika di ingat lagi, Bima hanya akan menurut pada kata-katanya. Bima juga hanya akan berada di sisinya, mau dia salah atau benar. Galuh pun kembali mengingat saat dia di hukum oleh Arief.
__ADS_1
Saat itu dia tidak mengenakan baju olah raga karena tertinggal. Dia di hukum untuk hormat pada tiang bendera hingga jam istirahat pertama. Bima, yang awalnya memimpin pemanasan, dia kembali memakai seragam dan hormat pada tiang bendera bersamanya.
Tangan besar nan lembut memeluk satu persatu pada Galuh. Ternyata bukan cuma Galuh yang mendengar cerita Bima, tapi keluarganya juga mendengarkan.