
Malam acara ulang tahun perusahaan telah tiba. Dewangga dan Utari jelas datang dalam acara yang tidak pernah mereka hadiri sebelumnya.
Itu bukan karena Bima tak membawanya, tapi kedua anak ini sungguh susah jika di ajak. Namun hari ini, mereka berdua tidak bisa untuk tidak datang.
Mengenakan gaun formal dan juga jas dan dasi. Dewangga dan Utari tidak terlihat seperti masih anak sekolah.
"Gantengnya anak Mama, cium sini." Galuh yang terus menganggap Dewangga anak kecil pun tak sungkan mencium pipi putra sematawayangnya.
"Malu Ma, ini banyak orang." kata Dewangga malu namun tetap tidak menghindar ketika bibir lembut milik ibunya itu mendarat di pipi dan keningnya.
Pemandangan yang sungguh indah di mata Lidya saat ini. "Aduh, calon mertua dan calon suami. Merasa tidak sia-sia aku datang lebih awal." katanya kegirangan.
__ADS_1
Tamu masih belum banyak datang, karena acara hari ini terbilang sangat besar dari pada acara-acara sebelumnya. Karena acara hari ini, tanpa di ketahui banyak orang adalah untuk pengumuman ahli waris.
Satu-persatu tamu mulai datang. Dari karyawan perusahaan sampai para investor undangan. tidak hanya itu, Fairus dan Narendra, selaku orang tua Utari serta ayah mertua Dewangga. Hadir dalam acara besar ini.
"Baik, bapak-bapak ibu-ibu serta rekan-rekan semua. Acara kali ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebab, di acara ulang tahun perusahaan kali ini. Saya, selaku CEO perusahaan, Bima Fedrik. Memperkenalkan putra semata wayang saya, sebagai asisten CEO yang baru. Dia adalah Dewangga Fedrik. Silakan untuk maju, putraku." Bima memberi ruang pada Dewangga.
Sosok yang begitu gagah dan juga tak kalah berkharisma. Dewangga jika berdiri bersama dengan papanya, mereka bak pinang di belah dua.
"Lidya, kamu sudah tau ini?" tanya teman yang bernama Lion.
"Gila. Halu mu itu mengerikan." ujar Lion bergidik ngeri mendengar rencana rekan kerjanya.
__ADS_1
Lidya tidak peduli itu, hingga pidato Dewangga yang menyebut istri pada Utari. Hatinya bagai terbanting dan kepalanya tersambar petir.
"... Tidak ada kata yang lebih dari terima kasih pada Papa, Mama dan juga istriku, Utari. Kalian semua selalu menjadi penyemangat ku dan juga guru dalam kehidupanku." pidato inilah yang membuat Lidya tercengang.
"Sayang, suamimu sudah bekerja. Jangan rewel dan jadilah gadis manis dan baik di rumah menanti suamimu ini." Kata manis tak tau malu itu di ucap oleh seorang Dewangga?
Jelas itu membuat riuh aula. Bertepuk tangan karena mereka berdua tampak manis karena malu-malu. Juga, salut akan keberanian Dewangga mengutarakan rasa cintanya pada sang istri.
Di salah satu titik, ada seorang Lidya yang tercengang. Dia tidak bisa berkomentar apa-apa, selain membeku. Dia bahkan melihat senyum Lion seperti mengejeknya. Ini hinaan baginya.
"Kenapa kamu tidak mencari tau juga, status apa yang di sandang oleh pewaris tunggal itu. Calon Bu bos yang nggak jadi? Hahahahaha masih halu saja sudah tertampar kenyataan." ejek Lion saat mengetahui rekan kerjanya ini sudah tidak bisa lagi mengejar impiannya menjadi orang kaya dadakan.
__ADS_1
Mimpi jadi Cinderella? Tapi sayangnya dia tak secantik Lily James. Walau Lidya dan Utari sama-sama pribumi. Jelas, Utari jauh lebih cantik dan fresh di banding dengannya. Seorang gadis dengan umur dua puluhan yang sudah memiliki beban hidup yang begitu luar biasa.
Sedangkan Utari, anak belasan tahun yang di besarkan bak seorang princess. Perbandingan yang luar biasa kentara.