
Malam hari bagi kebanyakan orang adalah pengakhir hari. Tapi bagi Bima, malam adalah godaan jiwa, otak dan nafsunya. Bagaimana tida? Pada saat malam, jiwa pemangsa Bima seolah di bangkitkan oleh Galuh.
Mangsa yang seakan lengah ini, seperti menunjukkan dirinya siap di mangsa. Lihatlah dia, baju tidur tipis dengan dada terbuka lebar. Garong mana yang akan tahan melihatnya? Melihat guncangan dua dunia itu. Aduh, Bima tak bisa tidur dan hanya melihat itu saja.
"Galuh, kapan berakhirnya masa nifas kamu, sih?" tanya Bima berbisik.
Galuh yang semula menutup matanya, kini dia langsung membuka matanya. Galuh menelisik ke dalam tatapan Bima yang sayu. Dia tidak mengantuk, tapi dia....
"Maafkan aku membawa kabar buruk untukmu. Karena mama bilang, masa nifas itu selama empat puluh hari." jawab Galuh dengan ekspresi sedih.
"Aaarrrtgggg, kenapa lama banget sih? Mana sekarang masih seminggu. Itu artinya kurang tiga puluh hari lebih. Galuh, apa tidak bisa di percepat?"
Galuh mendengar rengekan Bima menjadi geli sendiri. Dia ingat dulu, bahkan selama berbulan-bulan Bima sama sekali tidak pernah menyentuhnya.
__ADS_1
"Bim, apa adikmu itu sudah tidak tahan? Astaga, aku begini juga karena adikmu yang sembarangan muntah. Terus, aku pula yang kau salahkan?"
"Tidak sayang, aku tidak menyalahkan kamu. Ok, aku akan tahan adikku. Tapi, aku tidur di kamar sebelah saja ya. Ini demi kebaikan kita." Bima pun pergi dari kamar pernikahan mereka.
Menurut Bima, ini adalah pilihan yang tepat. Tapi tidak untuk Galuh.
Karena, tepat satu jam setelah perpindahan Bima ke kamar lain. Dewangga mulai menangis, Galuh sebagai orang tua tunggal yang ada di kamar itu pun berusaha untuk yang terbaik untuk putranya.
Badannya panas, bayi kecil itu menangis sekuat dia. Galuh, dia hanya tau kalau bayi menangis itu artinya dia lapar kalau bukan tidak nyaman.
Galuh mulai panik, dia ikut menangis. Galuh setres sendiri, dia bahkan membawa anaknya ke kamar mandi demi tidak mengganggu penghuni rumah yang lain.
Galuh membawa bayi kecil bersuhu badan sangat panas itu masuk ke dalam bathtub yang berisi air hangat hampir penuh. Galuh panik, dia tidak tau apa-apa soal bayi.
__ADS_1
Selama tiga jam bayi itu tetap menangis saat di ajak naik dari air hangat itu. Galuh setidaknya masih memiliki pemikiran untuk mengangkat putranya saat setelah sekian lama.
Bima tepat jam setengah empat subuh, terbangun. Dia merasa sangat haus sekali, pada saat ini lah Bima mendengar tangisan sang bayi begitu kencang.
"Astaga, Galuh. Kenapa bisa basah kuyup begini?" Bima langsung mengambil putranya sedikit kasar dari istrinya.
Bima tidak melihat tangisan istrinya, dia hanya mendengar putranya. Galuh bingung, dia merasa tidak aman saat ini. Dia merasa di hakimi karena tidak tau menjaga putranya.
Galuh membiarkan suaminya mengurus sang putra. Dengan beberapa kata yang terngiang di kepala Galuh dari Bima.
"Apa kamu seorang ibu? Bahkan anak demam, kamu ajak basah-basahan seperti ini? Apa kamu tidak tau, hal ini bisa membahayakan bayi?"
Pikiran Galuh kalut, dia menangis, dia terisak menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa tak pantas menjadi seorang ibu. Dia bukan ibu, tapi iblis untuk putranya.
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Bima, Galuh masuk ke dalam kamar mandi. Dia kembali melakukan hal bodoh, paling bodoh yang pernah ia lakukan.
Galuh kembali membenamkan dirinya dalam bathtub dengan air yang memenuhi bak mandi itu.