Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kenapa muncul lagi?


__ADS_3

Sebulan rupanya waktu yang sangat singkat. Di tambah dengan kehadiran Bima yang seratus persen bersama Galuh. Dewangga tumbuh menjadi balita lucu yang sangat aktif.


Suasana pegunungan memang cukup baik untuk pertumbuhan anak dan memperbaiki mental yang sakit. Galuh, dia masih tak ingin meninggalkan rumah barunya di lereng pegunungan Alpen ini.


Halaman hijau yang luas, pemandangan siang dan malam yang sangat di sukai oleh Galuh. bahkan, Dewangga juga menikmati belajar berjalannya di hamparan rumput hijau pelataran depan rumahnya.


"Galuh, besok aku pulang ke Indonesia. Kamu mau ikut apa tetap tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Bima dalam malam gelapnya.


"Bim, mau ke lubang semut pun. Kalau bersama kamu, aku ikut. Jadi, jangan pernah berpikir aku akan tinggal, walau aku menyukai tempat ini. Yang membuat tempat ini indah dan aku sukai itu karena ada kamu, bukan yang lain."


Galuh sudah semakin dewasa, dia juga semakin bergantung pada Bima. Sebulan ini, Galuh tak pernah lepas walau hanya sedetik pun dengan Bima. Itulah yang membuat Galuh lebih cepat merasa tenang dari pada hari pertama dia datang.


Galuh awal datang ke rumah ini masih sering menangis. Emosinya juga naik turun, bahkan Bima saja tak bisa mendekati Galuh sesuka hatinya.


Galuh seperti menyalahkan dirinya sendiri, dia juga tak ingin di sentuh oleh Bima. Namun, itu hanya semingguan saja. Karena Bima yang dengan sabar dan telaten, membuat Galuh kembali kuat.

__ADS_1


"Galuh, apa kamu mau pindah dari rumah itu? Aku punya villa di tepi pantai, mungkin kamu perlu memperbaiki suasana hatimu dulu."


Villa tepi pantai, itu cukup baik menurut Galuh. Dari pada rumahnya yang menyimpan kenangan akan kehamilan tak terdeteksi itu. Tapi, kembali lagi, bukankah Galuh hamil tak satu pun orang yang tau? termasuk dirinya sendiri?


"Boleh, tapi nanti kalau kamu liburan saja. Kita sudah lama pergi dari rumah, sayang. Biar bagaimana pun, rumah itu adalah tempat kita pulang. Jangan menghindari masalah, lah." Galuh merapatkan pelukannya.


"Ya sudah, ayo tidur. Besok kita berangkat sore hari saja, biar kamu bisa istirahat lebih lama."


Keduanya pun langsung tidur.


Galuh tau jika suaminya tengah meeting. Tapi dia tidak tau dengan siapa suaminya meeting. Galuh duduk di samping Bima, dia membuka-buka file yang ada di samping laptop.


"Jovan Arbi? kenapa ada berkas ini?" Tanya Galuh menunjukkan satu berkas pada Bima.


"Maaf, ada hubungan apa anda dengan Jovan Arbi? Katakan dengan jujur." Bima sedikit emosi, padahal sebelumnya dia masih terlihat sopan dan menunjukkan senyumnya.

__ADS_1


"Ah, Jovan? Dia sepupu saya, dia yang akan menjalankan proyek pengembangan tambang berlian ini. Memangnya ada masalah apa?" Tanya orang itu yang ternyata juga kenal dengan Galuh.


"Sultan?"


"Galuh?"


Keduanya merasa kaget, mereka tidak menyangka akan di pertemukan kembali dengan sosok sultan. Orang yang dulunya pernah di bantu Galuh mencari kepercayaan Jovan.


"Bim, apa proyek ini sangat penting?"


"Tidak penting sama sekali. Aku bisa menanggung kerugiannya. Apa kamu tidak ingin aku bekerja sama dengan bapak Sultan?" Pertanyaan Bima membuat orang yang ada di sebrang merasa kaget dan kecewa.


"Aku tidak tau kerja sama apa yang kalian bangun. Cuma, tolong jangan pertemukan Bima dengan Jovan. Aku tidak suka."


Sultan mendengar, jika Bima sangat tunduk pada istrinya. Tapi, dia tidak menyangka, jika istrinya ini adalah Galuh. Orang yang pernah menjalin kasih dengan sepupunya.

__ADS_1


"Ya, aku tidak akan memberikan proyek ini pada Jovan. Aku sendiri yang akan turun tangan."


__ADS_2