
Jam pelajaran sudah berakhir di jam setengah dua belas. Jam pulang sekolah maju setengah jam. Dan itu yang membuat maju adalah Dewangga.
Kelas Utari keluar lebih lamban beberapa menit dari kelas Dewangga. Dengan sabarnya, lelaki tinggi itu menunggu Utari di depan kelas.
"Ih, so sweet banget sih kalian berdua. Saling tunggu." Tata berkomentar.
Utari tidak menjawab, dia malah malu sendiri dengan celotehan seperti itu. Memang anak muda yang tidak pernah pacaran. Eh langsung nikah, ya begini jadinya. Suka malu-malu.
Sampai di rumah, jam masih sekitar jam dua belas kurang. Dewangga merasa malas sekali ke kantor. Walau hari ini kerjaan dia ada yang sangat mendesak.
Utari melihat hal itu, karena dewangga baru datang langsung duduk di ruang tamu. Lebih tepatnya, bermalas-malasan.
"Kakak, capek? Mau di pijitin?" Utari langsung duduk di pangkuan sang suami yang memejamkan mata sejenak.
Dewangga tersenyum melihat Utari yang berinisiatif seperti ini. Padahal, semalam dia menolak secara halus.
"Kak..." Utari mencium leher yang terlihat menggoda baginya.
"Jangan menggoda, kalau tidak mau. Kakak sudah menahan sekali." Suara Dewangga sudah terdengar parau sekali.
__ADS_1
Bagaimana tidak? Dewangga sudah berusaha untuk menahan sejak semalam. Tapi malah mendapat godaan dari si usil ini.
"Kapan Utari menolak?" Sanggahnya seperti tidak berdosa, dia bangkit dari duduknya.
"Sial, kenapa bangun?" Dewangga merasa kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Utari.
"Kakak ngomel sih, Utari jadi tidak kepingin lagi." Utari santai melenggang pergi begitu saja.
Dewangga tidak bisa di abaikan begitu. Setelah melempar tasnya ke segala arah, Dewangga langsung berjalan cepat menghampiri Utari. Dengan sekali ayun, Dewangga menggendong Utari seperti dia anak kecil.
"Aaa.... kakak, lepasin Utari...." teriak Utari yang kaget dengan apa yang di lakukan oleh Dewangga.
"Jangan harap," Senyum Dewangga sungguh manis. Dia terlihat jauh lebih tampan dan keren sekali saat ini.
Dewangga melempar Utari ke tempat tidur. Dewangga langsung mengunci pintu sebelum dia membuka kancing bajunya satu persatu.
"Biar Utari bantuin, kak." Senyum Utari ikut mengembang.
"Tidak punya takut sekali kamu." Dewangga mempersilakan melakukan apa saja yang dia inginkan.
__ADS_1
"Kakak nggak mau?"
"Mau, mana mungkin aku menolak."
Siang-siang bercinta, ini mungkin terdengar sangat tidak wajar. Karena siang hari itu normalnya seorang suami, masih bekerja. Kalau masih sekolah, wajarnya juga belum menikah.
Tapi Utari dan Dewangga sudah sah suami istri. Walau mereka masih sekolah kelas sepuluh dan kelas sebelas.
Bima di kantor terus menunggu kedatangan sang putra. Dia menunggu karena hari ini adalah hari terakhir persiapan acara nanti malam.
"Bener-bener anak edan, kemana sih dia? Sudah jam setengah tiga, masih belum datang juga." Gerutu Bima yang merasa jengkel akan kelakuan anaknya.
"Sayang, mungkin Dewangga kecapean, jadi dia ketiduran. Lagian ini sudah selesai, bukan? Sudahlah, nanti pulang kita mampir rumah anak-anak saja." ucap Galuh meredakan emosi suaminya.
"Iya sayang, tapi kan nanti malam debut dia sebagai wakil CEO. Dia harus lebih siap untuk malam ini. Bukan males-malesan seperti ini." Bima benar-benar di buat jengkel oleh putranya sendiri.
"Sudah-sudah, ayo kita pulang saja." Kata Galuh menggeret suaminya untuk segera pulang.
"Nanti mampir ke rumah anak-anak dulu, kan?"
__ADS_1
"Iya, kenapa memangnya?"
"Beli es krim dulu buat Utari." Bukan hanya Bima, Galuh pun selalu mengingat keinginan sang putri sekaligus menantunya.