
Sesuai dengan apa yang di katakan Bima semalam. Lelaki itu sudah masak banyak untuk istri dan orang tuanya. Galuh menemani Bima yang tengah asik dengan sayur dan bumbu, sedangkan Galuh dengan manjanya memeluk suaminya dari belakang.
"Kamu gak capek ngikutin aku gerak terus?" tanya Bima khawatir.
"Enggak, kenapa memangnya? Kamu risih?" Galuh memicingkan matanya.
"Tidak sama sekali. Tapi kamu akan capek." Bima mengangkat istri kecilnya itu ke atas meja dan mendudukkannya tak jauh dari tempatnya memotong sayur.
"Tapi aku mau kamu," Galuh merentangkan tangannya meminta di peluk.
Bima datang dan menyambut pelukan itu dengan senang hati. "Gak usah masak, gak usah sarapan. Ayo mandi, kita akan telat kalau gak cepet-cepet." Bima membawa Galuh dalam pelukannya menaiki tangg menuju kamarnya.
"Mandiin." ucap manja Galuh.
"Manja sekali sih kamu. Ya sudah nanti aku mandiin." Meski begitu, Bima tetap mau memandikan Galuh yang manja.
Setelah selesai, keduanya langsung berangkat ke kampus. Dengan alasan ada janji bertemu investor, Bima tidak sepenuhnya berbohong. Galuh menjadi sangat patuh pada Bima belakangan. Karena dia tidak berharap untuk di kecewakan oleh suaminya.
__ADS_1
Jam mata kuliah terakhir baru saja rampung, tapi Galuh masih enggan untuk beranjak dari kursinya. Galuh menatap foto yang kini menjadi layar wallpapernya. Sungguh manis senyum Bima.
Rosaline datang dengan membawa senyum yang tidak bisa di artikan maksudnya oleh Galuh. Gadis itu datang ke kelas Galuh, seakan tak takut dengan apa yang akan Galuh lakukan. "Kau tahu Bima di mana?"
Bukan gak tau, tapi Galuh malas meladeni orang macam Rosaline. Dia dan Bella itu sebelas dua belas, suka cari gara-gara dalam kebahagiaan Galuh. "Jangan mengaku ceweknya kalau lo gak tau dia di mana sekarang."
Rosaline masih berusaha membakar Galuh. "Gue ceweknya, kalau gue sudah jadi Nyonya Bima. Nanti gue kabari." Benar, Galuh masih di akui sebagai kekasih buka istri.
Raya datang bersama dengan Teman lainnya, saat itu dia habis membantu dosennya membawa prakarya ke ruang dosen.
"Kenapa?" tanya Raya.
"Bima keren, ya? Sampek punya penggemar." celoteh Raya yang tiba-tiba mematung setelah mendengar deheman dari belakang.
"Ehem."
"Lah, sekarang jam nya bapak?" tanya Galuh polos.
__ADS_1
"Bukan, sekarang sudah jam pulang. Saya mau mengajak istri saya pulang bersama tentunya. Mau mengajari dia bagaimana menjadi istri yang baik." Fairus mengabaikan siswa-siswa yang bengong sambil menerka-nerka 'siapa wanita yang menjadi istri guru ganteng itu?'.
"Haih, baru aku mau mengajak Galuh keluar jalan-jalan. Sudah sana pulang duluan, nanti aku nyusul." Jawaban Raya membuat Raya, orang yang juga terpesona akan ketampanan Fairus pun memandang tak percaya.
"Kenapa orang ganteng itu malah suka orang koyol seperti mereka sih?" Rosaline bingung.
"Karena hidup juga butuh hiburan. Selain cantik, kedua orang ini bisa membawa kebahagiaan." Fairus menjawab untuk Raya, tapi yang baper satu kelas yang mendengarkan.
"Aduh aku baper."
"Benar kata orang, dosen killer itu bisa tunduk sama orang konyol."
"Gak nyangka sama pesona kedua orang itu lah."
begitulah kata yang di dengar dari mahasiswa yang ada di kelas. Selain itu, mereka juga tidak mengabaikan kata-kata yang sungguh merusak pendengaran karena rasa irinya.
Bukan Raya namanya kalau dia tidak bisa membalikkan keadaan. Raya memamerkan kemesraannya bersama Fairus. Keluar dari kelas dengan bergandengan tangan.
__ADS_1
Senyum Fairus yang pelit itu ternyata sangat loyal di depan Raya. Guru itu memamerkan gigi gingsul dan lesung pipinya saat tersenyum, sungguh melelehkan hati penikmatnya.
Galuh ikut keluar bersama dengan Raya dan Fairus dan menjadi pusat perhatian. Bak seorang ratu sejagat yang di jaga oleh dua orang yang terkenal pula. Galuh tersenyum lebar dan tangannya melambai-lambai seakan ia bertemu dengan penggemarnya. Bahkan sesekali Galuh juga melayangkan flyingkiss nya