Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Belajar Biologi


__ADS_3

Galuh dan Bima sudah bangun dan berniat untuk bersantai di ruang televisi. Menghabiskan hari libur mereka yang hanya sisa seperempat hari.


Menonton televisi dengan menyandakan kepala di dada gempal Bima, adalah kesukaan Galuh. Tanpa di sadari Raya sudah duduk di sofa terpisah di samping pasutri yang tengah di mabuk cinta itu.


Fairus hanya melihat kelakuan tiga mahasiswanya tengah asik menonton kartoon tanpa saling menyadari adanya tamu tidak di undang.


"Ehem!"


Deheman pertama Fairus tidak bisa mengalihkan pandangan ketiganya dari layar datar di depan.


"Uhuk-uhuk."


Kali ini Fairus mencoba metode baru, tetap saja ketiganya tidak ada respon. Sampai akhirnya Fairus kesal sendiri dan langsung duduk di samping Raya.


"Bapak!" Kaget Bima yang langsung merapikan duduknya.


"Kalian itu ceroboh. Apa tidak takut kemalingan? Pintu di buka lebar, orangnya di panggil gak ada yang nyahut. Itu lihat orang sudah ngambil cemilan kalian sampek di panggu gitu toplesnya!" ucap Fairus geram karena di acuhkan sedari tadi.

__ADS_1


"Maaf pak." Bima tetaplah Bima, dia selalu meminta maaf pada yang lebih tua. Tidak peduli dia salah atau benar.


"Pak, kenapa Raya masem gitu?" tanya Galuh penasaran.


"Kurang jatah." Fairus mengatakan hal yang sebenarnya. Tetapi Galuh dan Bima mengartikan lain.


"Jangan pikir macem-macem kalian! Gue cuma minta di beliin cilok aja gak di kasih. Katanya ngasih jatah jajan juga, gak taunya bohong." Raya seakan bisa membaca pikiran dua sahabatnya dan langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi kamu sudah makan terlalu banyak seharian ini. Alu takut kamu sakit perut," itu adalah alasan yang sedari tadi di tahan oleh Fairus.


Lelaki itu terlalu gengsi mengungkap rasa khawatirnya pada istri dadakannya. Dia lelaki berumur yang kaku, sesangkan Raya gadis konyol yang mungkin tak memiliki rasa malu di depannya.


Wajah merah Fairus tidak bisa di tahan lagi kali ini. Bukan karena marah pada mahasiswanya yang konyol. Tetapi karena godaan istri yang masih belum pernah ia sentuh sama sekali.


Bahkan mereka pun masih belum berani untuk ciuman. Memang pasangan yang aneh. Satu sudah dewasa dan satu masih anak-anak. Pemikiran pun juga masih belum bisa di samakan satu dan lainnya.


"Pulang yuk," ajak Raya yang membuat Bima dan Galuh bengong melihat keagresifan sahabat yang menjadi istri dosennya.

__ADS_1


"Pak, langsung aja. Di jamin enak kok," Bima menghoda Fairus yang tampak patuh pada Raya.


Sesampainya di rumah sendiri, Fairus langsung mengunci pintu dan menggendong Raya ke kamar. Awalnya Raya kaget, tapi dia juga tidak bisa terus beralasan untuk hal ini.


Di tambah cerita dari Galuh beberapa hari lalu. Di mana dia memamerkan kissmark bikinan Bima karena malam panasnya. Jujur, Raya penasaran juga bagaimana seorang dosen killer memperlakukan istrinya.


Raya tersenyum dan menempelkan kepalanya di dada bidang Fairus. "Dug dug... dug dug... dug dug..." Raya mengikuti detak jantung Fairus yang tak menentu.


"Aku belum berpengalaman Ray, ini pertama kalinya buat ku." ucap jujur Fairus.


"Jadi ini alasannya kamu belum menyentuhku?" Fairus mengangguk dan merasa bersalah.


"Tak apa, aku pun sama. Kita belajar sama-sama ya." Raya memberikan ketenangan pada Fairus.


Cup


Raya tiba-tiba mencium bibir pink milik Fairus. Hanya kecupan, tapi mampu membuat Fairus ketagihan. Fairus mendudukkan Raya di tempat tidur sebelum lelaki itu mendaratkan bibirnya di pucuk kepala Raya.

__ADS_1


"Kamu sayang sama aku?" Tanya Raya.


"Ya. Aku pun mencintai mu." Fairus memberikan hujan ciuman pada Raya sebelum mereka sama-sama belajar mengulang pelajaran biologi kelas tiga SMA.


__ADS_2