
Isi hati sudah tercurah dengan linangan air mata. Tapi lihatlah, Candra masih belum menunjukkan perubahan pada Vio. Dia bahkan jauh lebih dingin pada istrinya.
Vio yang sudah terbiasa pun tak mengambil pusing sikap Candra yang seperti ini. Baginya, dia cukup di sambut oleh keluarga Candra. Terutama Bima, dia cukup perhatian sebagai kakak.
Gaun yang semalem ia kenakan adalah gaun dari Bima. Sedangkan ibu mertuanya juga tidak mempersulitnya, walau di awal beliau menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Vio, duduk saja kamu, sarapan." Rosmia menyuruh menantunya yang sejak tadi sibuk melayani orang seluruh rumah.
"Iya ma." Vio duduk di samping Candra dan makan sarapan di piringnya sendiri setelah sekian tahun hidup bersama ibu tiri.
Sarapan yang begitu nikmat, Vio bahkan tak segan untuk menambah. Nasi goreng yang ia buat sendiri ini adalah resep peninggalan ibunya. Selama masih bisa memakannya, Vio akan menghabiskannya.
"Kalian kapan menempati rumahnya? apa menunggu bulan madu dulu?" Yasa, orang yang di kenal Vio sangat dingin sekali. Rupanya sudah menyiapkan semua kebutuhan mereka berdua.
"Kita ada bulan madu?" tanya Vio seperti anak kecil yang tak tau apa-apa.
"Hmm." jawab Candra santai.
"Kemana?" Vio terlihat jauh lebih antusias dari yang tadi.
"Bali." jawaban singkat dari Candra tak menyurutkan rasa senang Vio.
"Pa, benar kan ini? Aku bisa melihat pantai? Di sana pasti ada bule-bule juga kan? Waahhh, aku bisa melihat bule di sana...." keriangan itu ternyata membuat Yasa tersenyum tipis.
__ADS_1
Benar apa yang di katakan Bima, menerima Vio sebagai menantu. Tidak akan pernah ada ruginya, bahkan Vio sebenarnya adalah gadis yang lebih polos dari istrinya. Galuh.
Vio yang masih berantusias pun sudah membayangkan keseruan saat berada di pulau Dewata itu. "Mama, nanti aku belikan oleh-oleh yang buanyak. Baju pantai, sarung pantai... apalagi ya? oh, aku beliin lukisan buat papa. Kalau buat Mimi, kamu mau apa? Ah, pasti kamu juga susah milihnya. Gimana kalau kita pergi bersama, jadi kamu bisa milih sendiri."
"Mana ada orang bulan madu membawa adik ipar?" Ini protes pertama Candra sejak tadi diam saja.
"Lah, masa iya aku sendirian sih? Mana seru!"
"Ya sama aku lah, emang kau pikir ini study tour, rame-rame?" kali ini Candra melebarkan matanya menandakan dirinya tidak setuju ada orang yang ikut.
Mimi, orang yang di ajak pun hanya tertawa. Rupanya, kakaknya sudah menerima kakak iparnya. Indahnya dunia mereka saat ini.
"Sudahlah, aku mau ujian. Mama berangkat sekolah dulu."
"Hi, Dewangga kekasihku." Dengan gemas Mimi mencium keponakan pertamanya.
"Sudah sana berangkat, nanti telat." Bima menyuruh adiknya untuk segera berangkat sekolah.
"Pelit banget sih kak, lagian pipinya Dewangga menggoda sekali. Kak bikinin sebiji lagi dong."
"Sebiji? di kira biji jagung? Nanti, nunggu kak Galuh siap dulu."
Bima membawa Galuh dan putranya masuk rumah. Bima masih melihat kegembiraan sang adik ipar.
__ADS_1
"Girang sekali kelihatanya." tanya Bima yang membuat Galuh sedikit tidak suka.
Selalu saja begini. Semalam Bima berjanji di atas ranjang padanya. Tapi pagi ini?
Ah... benar kata orang, jangan pernah percaya pada lelaki yang hanya berjanji di atas tempat tidur.
"Iya dong kak, Candra mau ngajak aku bulan madu ke Bali. Nanti aku bawain oleh-oleh deh.... yang buanyak."
"Tidak usah! Aku bisa belikan apa pun yang dia inginkan! Fokus saja sama suami kamu sendiri. Beruntung kamu, baru menikah sudah di bawa bulan madu." Galuh masih tidak bisa menerima bio masuk ke dalam keluarga suaminya. Tapi dia tidak bisa menghalangi atau berpendapat. Toh, dia masuk menjadi adik iparnya, bukan madunya.
"Galuh, maaf....."
"Tidak, kamu tidak salah. Aku yang salah, saat itu aku gila sama lelaki lain. Nikmati saja kalau kamu mau, aku mau pulang saja." Galuh bahkan sengaja mengungkit Jovan saat ini. Itu artinya dia sangat marah.
"Jangan gitu dong, tunggu sebentar lagi. Aku...."
"Nggak usah peduliin aku, aku bisa pulang sendiri." Galuh masih keras kepala untuk pergi dari rumah itu. Baginya, Vio masih merupakan ancaman baginya. Bukan tidak percaya pada Bima, tapi Galuh pernah di khianati oleh orang yang dia cintai.
Ya, Jovan dulu mengatakan tidak mencintai wanita itu dan mengatakan gila pada Galuh. Tapi kenyataannya, Galuh lah yang di tinggalkan oleh Jovan.
Bima tak mengatakan apa-apa lagi pada orang tuanya selain. "Aku pulang ma, pa." sebelum mengejar Galuh yang membawa Dewangga.
"Inilah yang terjadi. Kak Galuh itu orangnya cemburu buta, begitu pun kak Bima yang terlalu mencintai istrinya. Jadi tolong pikir lagi kalau kamu mau melakukan sesuatu pada kak Bima atau kak Galuh."
__ADS_1