
Hoek...
Hoek...
Hoek...
Semakin hari, muntah Galuh semakin parah. Dia juga tak seperti biasanya yang suka menempel pada Bima. Galuh merasa kalau Bima sangat bau sekali dan entah kenapa dia merasa suaminya ini jorok sekali.
"Galuh, kamu hamil?" tanya Rosmia yang mendengar kalau kesehatan Galuh tak baik.
Mau sebesar apa keinginan untuk tak mempedulikan Galuh. Tapi, ketika menantu tersayangnya ini sakit, jelas Rosmia mengabaikan segalanya.
Galuh menggeleng, tapi siapa yang percaya?
"Kita ke rumah sakit saja, ya?" bujuk Rosmia yang merasa sangat kasihan pada menantunya ini.
Dari hari ke hari, Galuh hanya bisa muntah dan tak beranjak dari tempat tidurnya. Bahkan Bima sudah beberapa hari hanya tidur bersama dengan Dewangga di kamar putranya.
Lagi-lagi Galuh menggeleng. "Galuh, kalau kmu enggak mau perhatikan keluargamu. Aku kasihan sama anak dan suami kamu. Mereka anak dan cucuku!"
__ADS_1
Galuh masih tak bergeming, dia masih tetap dengan kediamannya. Bukan cuma itu, Galuh malah menganggap mertuanya itu tak ada.
Karena geram, Rosmia memanggil dokter untuk memeriksa. Biar bagaimana pun, Galuh harus segera di periksa.
"Apa tidak apa-apa kita begini, ma?" tanya Bima yang mengkhawatirkan istrinya.
"Percaya saja pada mama. Kamu mau yang terbaik, bukan? Biar Galuh di periksa dokter."
Bima ikut saran ibunya, karena dia juga khawatir akan istrinya. Dia takut terjadi apa-apa pada dirinya atau anak di dalam kandungan. Ya, Bima selama ini meyakini kalau istrinya hamil.
Tak lama dokter yang di panggil Rosmia datang. Dokter di bawa ke kamar Galuh dan memeriksanya.
"Apa tidak ada yang melihat ini?" Dokter itu menunjukkan genangan darah yang ada di tempat tidur.
Darah itu banyak memenuhi hampir seluruh tempat tidur. Bahkan Galuh tak bergerak kalau di perhatikan secara mendetail.
"Kenapa? Kenapa ini?" Bima langsung menghampiri dokter dan istrinya.
"Kemungkinan dia keguguran. Dia sedang pingsan sekarang. Mungkin karena menahan sakit dan nyeri yang menyerang."
__ADS_1
Seketika Bima lemas terduduk di tepian kasur. Dia kaget, bagaimana bisa dia tidak tau kalau istrinya hamil dan keguguran?
"Sekarang bawa ke rumah sakit saja agar mendapat pertolongan pertama. Takutnya, ibunya juga ikut menyusul."
Keadaan Galuh memang sudah sangat lemah. Keguguran bukanlah kali pertama bagi Bima dan Galuh. Tapi yang sekarang, kenapa mereka tidak sadar? Terutama Bima.
Bima memanggil ambulance, dia memastikan Galuh mendapat pertolongan sesegera mungkin. Bima ikut di dalam ambulance. Sedangkan Rosmia tetap di rumah menjaga Dewangga.
Yasa bersama Bima mengawal ke rumah sakit. Keadaan Galuh yang tak sadar-sadar juga membuat keduanya cukup khawatir.
"Apa pernah terjadi sesuatu sebelum kehamilan?" tanya dokter yang memeriksa Galuh di ruang ICU.
"Kecelakaan yang membuat perutnya terbentur hebat. Dulu sempat di katakan tidak bisa hamil, tapi kami bisa memiliki putra sekarang. Apa kejadian itu masih..."
"Masih, dan bukankah dokter mengatakan tidak bisa punya anak. Lantas kenapa di paksakan? Dokter memang bukan Tuhan, tapi dokter mengatakan itu pasti ada alasannya. Dan istri anda ini mengalami pendarahan hebat kali ini. Keguguran ini sungguh membuat istri Anda sangat lemas. Bersyukurlah anda Tuan, bisa melalui kehamilan itu dengan selamat dan mendapatkan putra. Sejujurnya, istri anda subur. Tapi, kondisi rahimnya yang tidak baik untuk ibunya juga. Kalau pun di paksa hamil lagi, takutnya akan merenggut nyawa keduanya. Beruntung sekarang anda cepat membawanya ke sini. Jadi tolong perhatikan di masa depan."
Dokter berlalu dan Bima langsung terduduk lemas. Ini semua karena keegoisan dirinya yang menginginkan anak kedua. Seandainya dia mengingat kata dokter waktu itu. Dewangga tidak ada, maka keinginan putra atau putri kedua pun tak pernah ada.
Bima menyesali perbuatannya sudah menukar obat KB nya dengan vitamin c.
__ADS_1