Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kunjungan pertama


__ADS_3

Setelah imunisasi ke rumah sakit, tidak ada waktu lagi untuk mengantar Galuh pulang. Bima membawa serta istri dan putra tampannya yang sudah tidur itu ke kantor.


Setelah sekian lama menikah bersama Bima, ini adalah kunjungan Galuh pertama kali ke kantor sang suami.


"Wah, ternyata kamu anak orang kaya ya, Bim. Berasa seperti debu, aku di depan kamu sekarang." Galuh melihat betapa megahnya gedung yang di pimpin langsung oleh ayah dan anak ini.


"Kamu ngomong apa? Milikku, sudah pasti juga milikmu. Ingat, aku tidak pernah berniat cerai hidup dengan kamu. Cuma kamu yang aku mau, jangan pikir banyak. Ayo, papa sudah menunggu di ruang meeting. Kamu ke ruanganku saja."


Bima tak tau apa yang ada di pikiran sang istri, Galuh terus saja terlihat tidak aman berada di sisinya.


"Nois, bawa istri saya ke ruangan untuk beristirahat. Bawakan juga makanan enak dan sehat untuk istri saya." pesan Bima pada sekretarisnya.


"Baik pak, mari Bu silakan ikut saya." Galuh terlihat takjub dengan gedung berlantai dua puluh ini.

__ADS_1


Selain tinggi, gedung ini juga mewah. Selama berjalan di lorong menuju ke ruangan Bima saja, kalau tidak salah hitung. Ada belasan lampu dinding di kiri kanannya.


Dan pada saat Galuh masuk ke ruangan Bima, dia tampak terkejut. Selain melihat kemewahan yang jauh berbeda dengan kemewahan yang di berikan di rumah. Ruangan Bima yang identik dengan warna gelap, terlihat lebih maskulin.


Di meja Bima terdapat beberapa deret foto, dan foto itu di luar dugaan. Dua remaja memakai seragam putih abu-abu berpose seperti hendak saling memukul.


Bibir Galuh tersungging senyum, khayal nya kembali di saat itu. Di saat hatinya masih belum terisi cinta dari siapa pun. Bahkan Jovan juga belum hadir di dalam hidupnya dan menghancurkan hari-hari bahagianya.


Salah satunya foto ini sebagai bukti. Galuh dan Bima bolos dalam mata pelajaran olah raga. Mata pelajaran Arief yang sekarang menjadi kakak iparnya.


"Sejak kapan foto ini ada di sini?" Fokus Galuh teralihkan oleh foto pernikahan mereka berdua.


Foto di mana Bima mencium kening Galuh. Ini adalah kisah cinta yang tak sempurna yang di sempurnakan oleh orang yang tak pernah ia duga sebelumnya.

__ADS_1


"Nyonya, dedek bayinya di sini saja di bawa. Ini pak Bima yang taro kemarin." Sebuah keranjang bayi yang tidak asing bagi Galuh.


Memang tidak, karena boks bayi itu yang awalnya ada di kamarnya. Ternyata Bima tidak menukarkan, melainkan membeli baru.


"Apa pak Bima mengatakan kalau sudah punya istri?" tanya Galuh penasaran.


"Pak Bima tidak pernah mengatakan apa-apa Bu. Hanya saja, kami tau sendiri dari ini. Pak Bima juga jarang sekali komunikasi dengan kami. Pak Bima hanya akan ngomong seperlunya saja, Bu." sekertaris itu tampak berantakan dalam berbicara. Dari nyonya, dia memanggil Galuh menjadi ibu.


Itu semua karena gugup.


"Walah, ya sudah terima kasih ya." Galuh menidurkan putranya di dalam boks. Dia mengambil makanan yang di sediakan di meja.


Karena terburu-buru, bukan hanya kelupaan tudung untuk menyusui. Galuh juga tidak makan siang, Bima sadar akan hal itu. Sehingga dia meminta sekretarisnya untuk menyiapkan makanan sehat untuk Galuh.

__ADS_1


__ADS_2