Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kemunculan yang tidak tepat


__ADS_3

pagi masih gelap, Galuh sudah bangun karena kepalanya terasa sangat pusing. Biasanya, kalau dia merasa pusing, Bima yang ada di sampingnya langsung memegang kepala Galuh.


Tapi hati ini berbeda, Galuh meraba tempat tidur di sampingnya. Dingin, tempat tidur luas di samping Galuh terasa dingin. Galuh tak berani membuka matanya dan mencari di mana suaminya saat ini.


Galuh meringkuk di tempat tidur, memeluk sendiri tubuhnya. Galuh menangis tanpa suara, dia merasa kalau Bima sudah tak mencintai dirinya. Tibalah saatnya, saat dirinya terbuang. Sama seperti lima tahun yang lalu.


"Kepalamu sakit? Aku buatkan jus untuk menghilangkan sakit abis minum." Bima dengan telaten membangunkan Galuh dan memberinya jus jeruk untuknya.


"Aku pikir...."


"Jangan terlalu banyak pikir."


cup


Bima mencium bibir Galuh yang sejak semalam muntah-muntah akibat minum. Bima bahkan tak merasa jijik pada istrinya ini.


"Maaf, aku sudah membuat keputusan yang membuatmu kecewa...."


"Asal kamu tidak membuangku, aku akan..."


"Tidak, tidak ada yang akan membuangmu. Kamu percaya saja sama aku, oke." Bima dan Galuh pun berpelukan.


(Sudah seperti Teletubbies aja)

__ADS_1


Bima mencium pundak Galuh, membelai punggung halusnya dan memberikan kenyamanan bagi wanitanya tercinta.


Lain pikiran Bima, Galuh malah merasa merinding di sekujur tubuhnya. Terutama saat Bima meraba punggung mulusnya. "Ah...." Galuh tak mampu menahan rasa geli yang menguasai dirinya.


Entah memang Galuh yang masih mengantuk, atau dorongan Bima yang begitu kuat. Keduanya saat ini sudah berbaring di tempat tidur.


Sentuhan Bima semakin berani, dia bahkan tak menghiraukan rancauan sang istri. Beberapa kali Galuh mengungkapkan cintanya pada Bima. Melarangnya mendekati wanita lain, melarangnya mengabaikan dirinya. Bahkan sampai melarang Bima meninggalkan dirinya seumur hidup.


Bima meng-Iya-kan apa yang di katakan Galuh dengan sadar. Senyum lembut membuat Galuh semakin terpesona pada Bima.


Pada saat baju Bima terlepas, di situlah pesona seorang bapak Bima yang mampu meluluhkan hati ibu Galuh. Membuat jantung Galuh berdetak tak beraturan, dan tanpa sadar ikut membuka bajunya.


Dada Bima bidang, dengan bentuk perut yang rata walau tak memiliki roti sobek. Siapa yang tahan dengan pesona ini? Bima merebahkan Galuh dam memulai aktivitas yang membuat keduanya merasa di surga.


Jam delapan pagi, Bima sudah bangun lebih dulu. Tepatnya turun dari tempat tidur, karena dia tidak tidur walau setelah berbaikan dengan Galuh.


Perlakuan kecil seperti ini, cukup membuat pembantu mengerti. Jangankan membangunkan, membersihkan kamar majikannya saja, mereka tidak berani.


Bima datang ke kantor hari ini, itu karena Candra sedang menikmati bulan madunya. Bima menilai lagi pekerjaan adiknya. Bukan tidak percaya, tapi Bima lebih ingin tau seberapa kemajuan adiknya dalam mengelola perusahaan.


Bima bangga dengan apa yang di kerjakan adiknya. Bahkan dia mampu menembus pasar Eropa untuk aksesoris terbaru mereka. Benar-benar adiknya yang gigih.


"Pak Hendra Gunawan menandatangani ini? Wow, hebat sekali Candra." puji Bima pada adiknya.

__ADS_1


"Maaf pak, untuk meeting mingguan....?" Sekretaris baru Bima menggantung pertanyaannya.


Selama menjadi sekretarisnya, Bima baru hari ini bertatap langsung dengannya. Dia seorang gadis cantik yang pernah menjadi tipenya sebelum bertemu dengan Galuh.


Gadis cantik yang beraroma khas bayi dengan sifat dewasa namun manja. Berpenampilan formal namun elegan. Mata Bima tak berani memandangnya.


Bima merasa takut, takut jika dirinya terlalu menginginkan wanita yang seperti ini lagi.


"Kamu, coba ke bagian HRD dan...."


"Apa saya melakukan kesalahan? Maaf pak, tapi tolong jangan pecat saya." Sekretaris itu langsung ketakutan.


"Tidak... tidak, saya tidak memecatmu. Tapi saya mau memindahkan kamu ke kantor cabang di distrik Utara. Katanya, rumah kamu daerah sana. Jadi kamu lebih muda, bukan?" buru-buru Bima menjelaskan.


"Kenapa saya di pindah? Pasti bapak punya alasan lain. Apa kerjaan saya tidak bagus?"


"Tidak, kerjaan kamu bagus. Hanya saja, saya kurang terlalu suka dengan sekretaris wanita." Perkataan Bima sedikit membuat sekretaris itu sakit hati.


"Apa saya mengingatkan bapak pada seseorang?"


"Tidak, tapi saya tidak suka kamu. Terlebih kamu sangat cerewet. Ingat, saya atasan dan juga pewaris sah perusahaan ini. Jadi tolong hormati keputusan ini."


Bima biasanya akan sangat marah jika ada seorang bawahan mempertanyakan keputusannya. Tapi, kenapa malah menjawab pertanyaan sekretaris tersebut? Ya, walau dengan kata-kata kasar pula.

__ADS_1


"Baik pak."


Bima langsung membanting dirinya ke tempat duduk. Dia berpikir lebih saat ini. "Bisa bahaya kalau gadis itu Deket sama aku. Mana baru baikan...."


__ADS_2