Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Lupa waktu


__ADS_3

"Cerahnya hari ini. Sepertinya matahari bersinar dari dalam kamar deh." Goda Maya yang saat itu membantu Rosmia menyiapkan sarapan untuk Bima dan Galuh.


Tak menjawab, Bima hanya bisa tersenyum. Kedekatan Maya dengan adik iparnya ini memang sudah tidak di ragukan lagi. Semenjak pernikahan Bima dengan adiknya, Maya memang selalu berpihak pada adik iparnya.


Itu semua tak lepas dari kesalahan Galuh yang terus berhubungan dengan Jovan setelah pernikahan mereka.


"Kamu benar, nak Maya. Sepertinya matahari memang bersinar dari dalam kamar, deh." Rosmia yang baru mengeluarkan beberapa masakan pun nyahut, ikut menjulitin putranya. "Nah itu dia mataharinya keluar dari kamar."


Mendengar apa yang di ucapkan ibu mertuanya, Galuh tampak kaget. Bagaimana tidak, Bima hanya melihat saja apa yang di katakan ibunya. Dia bahkan tidak berniat menjelaskan apa-apa.


"Sudah jangan godain Galuh lagi, aku berangkat kerja dulu. Nanti aku jemput buat imunisasi pertama." Bima mencium tangan kakak ipar dan ibunya setelah sarapan.


Dia juga tidak melupakan putra dan istrinya. Bima mencium pipi merah bayi kecil yang terlihat tengah tidur di gendongan sang istri. Dia juga tidak melupakan Galuh dan mencium kening juga bibirnya.


"Astaga, anak ini kenapa enggak malu sih." Rosmia merasa putranya sengaja melakukan itu di depannya.


"Sudah halal ma."

__ADS_1


Galuh hanya malu-malu mendengar ucapan suaminya sebelum berangkat kerja. Di depan, Galuh bisa melihat sahabatnya dan dosennya juga akan berangkat kerja.


"Raya, masak apa lu?" Tanya Galuh pada sahabatnya.


"Ah elu, lu tanya apa menghina? Suamimu udah berangkat juga? gue mau gosip dong." Raya yang juga membawa putranya.


"Gosip apaan? bikin penasaran aja lu." Galuh menggeret Raya masuk ke area rumahnya dan duduk di ayunan yang entah sejak kapan di pasang di taman kecil itu.


"Hais, iya sabar, kasih gue napas dulu." Raya membenarkan gendongan putranya yang baru berumur beberapa bulan itu.


"Aduh, makin lama. Buru ngapa."


"Tau, kemarin kan dia nangis-nangis ke sini buat ngasih kesempatan baginya tobat." jawab Galuh santai.


Tampaknya dia kecewa karena gosip yang di bawa oleh sahabatnya ini sudah basi.


"Jahatnya, kenapa lu kagak panggil gue? kan bisa gue sorakin dia. Udah ah, gue mau nidurin anak gue. Capek, mau tidur lagi." Raya pun jadi sewot.

__ADS_1


"Capek ngapain lu? Ngapa-ngapain juga sudah ada emak lu. Di sini aja dulu temenin gue," Galuh menahan sahabatnya untuk pulang. Dia merasa sedikit kesepian walau di rumahnya banyak orang.


"Capek layani dosen killer, hahahaha." keduanya pun tampak bahagia di lihat dari balik jendela kaca.


"Kalian boleh gosip, tapi juga harus makan. Ini ada makanan untuk kalian berdua. Ini biskuit khusus untuk ibu menyusui, jadi jangan takut makan." Maya membawa susu ibu menyusui untuk dua ibu muda yang masih terlihat seperti gadis.


"Ah, kak Maya. Terima kasih ya."


Dua sahabat itu sampai lupa waktu jika sudah mengobrol bersama. Raya melupakan rasa kantuknya yang sejak tadi di gaungkan. Bukan hanya itu, Galuh bahkan lupa menyiapkan diri dan putranya untuk imunisasi pertama.


"Galuh, belum siap juga?" Bima datang dengan membawa beberapa belanjaan untuk putranya.


"Astaga, jam berapa ini?" saking asyiknya mereka berdua bercerita. Rupanya mereka tidak hanya melupakan sejam, dua jam saja. Tapi sudah hampir lima jam.


"Setengah satu, astaga... Kita janjian jam setengah dua dan kamu belum siap? Ini anak mau di apain, sih?" Bima yang bersinar di pagi hari, tampaknya sekarang sinar matahari itu tengah terik membakar bumi.


"Maaf." ucap Galuh menyesal.

__ADS_1


"Hehehe, nanti kita sambung lagi. Gue lapar." Sebisa mungkin mencari alasan, Raya tak ingin kecipratan ledakan dari gunung es di depannya ini.


__ADS_2