Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Penyesalan terlambat


__ADS_3

Bima melihat Galuh tidur di kamar tamu, kamar itu lumayan besar. Hanya saja di sana tidak di lengkapi dengan televisi seperti di kamar utama.


Bima marah, tapi dia tidak sekaku itu. Dengan tidak mengabaikan Galuh. Dia tau kebiasaan Galuh, karena memang dia selalu memperhatikan istrinya. Mungkin Galuhlah yang tidak pernah tau kebiasaan Bima.


Saat itu hari ke empat Galuh pulang ke rumah Bima. Setiap pagi Galuh terus muntah sampai dia hampir tidak bisa bangun lagi. Pada siang harinya Galuh akan sedikit membaik sampai malam.


Tapi hari ini, entah kenapa dia ingin sekali berendam air hangat. Merasa bahwa rumah ini juga rumahnya, Galuh naik ke kamar utama yang ada di lantai dua.


Galuh mengabaikan Bima yang tengah tidur siang itu. Masuk dan mengisi bak mandi dengan air panas. Galuh memang sudah di manja oleh Bima, sehingga dia tidak bisa membuat air hangat untuknya mandi.


Airnya beruap, menandakan itu sangat panas. Galuh bingung bagaimana caranya mendapatkan air hangat seperti biasa Bima siapkan untuknya. Galuh ingin sekali berendam di air hangat, mungkin ini keinginan bayinya.


Dengan terpaksa Galuh memasukkan satu ujung kakinya pada bak mandi besar itu.


Aaaaaa


Teriak Galuh membangunkan Bima yang tengah tertidur. Secepat kilat Bima menuju asal suara. Melihat kaki Galuh memerah karena air panas, Bima langsung mengangkatnya ke tempat tidur.


"Apa kau anak bayi? Tidak tau air mendidih itu panas dan bisa melukai mu?" Bima geram dengan prilaku Galuh.


"Aku tau....""

__ADS_1


"Kalau tau, kenapa kau masih tetap masuk ke dalam?" Bima kehabisan kata-kata.


"Tapi aku ingin berendam air hangat, airnya sudah aku tiup-tiup tadi." Jawab Galuh polos.


"Aku akan membuatkan untukmu." Tetap dingin, meski sudah sedikit melunak.


"Bima, aku sudah tidak ingin. Tapi aku mau makan jambu air sekarang." Galuh mengibah. "Pasti segar," imbuhnya lagi.


"Kenapa kau tidak minta pada bapak bayimu?" Bima keluar tanpa kata lagi.


Galuh sadar dengan apa yang di katakan Bima. Dia keluar juga dari kamar Bima setelah memakai bajunya kembali. Galuh tidak mengira jika nasibnya seburuk itu di masa depan.


Dia melihat Raya bahagia bersama Dosen Killernya bersenda gurau di halaman. Galuh ingin gabung, tapi dia malu jika mengingat ucapan Bima. Bahkan dia juga sudah mengambil cuti kuliah. Entah sampai kapan dia cuti, mungkin tidak akan kembali lagi.


Galuh diam dan meratapi nasipnya. Dia dulu menjadi ratu, sebelum menjadi benalu untuk Bima. Galuh benar-benar malu dengan ucapan Bima padanya. Dia bahkan tak punya muka untuk kembali ke rumah itu.


"Gue punya rumah, kenapa juga gue bingung mau kemana? Orang tua gue juga masih utuh, buat apa gue permalukan orang seperti ini?" gumam Galuh di sela ratapannya.


Di rumah Bima pulang membawa sekantong kresek jambu air untuk Galuh. Kembali Bima merasa kecewa ketika pelayan mengatakan jika Nyonyanya keluar tak lama setelahnya keluar.


"Masukkan dalam pendingin, saat dia pulang berikan padanya. Bilang kamu yang sudah mencerikannya." kata Bima.

__ADS_1


"Kenapa bukan Tuan sendiri yang memberikannya? Nyonya sedang hamil, tuan. Aku yakin dia butuh perhatian." ucapan pelayan itu membuat Bima hilang kendali.


"Apa aku menggajimu untuk membela orang yang salah? Bahkan aku ragu itu milikku!"


"Nyonya memang pernah meninggalkan rumah selama beberapa hari. Tapi Tuan lupa menanyakan berapa usia kandungan Nyonya. Beberapa hari tidak sebanding dengan usia kandungan Nyonya yang sudah hampir enam minggu kata dokter." pelayan itu berlalu dan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


Bima baru tersadar jika kepergian Galuh kurang dari satu minggu. Bima kembali mengutuk kebodohannya, kali ini dia benar-benar tidak bisa di maafkan.


Bima meraih ponselnya dan mencari di mana posisi Galuh saat ini. Galuh meninggalkan ponselnya di kamar tamu.


Bima langsung bergegas ke rumah lama mereka, tetapi rumah itu kosong. Bima ke rumah Maya, dia malah menanyakan ada masalah apa.


"Tidak kak, ini hanya kesalah pahaman semata." jawab Bima.


"Jangan pernah bohong pada kakak, kamu tidak pandai berbohong, Bima." desak Maya.


"Beberapa hari yang lalu, Jovan membawa Galuh pulang ke rumahnya. Dia berjanji pada ibunya akan membawa Galuh kembali ke rumah itu. Aku gelap mata, aku pukul Jovan. Tapi Galuh menghalangi ku. Selama kurang dari seminggu Galuh pulang dan mengatakan jika dia tengah hamil. Aku menyuruhnya menggugurkan kandungannya, aku merasa itu bukan milikku." jujur Bima.


"Bodoh kamu, Galuh tidak cinta sama Jovan. Dia mencintai kamu, di tambah dia sudah melayanimu. Itu artinya dia sudah menghapus masa lalunya." Maya memijat keningnya yang tiba-tiba sakit.


"Sekarang kemana kita akan mencari dia? Sudah ke rumah lama?" tanya nya lagi.

__ADS_1


"Sudah, tapi rumah itu kosong. Aku memang bodoh kak, aku cemburu." Bima menangis, lelaki kuat macam dia menangis? Ya tidak ada salahnya kan? Apa lagi hatinya tengah kacau macam ini.


__ADS_2