Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Teror 2


__ADS_3

Dengan perasaan yang penuh dengan tanda tanya, aku menatap Tiwi yang perlahan melangkah ke arahku. Tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi barusan, aku menatap Tiwi dengan mata membulat hingga lupa untuk berkedip. Ternyata perasaan yang aneh tadi benar, dimana sikap Tiwi yang sangat berbeda dari biasanya membuat aku terheran - heran. Pikiranku begitu kacau dan masih tidak percaya.


"terus yang tadi menciumku siapa?" ucapku dalam hati sembari terus menatap Tiwi.


"Reeelll..." ucap Tiwi sambil melambaikan tangannya ke arahku.


"ehhh... kaa...kaaa...kaamu?" balasku gugup karena masih tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi.


"aku kenapa rel?" tanya Tiwi heran.


"ini beneran kamu kan wi?" tanyaku balik.


"yaiyalah sayang. Baru aja beberapa jam aku tinggalin, kamu udah lupa sama aku." jelas Tiwi bercanda dan perlahan mendekatiku.


"eng...eng...enggak wi" Aku masih bingung kenapa ada orang yang begitu mirip dengan Tiwi.


"kenapa sayang?" Tiwi perlahan membelai wajahku dengan tatapan penuh tanda tanya atas sikapku yang aneh.


Aku terdiam sesaat dan terpaku hingga mulutku sulit untuk mengatakan kepada Tiwi tentang apa yang baru saja terjadi padaku.


"rell...kok malah bengong?" Tiwi mencubit pipiku karena Aku terus terdiam hingga sulit untuk berbicara karena masih tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi.


Tiba - tiba Ibu terbangun dari tidurnya karena mendengar suara Tiwi yang cukup lantang memanggil namaku.


"kalian kenapa ribut - ribut?" ucap Ibu perlahan duduk diatas karpet sembari mengucek - ngucek matanya dan menatap ke arah kami berdua.


Kembali aku berpikir, berarti ini beneran Tiwi. Mengingat karena biasanya Ibu langsung terbangun jika mendengar suara orang yang cukup keras disaat beliau sedang tertidur.


"Aku takut wi" ucapku gemetaran mengingat kejadian tadi.


"takut kenapa sayang?" ucap Tiwi khawatir.


"kamu kenapa nak?" Ibu mulai panik dan perlahan berdiri kemudian bergerak mendekatiku.


"aaaa...aaa...aku barusan ketemu Tiwi bu" ucapku gugup.


"iya ini kan beneran aku rel. Apa kamu ga liat?" timpal Tiwi bingung.


"iya nih, kamu ada - ada aja rel" sambung Ibu.

__ADS_1


"buu..buu..bukan itu" ucapku dan tubuhku semakin gemetar hingga tangan Tiwi yang masih saja menempel pada pipiku juga merasakannya.


"sayaang.. Kamu kenapa?" Tiwi semakin cemas melihatku dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Karena aku yang tidak bisa menjelaskan apa yang sedang Aku rasakan membuat suasana dikamar itu begitu tegang dan mencekam.


"Ibuuu...Farel kenapa?" Tiwi menjadi sangat panik hingga matanya berbinar - binar menahan tangisnya karena begitu khawatir dengan keadaanku.


"Ibu ga tau wi, tadi Ibu lagi tidur. Tapi tiba - tiba aja Farel begini setelah kamu datang" ucap Ibu heran dan terlihat panik.


"Fareeell." teriak Tiwi menggoyang - goyangkan tubuhku dengan memegang bahu sebelah kanan.


Aku yang masih saja terpaku dan membisu membuat Tiwi dan Ibu semakin khawatir. Setiap aku ingin menyampaikan kalau aku baru saja bertemu dengan seseorang yang begitu mirip dengan Tiwi dan juga memberikan makanan kesukaanku, namun semuanya sia - sia. Mulutku seperti ada yang menahannya, hingga kata - katapun sulit untuk Aku ucapkan.


Karena aku tidak kunjung berbicara, tiba - tiba Ibu mencipratkan air ke wajahku dengan membaca ayat - ayat Al- Qur'an beberapa kali hingga membuatku terkejut.


"aaahhhh... Ibu kenapa menyiramku?" tanyaku dan menyadari kalau Tiwi sudah menangis dihadapanku.


"kamu yang kenapa? Ditanya malah bengong kayak orang kesurupan" timpal Ibu kesal sekaligus heran atas sikapku.


Setelah Ibu mencipratkan air ke wajahku, Aku mulai mengingat apa yang baru saja terjadi dan perlahan mulai mengucapkannya.


Sontak ucapanku membuat Ibu dan Tiwi saling menatap satu sama lain dengan wajah heran. Karena Tiwi baru saja datang dan juga membawakan sebuah makanan yang sama dengan makanan yang dibawa seseorang yang menyerupai Tiwi itu.


"kamu ga ngigo kan rel?" tanya Tiwi heran dengan menatapku dalam.


"serius wi, aku benar - benar melihat kamu memberikanku makanan dan menyuapiku hingga habis. Tapi disaat Dia ingin membuang kotak bekas makanan itu, Dia ga balik - balik lagi hingga kamu datang dan membuatku bingung". Jelasku panjang lebar.


"tapi kan aku baru datang rel" ucap Tiwi terlihat tidak percaya dengan ucapanku karena Aku terlalu sering mengerjainya.


" iya memang benar semua yang aku ucapkan wi. Kamu benar - benar ada disini bersamaku beberapa menit sebelum kamu datang" ucapku meyakinkan Tiwi atas apa yang sudah terjadi padaku.


"kamu ga bercanda kan rel?" timpal Ibu yang terlihat bingung atas penyampaianku yang terlihat ngawur.


"ngapain juga Farel bercanda bu" ucapku menatap Ibu dengan wajah yang mulai cemas.


"ya sudah, kamu banyak - banyak istighfar aja nak. Mungkin saja itu jin yang ingin mengganggu kamu, atau mungkin salah satu pasien yang gentayangan" jelas Ibu yang membuat bulu kudukku berdiri.


"Ibu jangan mengada - ada lah" ucapku mulai takut kalau saja memang benar sosok yang menyerupai Tiwi tadi adalah jin atau hantu.

__ADS_1


"ya makanya kamu banyak - banyak istighfar supaya kamu dilindung sama yang diatas" ucap Ibu sembari menunjuk ke arah langit - langit kamar.


"iya bu... Astagfirullah...astagfirullah" aku mencoba untuk istighfar karena perasaanku begitu cemas sembari mengusap - usap dadaku.


Setelah dirasa cukup tenang, aku mencoba sedikit memejamkan mataku agar perasaanku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Beberapa saat semuanya terdiam melihat Aku yang terlihat pucat pasi seperti orang kekurangan darah. Setelah dirasa lebih baik, aku kembali membuka mata dan menatap kearah Tiwi.


"kamu lapar ga rel?" tanya Tiwi setelah melihat aku yang sepertinya sudah baikan.


"ehh..lapar wi" balasku heran, karena aku baru saja makan mie yang diberikan seseorang menyerupai Tiwi itu.


"tuhh kan, katanya tadi habis makan" ucap Tiwi.


"ya aku juga bingung wi, kenapa perutku lapar padahal aku baru saja makan mie" jelasku terheran - heran.


"yaudah , kalau kamu memang lapar. Makan nih" ucap Tiwi kemudian membuka kotak yang berisikan Yakisoba kesukaanku.


Karena Ibu terlihat begitu bingung dengan sikapku yang semakin ngawur, perlahan Ibu kembali pada posisi awal dimana beliau berbaring tadi. Ibu kembali merebahkan tubuhnya yang terlihat begitu lelah, padahal beliau sudah cukup lama tertidur.


Perlahan Tiwi menyuapi makanan yang masih terasa hangat. Sangat berbeda dengan mie yang tadi aku makan terasa dingin. Suapan demi suapan diberikan Tiwi dan Ibu terlihat kembali tertidur dengan pulas.


Setelah selesai makan, Tiwi berniat ingin membuang sampah bekas makanan itu keluar namun aku menahannya.


"kamu mau kemana wi?" ucapku menahan tangan Tiwi yang baru setengah berdiri.


"mau buang sampah keluar rel" jelas Tiwi.


"jangan dulu, kamu disini aja" pintaku memelas karena masih teringat dengan kejadian tadi.


"kenapa rel? Kan cuma didepan kamar" ucap Tiwi kemudian kembali duduk pada posisi awal.


"pokoknya jangan dulu. Kamu letakin aja sampahnya diatas meja dulu" pintaku perlahan melepaskan tangan Tiwi.


"oke deh kalau gitu mau kamu" jawab Tiwi lemes mendengar permintaanku yang dirasa cukup aneh.


Tiwi mulai berdiri dan membungkus kotak bekas makanan itu kedalam plastik kemudian meletakkannya diatas meja sesuai dengan permintaanku. Setelah itu Tiwi mulai membersihkan barang - barang yang terlihat berantakan karena dari tadi pagi Ibu tidak membersihkannya. Ibu hanya tertidur seperti orang yang begadang semalaman.


Aku hanya menatap Tiwi dengan segala kegiatan dan sesekali Tiwi membalas tatapanku yang membuat kami berdua saling melempar senyuman.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2