Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Misteri mama mertua


__ADS_3

".... Bima?" Setelah lelah menangis, akhirnya Galuh sadar siapa orang yang memeluknya sejak tadi.


"Ya, Aku kan sudah janji pulang hari ini." ucap Bima masih memeluk Galuh.


"Tapi...."


"Mama bilang aku lebih lama? Dan aku membiarkan kamu depresi lagi? Tidak akan." ucap Bima memotong ucapan Galuh.


"Apa aku punya salah?" Galuh kembali mengingat ibu mertuanya yang berubah drastis kemarin.


"Tidak, tapi mama begitu demi kebaikan kamu. Untuk sekarang aku di rumah dan untuk seterusnya juga. Kamu jangan berpikir lain, ya." Perkataan Bima saat ini malah membuat Galuh semakin bingung.


Perubahan ibu mertuanya yang tiba-tiba saja masih belum bisa di terima Galuh. Sekarang suaminya malah mengatakan semua demi kebaikannya. Ada konspirasi apakah yang tak di ketahui Galuh? Tapi, ya sudahlah. Yang jelas, suaminya ada di dekatnya saat ini.


"Bim, aku lapar." kata yang selalu dia rengekkan pada suaminya. Galuh benar-benar kembali manja setelah dua hari dia menjadi sangat mandiri.


"Aku sudah menyiapkan sarapan enak untuk kamu. Kata mbak, kamu makannya tidak teratur. Selama dua hari ini juga kamu melewatkan makan malam. Ada apa?" Tanya Bima yang mendengar semua aduan dari pelayan rumahnya.


"Bagaimana aku bisa makan, kalau suamiku lupa menyuruhku untuk makan?"


"Hahaha, aku sangat sibuk sayang. Bahkan aku juga tidak cukup baik untuk makan tanpa kamu." Jujur Bima yang juga tak nafsu makan tanpa istrinya.

__ADS_1


"Nah itu tau. Sekarang, aku akan makan banyak...." Bima membawa Galuh ke bawah untuk makan.


Di bawah, Galuh melihat putranya yang sudah makan bersama dengan pelayannya. Di suapi makanan pendamping ASI, Dewangga terlihat sangat lahap sekali.


Pelayan itu juga biasa memberi makan Dewangga. Itu karena selama sebulan ini Bima tidak menggunakan baby sitter lagi.


Selesai makan, Galuh mandi. Misteri ibu mertuanya masih belum terpecahkan juga oleh Galuh. Kerena Bima sama sekali enggak mau menjawab dengan jelas apa yang terjadi kemarin.


Tapi, masa bodo dengan itu, yang penting Bima sudah ada di dekatnya. Kembali mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas.


"Galuh, rambut kamu sudah panjang sekali. Apa kamu enggak mau di potong dikit? Aku lebih suka kamu dengan rambut sebahu." Bisik Bima yang mengeringkan rambut panjang Galuh.


Cup


"Kapan saja kamu mau, pasti aku anterin." Jawab Bima dengan mencium hidung mancung Galuh.


"Jangan di cium di situ." Galuh memegangi hidungnya yang baru saja di cium Bima.


"Kenapa?"


"Kurang turun dikit." Jawab Galuh malu-malu tapi mau.

__ADS_1


"Hahahaha iya iya."


Cup


Cup


Cup


"Sudah, ini banyak-banyak kali. Malu di liatin embak." Galuh menghentikan suaminya yang malah menggila dalam menciumnya.


"Tapi aku belum puas."


Keduanya kembali mengeringkan rambut Galuh. Sedangkan Dewangga tidur lelap di pangkuan Galuh sejak tadi. Dengan dua ekor mata yang terus mengintip sambil tersenyum geli di Bali dinding dapur.


"Sayang, kenapa sekretaris kamu ganti-ganti sih? Baru saja aku kenal, eh sudah ganti. Kan aku jadi bingung ngafalinnya." tanya Galuh saat melihat-lihat daftar nomor telepon di gawai milik suaminya.


"Hmmm kalau itu karena otak othornya cetek, sering lupa. Makanya ganti-ganti. Memangnya kenapa kita enggak pakai baby sitter lagi?" Galuh hanya menggeleng kepala tak tau. "Apalagi, ya si Othor lupa nama baby sitter kita siapa." Jawab Bima santai.


"Oalah, mungkin othornya kurang refreshing. Ajakin jalan-jalan yuk yank." ujar Galuh prihatin.


"Hmmm, kebanyakan main sama si Levin kayak e. Berkabung meninggalnya paman Rizal aja lama bener. Sudah jangan di pikirin othornya, paling sebentar lagi main sama Jackson di lapak sebelah."

__ADS_1


__ADS_2