
Setelah kejadian cukup mengejutkan yang terjadi antara Aku dan Tika itu. Tiwi sekarang terlihat sangat posesif di bandingkan dengan sebelumnya. Tidak pernah lagi Tiwi membiarkan Aku pergi melaksanakan kegiatan di luar tanpa ada dirinya. Mungkin Tiwi sangat takut kehilanganku, justru hal tersebut membuatku merasa sangat dicintai.
🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Siang ini Aku telah selesai melaksanakan kuliah yang sedari pagi tiada hentinya. Tentu saja hal itu membuatku sangat lelah dan ingin beristirahat walaupun hanya sebentar. Namun Tiwi mengajakku pergi ke kantin fakultas untuk makan siang karena memang sejak tadi pagi kami belum makan.
"Rel, kita ke kantin fakultas yuk. Aku lapar nih" pinta Tiwi meraih tanganku dan menggandengnya.
"Di kantin mana wi?" tanyaku kaget disaat Tiwi dengan santainya memeluk tanganku, padahal kami sedang berada di lorong gedung kuliah. Tentu saja disana sangat banyak mahasiswa yang memperhatikan kami.
"Di kantin tempat biasa kita makan aja" ucap Tiwi dengan tatapan manjanya yang membuatku tidak bisa menolak ajakannya.
"Yaudah ayukk" balasku kemudian berjalan ke arah kantin fakultas.
"Yeeeyyyy" Tiwi terlihat kegirangan, sangat jelas terpancar dari senyumannya yang sangat manis itu.
"Wi, kamu ga malu diliatin orang kayak gini?" tanyaku sambil melihat ke arah Tiwi yang masih saja menggandeng tanganku padahal Aku bukan tipe cowok yang kemana - mana harus gandengan.
"Ngapain harus malu??? kan kamu pacar Aku. Kamu takut kelihatan sama wanita Ja**** itu ya?" ucap Tiwi kesal.
"Siapa wi? Tika maksud kamu?" tanyaku terus berjalan.
"Yaaa siapa lagi kalau bukan wanita murahan itu" Tiwi terlihat sangat kesal kalau sudah mendengar nama Tika. Mungkin kejadian yang terjadi waktu itu sangat membekas di pikirannya.
"Engga lah, Aku udah gak ada lagi berhubungan dengan Dia sedikit pun kok wi" jelasku.
"Hmmmm... Beneran kan rel?" ucap Tiwi dan berhenti sejenak di tengah - tengah lorong fakultas dan kebetulan saat itu sedang tidak ramai.
"Iya sayang. Ngapain juga Aku bohong" ucapku dan memposisikan tubuhku tepat di hadapan Tiwi.
"Iya deh Aku percaya" balasnya singkat terlihat seperti tidak percaya dengan omonganku.
Aku yakin sangat sulit bagi Tiwi melupakan kejadian itu. Apalagi wanita itu merupakan mahasiswa fakultasku juga yang berarti akan sering terlihat dan membuat Tiwi kembali mengingat kejadian itu lagi. Setiap Tika lewat berpapasan dengan Tiwi, tatapan Tiwi terlihat sangat tajam yang membuat Tika harus merunduk dan berjalan cepat. Tiwi memang sangat sangar jika sudah marah atau benci kepada seseorang. Orang yang sejatinya pendiam, akan sangat berbahaya jika Dia sudah marah. Seperti itulah yang Aku lihat dari sosok Tiwi.
Setelah cukup lama kami berjalan, sampai lah kami di kantin tempat kami akan makan siang. Langsung saja Aku dan Tiwi memesan makanan kemudian mencari tempat duduk yang kosong.
Selama kami duduk, terdengar sayup.- sayup sampai percakapan antara 2 orang junior di meja sebelah tepat disampingku.
"Kok si Tika mau ya ngeliatin itunya ke orang yang udah punya pacar?" ucap seorang wanita yang Aku tidak kenal namun Aku tau kalau Dia adalah juniorku.
"Iya juga ya, tapi Aku dengar - dengar Tika orangnya baik loh. Kok bisa - bisanya terjadi hal seperti itu?" ucap cewek di sebelahnya dengan nada pelan namun tetap terdengar jelas olehku.
"Ga tau juga sih. Cuma Aku gak habis pikir aja" ucap salah seorang junior itu.
Tentu percakapan itu membuatku menjadi terkejut, "Darimana mereka tau kejadian itu" aku membathin. Padahal yang menyaksikan kejadian itu hanya Tiwi seorang.
Mendengar pembicaraan antara 2 junior wanita yang Aku yakin itu tertuju padaku, membuat Aku tidak nyaman dan mengajak Tiwi untuk pindah duduk di bagian pojok menjauh dari tempat duduk para junior yang membicarakanku tadi.
__ADS_1
"Wi, kita duduk disana aja yok. Di sini sedikit panas soalnya" ucapku dan kebetulan cahaya matahari mengenai tempat dimana kami duduk.
"Ayyukk" balas Tiwi kemudian bangkit dari duduknya.
Disaat kami berdiri, terlihat jelas dari ekor mataku 2 orang junior itu menoleh ke arahku dan memperhatikan gerak - gerikku.
Masih menjadi tanda tanya bagiku. Darimana mereka mengetahui kejadian itu."Apa mungkin Tiwi yang memberi tau kepada mereka atau bisa saja Tika yang menceritakannya" ucapku dalam hati. Semua itu sungguh membuatku tidak nyaman dan menjadi overthinking.
"Rel, kamu kok kelihatannya gelisah gitu?" tanya Tiwi melihatku dengan gerak - gerik yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ehh. Gak apa - apa kok wi" ucapku gugup.
"Aku ga yakin kalau kamu baik - baik aja. Lagi mikirin apa kamu?" Tiwi mulai mengintrogasiku dengan segudang pertanyaan.
"Engga ada wi. Aku cuman mikirin kapan mau bikin tugas yang kemarin" balasku ngeles dan untungnya Tiwi percaya.
"Ohh... Kirain mikirin apaan. Besok kan hari sabtu, kita bisa ngerjainnya barengan." ajak Tiwi
"Iya juga ya. Yaudah kalau gitu besok aja kita ngerjainnya. Kebetulan Aku juga ada film horror terbaru yang bisa kita tonton bareng selepas ngerjain tugas" ucapku yang membuat Tiwi semakin yakin kalau sejak tadi Aku sedang memikirkan tugas.
"Ide bagus juga tuh. Aku juga udah lama gak nonton horror karena Aku gak berani kalau nonton sendirian" ucap Tiwi tersenyum tipis ke arahku.
"Yah dasar penakut" ledekku kepada Tiwi.
"Biarin...wleeekkkk" balasnya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku.
Telihat sangat lucu jika Tiwi melakukan hal itu, hingga Aku merasa ingin sekali memeluknya. Namun sayangnya Aku sadar kalau kita masih berada di lingkungan Kampus.
Cukup lama kami berbincang - bincang dan terlihat 2 orang junior tadi mulai beranjak pergi namun sesekali menatap ke arah dimana kami sedang duduk. Hal itu sungguh membuatku lebih yakin kalau yang dibicarakannya tadi adalah Aku. Untung saja kejadian waktu itu tidak ada rekam jejaknya, baik itu berupa video maupun CCTV. Jika semua itu terekam oleh kamera, mungkin saja Aku dan Tika sudah di DO dari kampus ini dan akan menanggung malu sepanjang hidup. Hanya itu saja yang membuatku selalu terpikir mengenai kejadian itu.
Beberapa saat kemudian akhirnya pesanan kami telah datang. Karena perut yang sudah sangat lapar karena memang belum makan sama sekali. Tanpa pikir panjang, Aku dan Tiwi langsung menyantapnya dengan lahap tanpa sempat untuk bercakap hingga makanan itu habis tak tersisa.
"Haaaaahhh... Kenyang" ucapku sambil memegang perut yang sudah sangat keras karena penuh dengan makanan.
"Aku juga kenyang rel. Kita duduk dulu aja kali ya rel?" tanya Tiwi karena terlihat masih kekenyangan juga.
"Iya wi, sebentar lagi kita pulang. Kita nikmati dulu aja rasa kenyang ini" ucapku sambil tersandar di kursi yang cukup kuat menahan tubuhku.
Sekitar 10 menit kami tersandar di kursi kantin itu. Hingga pada akhirnya rasa kenyang yang berlebihan tadi sudah mulai berkurang dan kami berniat ingin pulang menuju kos masing - masing.
"Udah bisa berdiri wi?" tanyaku kepada Tiwi
"Hehehe..udah rel. Yok kita pulang" ucap Tiwi dengan senyuman khasnya.
"Ayokk...." balasku kemudian bangkit dari dudukku. Namun sebelum menuju parkiran Aku membayar makanan yang sudah kami makan terlebih dahulu.
Setelah menuju parkiran dan belum sempai ke atas motor, kami berpapasan dengan Tika yang terlihat murung dan sedih sembari menundukkan kepalanya. Namun di saat yang sama Aku sesekali juga melirik ke arah Tiwi yang terlihat sama seperti sebelumnya. Tatapan tajam penuh kebencian masih terlihat jelas dan Aku hanya bisa diam melihat tatapan kejam Tiwi ke arah Tika.
__ADS_1
"Wii" Aku memanggil Tiwi.
"Iya rel" balasnya kemudian menatap ke arahku.
"Yok kita pulang" ucapku dengan menggerakkan sedikit kepalaku berniat memberikannya kode untuk naik ke atas motorku
"Ayukkk" balasnya dan langsung saja naik ke atas motorku. Karena Aku belum dalam keadaan siap, tentu saja membuat motorku hampir saja terjatuh karena Aku hanya menggunakan satu kakiku saja untuk menopang motor itu.
"Ehhh... Hati - hati wi" ucapku kaget.
"Iya rel , maaf ya?" balasnya kemudian Aku mulai mengendarai motorku menuju kos - kosannya Tiwi terlebih dahulu sebelum menuju ke kosan ku.
Cukup lama kami terdiam tanpa mengobrol sama sekali di atas motor. Mungkin karena masih kekenyang atau sedang menikmati udara sejuk di siang itu. Karena walaupun di sana cahaya matahari sangat terik, namun udara tetap saja sejuk dan membuat siapapun yang menikmatinya akan merasa tenang. Hingga sekitar separuh perjalan telah di lewati Tiwi mulai membuka percakapan.
"Rel, kok diem aja sih dari tadi?" ucap Tiwi menepuk pundakku terlihat kesal karena Aku tidak mengajaknya berbicara.
"Gak apa - apa kok wi. Lagi menikmati udara aja" balasku seperlunya.
"Aku mau nanya sama kamu" ucap Tiwi yang membuat Aku terdiam sesaat. Beberapa detik Aku terdiam tanpa adanya respon sedikitpun karena Aku yakin pertanyaan ini cukup penting.
"Farelllll. Kok kamu diam ?" ucap Tiwi sambil menepuk - nepuk kembali pundakku.
"Ii...iii iya wi. Mau nanya apa?" balasku terkejut.
"Aku masih ingat kejadian kamu dengan junior seksimu itu" ucap Tiwi dengan nada yang cukup pelan namun masih jelas di telingaku.
"Kok tiba - tiba kamu mengingat kejadian itu wi?" tanyaku heran dan mengurangi laju motorku.
"Gimana ya? Aku terkadang merasa iri sama apa yang sudah dilakukannya sama kamu." ucap Tiwi membuatku kaget sekaligus berpikir keras apa maksud ucapan Tiwi.
"Maksudnya wi?" tanyaku heran.
"Aduuhh...gimana ya ngasih taunya?" Tiwi terlihat panik karena Aku tidak tau apa yang Dia maksud.
"Iya jelasin aja sayang" ucapku menenangkan Tiwi.
"Ga jadi lah rel. Kapan - kapan aja Aku jelasinnya" balas Tiwi terlihat belum siap untuk menyampaikannya, mungkin karena alasan tertentu.
"Lah? Kok malah gak jadi wi?" Aku pun semakin heran atas apa yang sedang Tiwi pikirkan.
"Yaaa... Kapan - kapan aja deh rel. Sekarang belum saatnya" ucap Tiwi membuat tanda tanya besar dipikiranku.
Akhirnya Kami pun sampai di depan kosannya Tiwi. Langsung saja Tiwi turun dari motorku dan seperti biasa sebelum masuk ke dalam kos - kosan Tiwi terlebih dahulu mencium tanganku dan Aku akan mengucek - ngucek kepalanya. Karena kebiasaan itu membuat Tiwi terlihat sangat bahagia.
"Yaudah rel , Aku masuk dulu ya. Kamu hati - hati dijalan" ucapnya kemudian masuk ke dalam kos - kosan.
"Oke sayang" balasku dengan melemparkan senyuman dan Tiwi membalasnya.
__ADS_1
Kemudian Aku lanjut mengendarai motor menuju kos - kosanku dan masih memikirkan apa maksud dari kata - kata Tiwi tadi yang sampai saat ini masih belum dapat Aku pahami.
Bersambung...