
Galuh di tinggal dalam keadaan tidur, seingat Bima. Tapi ketika dua jam lebih di tinggal ke kampus, wanita itu suda raib bak di telan bumi.
Bima bertanya pada pelayan yang ada di rumah, tetapi tidak ada seorang pun yang melihat Nyonya nya keluar dari kamar. Bima merasa risau, dia tidak mendapati istrinya di mana-mana di rumah. Bahkan ponselnya tersambung tapi tidak di angkat.
Bima mencoba mencari sinyal yang di tunjukkan pada ponselnya yang terhubung dengan milik Galuh. Bima kaget karena sinyal itu berakhir di rumah besar dan mewah yang belum pernah di lihatnya.
Bima turun dari mobil dan bertanya, kediaman siapa ini? Pada satpam yang berjaga di pos dekat gerbang.
"Kediaman Tuan Arby." jawab satpam itu sebelum membuka pintu untuk Bima.
"Arby? Jovan Arby?!" gumam Bima penuh kemarahan.
mungkin kali ini adalah kali pertama Bima meluapkan kemarahannya. Bima tanpa permisi masuk ke dalam rumah mewah itu.
Mencari ke setiap sudut keberadaan istrinya, hingga pandangan tertuju pada satu kamat. Di sana sudah ada Jovan yang melingkarkan tangannya di pinggang Galuh. Tepat di hadapan orang tuanya.
"Aku berjanji akan membawa Galuh kembali ke rumah ini, Ma." janji Jovan tanpa perlawanan dari Galuh.
Setelah mendengar hal itu, Bima menjadi gelap mata. Dengan sekali hentak, Jovan menghadap padanya dan langsung menerima satu kepalan tangan Bima.
__ADS_1
Jovan terjatuh dan di sudut bibirnya mengalir darah segar dari cela yang terbuka akibat hantapan tangan Bima. Saat hendak melancarkan serangannya kembali, Galuh menutupi badan Jovan dengan badanya sebagai tameng melawan Bima.
"Bodoh kalau aku percaya kamu sudah melepas bajingan ini! Aku tidak pernah membayangkan hal ini aku alami secepatnya. Tapi terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku!" Bima merasa dirinya sudah tidak punya haraga diri lagi. Terutama di depan Jovan.
Dia menganggap bahwa dirinyalah penenang, karena sudah mendapatkan Galuh seutuhnya. Tetapi saat ini dia sadar, bahwa dialah pecundang sebenarnya.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Galuh sampai aku mati." Ucap Bima sebelum keluar meninggalkan kediaman mewah namun terasa seperti neraka.
"Dengan dia tidak menceraikan kamu, bagaimana kita bisa menikah?" kata Jovan sedikit meninggikan nada suaranya.
"Aku ke sini karena kau mengatakan bahwa orang tuamu tengah sekarat. Dan mereka memintaku untuk datang karena ingin minta maaf. Tetapi kenapa kamu berpikir aku akan kembali bersamamu? Kau begitu konyol Jo!" Galuh hendak pergi dari kamar orang tua Jovan, tetapi pada saat yang bersamaan. Orang tua itu seperti hendak bangkit dan menahan Galuh.
Jatuh dan tak sadarkan diri. Galuh merasa sangat bersalah akan hal itu. Dia memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah, lebih tepatnya Ibu Jovan yang kini sedang mengidap kangker stadium akhir.
Sebelumnya Jovan ingin memanfaatkan ini untuk mengikat kembali Galuh. Tapi siapa yang tau jika Bima tidak akan pernah menceraikan wanita itu.
Aroma bunga menyengat di hidung Galuh. Dia tidak tahan dan akhirnya merasa mual. Muntah di pagi hari atau karena aroma tertentu, itu merupakan hal yang paling di tunggu oleh seorang istri.
Galuh terlalu bahagia, dan dia melupakan amarah Bima tempo hari. Dia juga lupa jika sudah terlalu lama tidak pulang.
__ADS_1
Galuh berjalan dengan riang sesikit berlari ke arah kamar Bima saat dia pulang kerumah. Tetapi dia tidak tau akan mendapat sambutan dari sesosok manusia yang tidak ia kenal.
"Untuk apa kau kembali? Bukankah kau sudah sangat bahagia di sana?" tanya Bima dingin saat melihat Galuh naik ke ranjangnya dan membangunkan dirinya.
"Jangan bodoh Bima. Kebahagiaan ku ada bersama kamu." Galuh masih belum membenamkan semyumannya.
"Bima, lihat ini," Galuh menunjukkan beda pipih yang sedari tadi ia bawa.
menunjukkan dua garis merah yang berharap akan memberikan kebahagiaan juga bagi Bima. "Mungkin aku akan sangat bahagia melihat itu, jika kau semalam tidur di pelukanku. Bukan datang dari rumah mantan pacarmu. Bahkan aku ragu itu milikku," ucapan Bima sudah seperti petir yang menyambar di telinga Galuh.
"Lebih baik kau gugurkan, sebelum kau mence.arkan nama baik keluarga Fedrik. Aku tidak bisa membayangkan betapa malunya aku di depan para pekerjaku."
Hidup Galuh hancur berantakan saat ini. Di tambah dengan ucapan Bima yang seakan tidak menginginkan bayi dalam kandungannya. Bukan hanya itu, dia bahkan meragukan apa yang ada di dalam perutnya.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu menerima dia. Tapi, untuk menggugurkan kandungan, maaf aku tidak bisa. Biar bagaimana pun, dia darah dagingku. Terserah kau mengakuinya atau tidak." Senyum getir mangantar Galuh meninggalkan kamar Bima.
Merasa kesal dan geram, Bima berteriak dan mengacak rambutnya. Bima bahagia, tetapi dia cukup mendidih saat terakhir Galuh membela Jovan dan menjadikan badannya sebagai tameng melindungi bajingan itu.
Pelayan yang melayani Galuh dan Bima merasa curiga dengan ekspresi Puannya. "Kenapa Nyonya muram?"
__ADS_1
"Tidak apa, lanjutkan kerjaan mu. Izinkan aku tidur di kamar tamu." Pinta Galuh.
"Rumah ini milikmu Nyonya, kau bisa tidur di mana pun kau mau. Aku akan menyiapkan untukmu."