
Keluarga Bima bertambah satu orang, tapi tak membuat Galuh bahagia sama sekali. Awalnya Galuh merasa dia hanya kekanak-kanakan karena masih memiliki rasa cemburu pada Vio.
Namun, setelah sekian lama ia tekan, perasaannya bukan tambah tenang. Tapi perasaan itu semakin menyesakkan dada.
Bima jelas tidak akan selingkuh di belakangnya. Cuma, siapa yang tidak akan tergoda, jika terus di suguhi pemandangan yang indah di depan mata?
Seperti saat ini, Bima tampak terpesona dengan penampilan Vio yang di nilai Galuh sangat berani.
Menemani Candra di acara kantor, dres merah se tumit itu memang cantik. Tapi belahan dres yang hampir menyentuh pangkal paha dan memperlihatkan kaki jenjang yang mulus. Jelas itu menarik perhatian setiap mata yang tanpa sengaja memandangnya.
Dress tanpa lengan itu cukup menggoda. Bima bahkan tak berkedip menatap Vio yang memegang erat tangan suaminya.
"Memang, mata lelaki itu nggak bisa berbohong! Keneraka saja sana!" ujar Galuh dengan amarah yang sudah merasuki hatinya.
Padahal, gaun selutut tanpa belahan yang di kenakan, tak kalah bagusnya. Kenapa pula suaminya biasa saja padanya? itu yang membuat Galuh di penuhi dengan emosi yang menyesakkan dada.
Galuh memilih pisah dari Bima yang masih melihat Vio tanpa kedip.
__ADS_1
Galuh melampiaskan emosinya dengan makan begitu banyak kue yang di siapkan di salah satu meja. Galuh mencari kursi di salah satu sudut untuk melampiaskan emosinya.
Namun, tanpa ia sadari bahwa akan ada sebuah peristiwa yang menyakitkan baginya.
"Eh, itu Bu Galuh."
"Jangan ke sana, apa kamu lupa sama cerita yang terakhir beredar? Kamu mau di pecat?"
"Ya enggak lah, gila apa!"
"Ya makanya, lagian apa sih bagusnya dia. Yang aku lihat hanya seorang wanita rakus saja." si penyuka gosip itu melontarkan ucapan begitu tidak enak karena melihat cara Galuh makan dan betapa banyak makanan di meja itu.
"Atau mungkin..... cinta di tolak, dukun bertindak...."
Galuh melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ada orang dengan berani mengolok dirinya di perusahaan suaminya. Sejak kecil, baru kali ini Galuh di permalukan di sebuah pesta seperti ini.
Di tambah dengan suami yang tak memperhatikan dirinya. Mungkin memang dirinya sudah tidak menarik lagi. Tidak bisa, cinta Bima hanya untuk dirinya. Dia tidak boleh menjadi Galuh yang dulu lagi. Lemah pada keputusan lelaki yang ia cintai dan berakhir kehilangan.
__ADS_1
Galuh minum segelas anggur merah sebelum bangkit dan mencari suaminya. Dengan sengaja Galuh menyenggol dua orang penggosip dan melewatinya.
Bima masih di tempat yang sama, hanya saja di sana tak ada Vio. Galuh berbisik "Pulang!" pada Bima dan suami setia itu tak bertanya apa-apa, langsung menggandengnya meninggalkan pesta.
Candra yang kala itu ternyata mendapat teguran dari Bima pun sedikit lega karena kakak iparnya. Ini semua karena Vio, istrinya yang memakai baju begitu seksi.
Rupanya Bima tidak menyukai adik iparnya yang seakan sengaja menunjukkan kemolekan tubuhnya pada para tamu. Apalagi mampu membuat Galuh menunjukkan kemarahan padanya. Jelas ini sangat berbahaya.
"Kenapa kamu minum alkohol?" tanya Bima saat sudah berada di dalam mobil.
"Minumannya ada, kenapa tidak di minum?" jawab Galuh yang ternyata sudah sedikit mabuk.
Mereka berdua masih di parkiran saat ini, Bima baru mau menyalakan mesin mobilnya. Kala Galuh naik ke atas pangkuannya di belakang kemudi.
"Kamu sudah mabuk?" Bima menatap mata Galuh yang tepat di depan matanya.
"Apa aku sudah tidak menarik lagi? Aku bisa telanjang di depan kamu kalau mau. Tapi, tidak bisakah kamu menjaga matamu dari setan dan iblis yang ingin menjauhkan kita?" ucap Galuh sebelum ******* bibir menggoda Bima.
__ADS_1
Bima tersenyum, rupanya istrinya ini mabuk karena cemburu?
"Ya, telanjanglah di depanku. Tapi di kamar, hanya untuk aku."