
Isak tangis terdengar begitu dekat di telingaku. Aku mencoba membuka mata untuk memastikan suara tangisan siapa yang begitu kuat terdengar.
"Reeell, banguunn nak" ucap seorang ibu sambil menangis, namun suaranya tidak begitu asing di telingaku.
"Kamu kenapa bisa seperti ini rel" isak tangis terus memenuhi ruangan yang Aku sendiri tidak tau.
Perlahan Aku mencoba membuka mata untuk mencari tahu suara siapa yang dari tadi memanggil namaku dengan tangisan yang begitu kencang. Di rasa sudah terbuka cukup lebar, Aku sedikit menoleh ke arah sumber suara itu dan ternyata itu adalah ibuku. Air matanya berlinang membasahi hampir seluruh wajahnya, pipi dan matanya sangat merah. Aku yakin ibuku sudah cukup lama menangisiku selama Aku tidak sadarkan diri.
"Bu, farel dimana?" ucapku mencoba bergerak namun aku tidak bisa.
"Kita di Rumah sakit nak, kamu kenapa bisa sampai seperti ini?" Ibu bertanya sembari mengusap kepalaku.
"Tiwi, mana Tiwi bu?" Aku yang terlihat bingung kembali ingat sebelum kecelakaan , jika Aku baru selesai cek cok dengan Tiwi.
"Siapa tiwi rel?" Ibuku mulai menghentikan tangisnya dan berhenti mengusap kepalaku.
"Mana tiwi bu?" Aku masih saja menyebut namanya sembari melirik ruangan itu namun tubuhku terasa begitu sakit.
"Ibu gak tau siapa dia rel, kenapa kamu cari - cari dia?" Ibu semakin heran dengan sikapku.
Perlahan air mataku kembali terjatuh mengingat kembali kalau tiwi sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Di saat seperti ini, sosok Tiwi sangat Aku butuhkan agar dapat semangat menjalani hari - hariku. Namun apa daya, orang yang begitu teramat Alu cintai ternyata sangat mudah mengucap kata perpisahan.
"Sayaang, kamu kenapa nak?" Ibu kembali menangis melihat air mataku yang tiba - tiba saja berderai bak bendungan yang sudah jebol.
Buu.. Tiwi mana buu?" Aku seperti orang yang sudah gila. Tanpa henti aku terus menyebut nama Tiwi.
"Ibuu gaj tau nak, coba Ibu lihat ponsel Kamu" Ibu mencari ponselku yang ternyata masih aman setelah kecelakaan itu. Ibu mulai mencari nama tiwi di ponselku namun tak kunjung ketemu. Namun jarinya terhenti disaat kontak yang bertuliskan "Kecintaanku" berhenti di hadapannya.
"Ini siapa rel?" tanya Ibu mengarahkan ponsel ke hadapanku.
"Tiwi buu" ucapku sembari kembali menjatuhkan air mata.
Mendengar kalau kontak yang bertuliskan "Kecintaanku" itu adalah Tiwi, tanpa pikir panjang Ibu langsung meneleponnya. Namun setelah beberapa kali Ibu menelepon Tiwi, panggilan Ibu selalu ditolak oleh Tiwi sampai pada akhirnya ibu mengirim pesan melalui whatsapp kepada Tiwi.
__ADS_1
"Ibu nelpon siapa?" ucapku melihat aibu sibuk meletakkan ponselku di telinganya secara berulang.
Ucapanku tidak di hiraukan Ibu, mungkin saja dia ingin tau siapa yang telah membuat anaknya menjadi seperti ini. Kemudian tidak lama setelah Ibu mengirim pesan kepada Tiwi yang Aku sendiri tidak tau apa isinya. Tiba - tiba ponselku berbunyi dan ternyata itu panggilan dari Tiwi.
"Halo assalamualaikum" ucap Tiwi terdengar jelas olehku karena ibu menghidupkan mode loudspeakernya.
"Waalaikumsalam" balas Ibu.
"Tiiwiiii" gumamku setelah mendengar suara Tiwi yang membuat hatiku kembali teriba dan menjatuhkan air mata.
"Ini Tiwi?" tanya Ibu.
"Iii...iii..iyaa tan, gimana Farel tan?" dengan suara isak tangis yang terdengar dari sana, Aku yakin kalau tiwi sedang menangis.
"Farel gak apa apa, Kamu siapanya Farel?" tanya Ibu tegas.
"Aaa..aaa..aaaku pacarnya Farel tan" ucap Tiwi gugup sambil sesegukan.
"Kenapa kamu tolak panggilan dari Farel?" Ibu terlihat sangat marah karena sebagai seorang kekasih menolak panggilan pacarnya sendiri.
"Di rumah sakit Cipta Jaya" ucap Ibu jutek karena masih tidak terima alasan Tiwi.
"Aku kesana ya tan, assalamualaikum" Tiwi langsung mematikan telpon.
"Waalaikumsalam" ucap Ibu.
Aku dalam keadaan masih berlinang air mata setelah mendengar suara tiwi dan mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya membuat air mataku begitu mudahnya keluar tanpa henti. Melihat aku kembali berlinang air mata, Ibu kembali mengusap kepalaku.
"Kamu kok sampai tabrakan gini sih nak?" Ibu kembali menanyakan hal yang sama.
"Tiii..tii...tiwi bu" hanya nama Tiwi yang terucap di mulutku.
"Segitu sayangnya kamu sama dia ya?" Ibu mulai mendekati wajahnya kearahku dan mencium keningku dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Tiwiii" air mataku semakin deras mengalir karena sudah lama Aku tidak merasakan ciuman dari seorang ibu.
"Udah nak, kamu jangan nangis lagi" ucap Ibu sembari mengusap air mataku.
Sudah sekitar setengah jam berselang setelah Tiwi mematikan teleponnya, tiba - tiba terdengar suara dari luar.
"assalamualaikum" ucap seorang wanita dari balik pintu kamarku di rawat sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsalam, siapa?" ucap Ibu berjalan mengarah menuju pintu untuk mengecek siapa yang datang.
"Tan" ucap wanita itu kepada Ibu.
"Kamu tiwi?" ucap Ibu dengan nada sedikit terkejut
"Iya tan, Aku Tiwi pacarnya Farel" tiwi mengangguk.
"Yaudah silahkan masuk, itu farel disana" Ibu menyuruh Tiwi untuk masuk melihatku.
Aku yang medengar suara percakapan antara Tiwi dan Ibu, tentunya mencoba menoleh dan melihatnya. Tiwi berjalan menuju kearahku dan dengan cepat kemudian perlahan memelukku.
"Rell... Maafin aku ya" Tiwi memelukku dalam keadaan terbaring dengan suara tangis yang begitu keras. "Ini semua salah Aku, kalau bukan gara - gara Aku kamu gak bakalan seperti ini" Tiwi terus menangis sekencang - kencangnya semabari menyalahkan dirinya.
"Wi, Kamu gak salah kok" ucapku perlahan tangan kananku mulai bisa di gerakkan dan mencoba membalas pelukan tiwi.
Ibu yang melihat Kami saling berpelukan dan menjatuhkan air mata hanya bisa terdiam.
"hhhmmmm...hmmmmmmm...hhmmm..." Tiwi menangis sejadi - jadinya hingga sesegukan.
mendengar Tiwi yang menangis sesegukan seperti itu, Aku pun tak kuat untuk menahan air mataku yang sudah berlinang sejak kedatangan Tiwi tadi. Karena sudah tidak terbendung, pecah lah air mata yang sudah tidak mampu lagi untukku bendung membasahi bantal yang saat ini Aku gunakan.
"Aku sayang banget sama Kamu rel" ucap Tiwi masih saja dalam keadaan menangis dengan pelukan yang semakin kuat.
"Aku juga sayang sama Kamu kok wi" tanpa di sadari tenagaku yang tadinya tidak ada sama sekali, sekarang sudah mampu untuk memeluk tiwi dengan cukup erat.
__ADS_1
Sekitar lebih kurang setengah jam berpelukan, tangis, dan kata - kata penyesalan yang timbul dari mulut kami berdua, akhirnya tiwi mengangkat badannya dari tubuhku. Jilbabnya yang sudah berantakan, matanya sembab dan merah membuat aku menjadi sangat iba melihatnya. Walapun pelukan sudah di lepaskan, namun tangan kanan tiwi mencoba meraih tangan kananku dan menggenggamnya dengan begitu erat tanpa peduli kalau ibuku di sana terpana melihat kisah cinta Kami berdua yang sangat haru.
Bersambung...