Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Akui kesalahan mu


__ADS_3

Pagi menyapa, dua orang yang tengah di mabuk asmara itu masih terus menghiasi kamar mereka dengan desahan hangat tanpa rasa lelah. Kenikmatan yang hampir dua bulan tidak mereka rasakan karena sebuah pertengkaran.


Bel rumah yang berlantai dua itu berbunyi seperti tengah di kejar hantu. Orang yang memencet itu sudah pasti tengah memiliki hutang yang banyak. Bima enggan untuk meladeni bel itu karena belum mencapai puncak.


Perlahan dan pasti keduanya merasakan kenikmatan pula. Dengan enggan Bima turun dari tempat tidur dan segera membersihkan diri. "Mandilah, aku yang akan membuka pintunya."


Masih menegnakan handuk kimono, Bima membuka pintu untuk orang tidak waras itu.


Kepala Raya langsung nongol membuat Bima menggelengkan kepalanya. Raya sudah seperti adiknya sendiri, biar bagaimana pun juga dialah yang menghibur Galuh selama ini.


"Galuh masih mandi, tunggulah sebentar. Lo mau makan apa?" Bima masuk ke dalam dapur hendak membuat sarapan.


"Gue mau pisang aja. Oh iya Bim, lo kapan masuk kuliah? Laki gue kok jadi aneh ya belakangan. Jadi sedikit cuek ke gue, takut tau Bim kalo dia bosen sama gue." Raya mengadu apa yang sudah ia rasakan beberapa hari ini.


"Jangan berprasangka negatif sama laki. Lu berdoa saja tidak ada apa-apa, itu lebih baik." Bima memberikan buah potong juga beberapa buah pisang.

__ADS_1


"Dia gak seperti biasanya Bim. Beneran." keluhnya lagi.


"Kau tau Bim, dia gak mau gue salamin pas mau berangkat atau pulang ngajar. Dan yang lebih bikin gue penasaran itu, dia berangkat pagi-pagi sekali dan pulang hampir tengah malam." tambahnya lagi.


"Lu tenang saja, biar gue yang urus semua." Bima membawa susu buatanya masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua.


Aneh memag kalau tiba-tiba berubah, sudah pasti ada sesuatu di belakan wanitanya jika sudah seperti itu. Bima mengganti bajunya dan Galuh yang sudah siap lebih dulu turun menemui Raya.


"Ray, udah sarapan?" tanya Galuh membawa sandwich bikinan Bima duduk di sofa samping Raya.


"Hebat laki lu. Oh iya, gue minggu depan sudah masuk kuliah lagi. Pinjem catetan lu ya,"


Perbincangan dua wanita itu terputus saat Fairus tiba-tiba masuk ke dalam rumah Bima dan Galuh. "Ada apa?"


Pertanyaan Raya tidak mendapat jawaban, Fairus malah menggeretnya pulang. Bima yang baru saja turun pun tak bisa menghentikan suami itu.

__ADS_1


"Biarkan saja, mungkin ada masalah yang memang harus di selesaikan." Galuh menghentikan Bima yang hendak mengejarnya.


"Di kampus ada dosen baru, dan kabar terakhir yang aku dengar dari Ashar. Dia adalah masa lalu pak Fairus. Tadinya aku tidak peduli dan menganggap Ashar hanya suka bergosip. Tetapi pagi ini Raya mebgatakan kalau pan Fairus berubah total padanya." jelas Bima.


"Ya sudah, kita biarkan saja dulu Raya menyelesaikan masalahnya. Kita lihat saja dulu, kalau di perlukan kita akan bertindak." Galuh tumbuh lebih dewasa saat ini, Bima terlihat semakin gemas.


"Lanjut yuk," bisik Bima.


"Cabul sekali sih. Ayo kalo gitu." Keduanya pun kembali ke kamar.


Sebenarnya tidak untuk mantap-mantap, tetapi meraka tidur mengganti malam tadi bekerja ronda.


Di tempat Raya, Fairus mendudukkan Raya di tepian ranjang. Lelaki itu duduk bersimpuh di depannya, memegang kedua tangannya dan sesekali menciumnya.


Raya bingung, tetapi dua mencoba biasa saja. Dia sadar kalau suaminya 'mungkin' sudah melakukan kesalahan.

__ADS_1


"Duduklah di sampingku, akui semua kesalahan mu."


__ADS_2