
Setelah mendapat serangan dari keluarga suami, hati istri mana yang bisa tenang? Di tambah dengan keadaan yang baru saja melahirkan. Galuh malam-malam dia tiba-tiba panik, dia histeris.
Mendengar suara bayinya menangis, dia merasa ada ketakutan yang begitu besar. Bima yang tidur di sampingnya ikut panik dan ketakutan.
"Galuh... Galuh, kamu kenapa? Aduh, sebentar." Bima bingung mau mengambil yang mana. Di sisi satunya ada istri yang tiba-tiba histeris, di sisi yang lain. Ada anak yang menangis entah dia kaget atau karena kehausan.
"A.... Bima... Bima... kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Aku jelek, aku... Aku.... Aku tidak cantik lagi. Badanku besar, aaa....."
Bima menggendong putranya, dia juga segera memeluk istrinya. Keadaan ini tidak bisa di tangani Bima sendiri. Sedangkan ibunya, Rosmia tidak menginap di rumah ini.
"Tidak ada yang membuat cintaku padamu berubah. Mau seperti apa keadaan kamu, aku tetap cinta. Sayang, tolong jangan takuti aku dengan pertanyaan konyol itu. Sayang, aku mencintai kamu, aku cinta kamu selamanya akan tetap sama." Bima menenangkan Galuh dengan memeluk bayinya.
__ADS_1
Pada saat melihat bayinya, Galuh segera memeluk seperti dia takut kehilangan. Bima tau jika ucapan Vio tidak tepat pada tempatnya. Tapi, Bima tidak menyangka jika istrinya akan memikirkan sampai seperti ini.
"Aku... Aku... Jelek, badanku besar, aku menakutkan." Mata panik Galuh membuat Bima tak sanggup lagi melihatnya.
Sebisa mungkin, Bima membuat Galuh untuk menyusui putranya dan menidurkan bayi itu. Yang paling penting, membuat Galuh tenang terlebih dulu.
"Sayang, tolong jangan berpikir aku meninggalkan kamu cuma karena badan kamu yang sekarang. Kalau kamu mau diet, aku akan memantau langsung. Kalau tidak, juga tidak apa-apa karena aku cinta kamu bukan karena bentuk tubuh kamu. Tapi karena kebaikan kamu dan hanya kamu yang mampu menerima aku apa adanya, dulu." Bima memeluk Galuh dan membuatnya tenang setelah meletakkan kembali putranya ke dalam boks bayinya.
"Stt, jangan bahas dulu. Dulu bahkan aku tidak memberimu rasa aman. Sekarang dan masa depan adalah milik kita, jangan menoleh kebelakang atau melihat orang akan masuk di antara kita. Aku sendiri yang akan menghalaunya, paham?"
Bima tak melepaskan pelukannya sepanjang malam. Tapi, karena dia terlalu lama menemani sang istri. Bima harus memberikan pekerjaan pada ayahnya. Namun, hari ini dia tidak bisa lagi membebani ayahnya. Karena Yasa ke luar kota untuk peninjauan perusahaan baru mereka.
__ADS_1
Bima mau tidak mau harus berangkat kerja dan memimpin perusahaan. Pada saat ini, Rosmia adalah satu-satunya orang yang di andalkan oleh Bima. Ada Mimi yang di harapkan mampu membantu ibunya menjaga istrinya sepulang sekolah nanti.
Pada saat ini, tidak membiarkan Galuh sendirian adalah hal yang paling penting.
"Selamat pagi, Tante." Maya datang membawa masakan yang di masak olehnya sendiri. Masakan ini adalah makanan kesukaan Galuh sewaktu masih remaja dulu.
"Nak Maya, aduh kamu datang lagi. Tante harap kamu jangan merasa terbebani, ya. Tante mendengar dari Bima semalam, katanya Galuh histeris. Tante takut dia merasa sendiri." mendengar penuturan ibu mertua dari adiknya, Maya langsung mencari adiknya di kamar.
"Tidak terbebani sama sekali, Tante. Setiap hari Maya akan datang demi Galuh. Putriku juga sudah mulai sekolah, jadi ada waktu untuk Galuh." Maya terlihat sedikit lega karena Galuh masih tidur.
"Ah, syukurlah. Terima kasih ya nak Maya. Galuh butuh kita, saat ini."
__ADS_1