
Bima membawa Galuh ke cafe miliknya. Cafe di mana Bima pertama kali bekerja dan mendapatkan kepercayaan ayahnya. Semua itu tidak lepas dari peranan Galuh sebagai pemilik cafe, teman dan wanita yang membuatnya bersemangat.
"Hmmm, aku mau pesen kentang goreng sama burger. Dan minumannya aku mau jus alpukat." Galuh memesan menu pada Devi yang saat ini sudah di percaya penuh mengelola cafe miliknya.
"Samakan saja." Bima tersenyum melihat Devi bangga. Dia tidak menyangka, jika Ashar dan Devi akan menikah di akhirnya.
Dua orang yang dulu selalu menurut padanya dan membuat bima tak pernah menyangka.
"Papa, Angga ganteng nggak?" Galuh memangku putranya dengan memainkan tangan bayi kecil itu. Galuh memakaikan topi yang baru saja di berikan oleh Devi padanya dengan suara anak kecil.
"Ganteng kok, anak mama sama papa pasti ganteng. Yang bilang jelek, artinya matanya bermasalah." kata Bima sambil menguyel-nguyel pipi gembil berwarna merah muda milik Dewangga.
__ADS_1
Kebahagiaan mereka berdua seakan memenuhi ruangan. Dunia hanya terlihat mereka berdua dan seorang bayi kecil yang memperlihatkan betapa bersyukurnya seorang Bima mendapatkan Galuh.
Makan siang berlalu begitu cepat, Bima kembali membawa Galuh dan Dewangga ke kantor. Di sana, Bima tidak langsung bekerja. Dia lebih mengajak istri dan anaknya jalan-jalan di taman kantor.
"Galuh, apa kamu bahagia hidup bersama aku?" tanya Bima tiba-tiba.
"Tidak, Aku tidak bahagia." Galuh melihat ekspresi kecewa Bima saat dirinya mengatakan hal itu. Tapi sedetik kemudian dia mencium suaminya yang tampak kecewa.
"Aku tidak bahagia, karena kebodohanku di masa lalu. Seharusnya aku yang membuatmu bahagia, memanjakan mu, menjagamu. Karena aku yang mengajakmu menikah. Kebodohan ku yang terus tergoda oleh Jovan lah yang sering menghantuiku. Aku takut suatu saat, kamu meninggalkan aku karena ini. Aku takut, kebahagiaan ini hanya semu karena dendam mu padaku saat itu." Galuh menundukkan kepala mengaku jika dirinya menyesal.
Ingatan Bima memang sangat tajam, tapi jika menyangkut Jovan.... Bima sudah melupakan sosok lelaki tua Bangka yang sering memprovokasi istrinya untuk meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Bagi Bima, Jovan tidak pernah ada. Dan biar pun ada, Bima merasa bersyukur sudah membuang istrinya. Karena dengan begitu, lahirlah seorang penerus yang begitu tampan dan yang pasti itu anaknya dengan Galuh.
"Jangan pikir macam-macam, sedetik pun kalau bisa. Aku tidak pernah membiarkan mu meninggalkanku. Membahagiakanmu adalah tanggung jawabku. Mungkin memang aku yang pengecut saat dulu, membiarkanmu mengatakan itu. Tapi, percaya atau tidak. Itu yang aku inginkan." Bima memeluk istrinya hangat.
Cintanya pada Galuh dulu, memang tidak bisa ia ucapkan. Tapi sekarang, Bima gunakan untuk penebusan. Pernikahan tahun awal kata orang penuh dengan kebahagiaan. Namun berbeda dengan pernikahan mereka.
Godaan mantan selalu saja hadir di antara mereka berdua. Dua tahun awal, cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun karena usia masih belia, mereka berdua masih sering membesarkan ego mereka.
Setelah sekian lama menikah, dan ini di tahun keempat. Bima baru merasakan cintanya pada Galuh semakin membesar dan membara.
"Janji kamu tidak akan meninggalkanku? Aku sudah kadung nyaman." oceh Galuh yang membalas pelukan suaminya begitu erat.
__ADS_1
Bima tersenyum, dia mencium kening Galuh. "Janji dong. Kapan ucapanku tidak bisa di pegang?"
"Aku tidak memegang ucapanmu, tapi menelannya, hehe." Ucapan anak kecil mana ini? Berani sekali.