
Jalan-jalan sorenya membuat Galuh sedikit jengkel. Pasalnya, di dalam mini market tadi, Bima banyak di lirik oleh gadis-gadis muda dan cantik.
Bahkan, mbak-mbak kasir pun tersenyum ramah dengan mata menggoda. Bagaimana bisa mereka semua mengabaikan dirinya yang berdiri tepat di samping Bima? Astaga, keberanian mereka memang patut di acungi bogem.
"Kenapa sih?"
"Tidak ada apa-apa kakak. Kakak mau tambah apalagi? Sekalian isi pulsanya, biar adek bisa kontek kakak nanti malam." jawab Galuh menirukan cara bicara mbak kasir yang sengaja menggoda Bima.
"Aku rasa itu kasir nggak punya kaca di rumahnya. Iyuh, emang dasar gatel! Besok-besok kalau keluar, oles aja jelaga di mukamu." gerutu Galuh akan ketampanan suaminya yang masih sering di goda gadis kecil.
"Astaga, kamu cemburu? Hahahaha nggak pantes, sayang. Ya sudah sini, kakak mau tambah baby aja boleh, dek?" Bima menarik Galuh yang sejak tadi berdiri di samping kaca memeriksa apa yang kurang pada dirinya ke pangkuannya.
"Nggak mau, masa nambah bayi. Cuma aku yang boleh di masukin ini, yang lain enggak boleh!" jawaban Galuh tegas, dia bicara sambil meremas adik kecil suaminya.
"Sakit sayang, nanti kalau memar gimana? Kan, nggak bisa masuk entar malem." Bima meringis kesakitan.
__ADS_1
Bagaimana tidak kesakitan, posisi duduk begini kan ngumpul. Astaga Galuh, tega nian terhadap suami.
"Entar malem?" tanya Galuh kegirangan.
"Rencana si begitu, tapi...."
"Nggak ada tapi-tapian, sekarang aku mau siap-siap dulu. Kamu masak yang enak, aku mau tambah energi. Biar kamu puas entar malem dan nggak nyari-nyari ****** gatel di luar." Galuh seantusias itu mendengar ucapan Bima. Bahkan dia tak membiarkan suaminya menyelesaikan ucapannya.
Memang Galuh, bikin orang kemrengseng aja setiap hari. Bima membiarkan Galuh bersiap-siap untuk nanti malam.
Galuh memasak ayam goreng, gule kepala ikan dan yang paling penting adalah tumis kangkung. Tadi pagi Galuh sudah meminta untuk di buatkan tumis kangkung di menu makan malam.
Galuh sudah segar, dia harum dan yang pasti cantik juga seksi. Bajunya sih biasa saja, daster rumahan. Tapi menurut Bima, daster yang Galuh kenakan ini cukup membuatnya terlihat seksi.
"Sudah mateng? Wah, mewah sekali makanan hari ini?" Galuh terpesona oleh hidangan yang ada di depan matanya.
__ADS_1
"Khusus buat kamu. Dewangga masih belum pulang dari rumah mama. Apa nggak kita jemput saja dia?" Bima mengatakan apa yang tadi belum sempat terucap.
"ASI-nya masih cukup kata mama untuk malam ini. Besok pagi katanya mau di anterin, kasihan sudah tidur tadi pas aku telepon." jawab Galuh menunjukkan ponselnya. Foto baby gembil yang tertidur pulas adalah pemandangan yang membuat Bima geregetan.
"Mbaknya ikut ke sana, kan?" Galuh menjawab dengan menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, ayo kita makan."
Makan malam ini benar-benar enak. Galuh sampai nambah, katanya masakan Bima semakin enak. "Enak banget sayang, aku mau tambah."
"Tambah saja...."
"Kakak....." balum selesai Bima bicara, sudah di potong oleh sang pengacau.
"Apa!" jawab Bima ketus.
"Kalem dong, aku cuma mau minta di ajarin ini. Kerjaan ini sudah menumpuk semenjak kakak kerja di rumah, katanya." Candra memberikan setumpuk berkas pada Bima dan ke dapur mengambil piring.
__ADS_1
"Sial!"