Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Tak berhenti


__ADS_3

Gara-gara Galuh, meeting jam sepuluh pagi harus di undur hingga jam dua siang. Bima yang baru datang ke kantor jam setengah satu pun menjadi seperti orang yang di kejar setan.


"Pak Bima, semua proposal sudah di siapkan oleh pak Candra. Bapak tinggal bawa saja langsung ke tempat pertemuan." Sekretaris Bima menyampaikan apa yang sudah di berikan oleh Candra.


Bima tak menjawab, tapi dia malah mengambil dokumen yang hendak di bawa untuk bertemu investor. Benar, ada angka yang di rubah. Bima yakin sekali kalau angka itu bukan angka yang di sepakati kemarin.


"Panggil pak Candra sekarang juga. Saya akan mengajaknya untuk bertemu klien. Kamu di sini saja, kerjakan yang saya kasih kemarin." Ucap Bima tak menunjukkan apa-apa.


Sekretaris pun memanggil salah satu atasannya di kantornya.


Tak menunggu lama, Candra pun sudah berada di depan ruangan kakaknya. Walau di rumah, mereka adalah kakak beradik. Tapi di kantor, Bima adalah CEO dan papanya adalah wakil, setara dengan dirinya. Jadi, sebagai seorang bawahan, Candra harus mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk ruangan kakaknya.


Setelah mendengar kata "Masuk" Candra pun masuk ke dalam ruangan. "Ada apa, kak?" tanya Candra masih belum paham.


"Temenin ketemu klien." cuma itu yang di katakan Bima.


Candra yang menyelesaikan proposal meeting kali ini. Jadi wajar jika Bima mengajak adiknya ini. Tapi, bukankah ini tumben?

__ADS_1


Tak mau bergelut dengan pikirannya sendiri, Candra pun segera bersiap-siap untuk ikut kakaknya.


Bertemu klien di sebuah restoran mewah sambil menemani makan siang. Hal ini sering Bima lakukan untuk menciptakan suasana santai namun serius. Dengan jamuan seperti ini, kadang membuat klien merasa ketulusan dan keprofesionalan Bima.


"Selamat datang pak Bima, Tumben di undur pertemuannya. Apa ada suatu hal yang mendesak?" tanya klien yang sepertinya sudah sering bertemu dengan Bima.


"Maaf pak Soni, seharusnya tidak mundur. Tapi istri saya sedikit.... Ya, tau lah istri kalau habis keguguran." Jawab Bima yang sedikit berbohong dan juga jujur.


"Ah, turun berduka ya pak Bima. Memang, kalau istri dalam keadaan seperti itu, kita sebagai suami harus siaga. Baiklah, saya mau menikmati makan siang yang begitu menggoda mata dan mulut saya. Sini saya segera tanda tangan saja."


Tapi....


"Kali ini bukan saya yang membuat proposalnya. Harap di baca dulu, takutnya tidak sesuai dengan kesepakatan kita di awal." Bima menghentikan investor itu untuk bertanda tangan, untuk apa?


Yang awalnya sudah percaya, Soni, selaku orang yang hendak bekerja sama pun membuka proposalnya.


Benar saja apa yang di katakan Bima. Ada angka yang berbeda dengan kesepakatan awal. "Kenapa berbeda seperti ini pak Bima? Apa ada kenaikan bahan baku?"

__ADS_1


"Tidak, tapi biar adik saya yang menjelaskan. Mungkin dia memiliki penjelasan yang tepat untuk ini." Bima melihat ke arah Candra yang sudah kebingungan.


Dirinya merasa sudah menulis angka yang sudah di sepakati.Tapi kenapa masih ada masalah dengan itu.


"Maaf, saya sudah menulis dengan nominal yang sudah di sepakati." Jawab Candra masih yakin dengan apa yang dia perbuat.


"Lantas, kenapa ini angkanya lebih besar?" Bima menunjukkan wajah begitu serius di depan adiknya. Wajah yang tak pernah di lihat oleh Candra dan Nanda sebelumnya.


"Kak, beneran. Sumpah. Baiklah, saya akan segera menggantinya."


"Candra, jangan pernah membawa pulang pekerjaan kantor. Kamu dan papa sudah pisah rumah, aku takutnya kamu kelelahan dan menulis apa yang tidak seharusnya ditulis." Bima mengingatkan sesuatu tanpa menjatuhkan siapa pun.


Apa yang di pikirkan Bima, Candra tau. Tapi bagaimana dengan pak Soni?


"Ini beda satu angka. Aku akan merevisi saja, dari pada lebih lama dan saya tidak jadi buka cabang. Saya percaya pak Bima sepenuhnya."


Pak Soni mencoret satu angka itu dan menandatangani coretan sebagai tanda dirinya sudah melihat kesalahan itu. Kontrak pun sudah di tanda tangani, Bima yang kecewa, tak bisa berbuat apa-apa selain melupakannya.

__ADS_1


__ADS_2