Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Salah langkah


__ADS_3

Pagi menjelang, rasa lelah masih begitu terasa. Galuh tetap menemani sang suami ke kantor. Karena memang itu kemauannya.


Bima selalu mengenakan baju formalnya, kemeja, jas dan mengenakan dasi yang akan mempercantik penampilannya.


Sedangkan Galuh, ibu muda yang masih berusia di pertengahan dua puluhan. Dengan rambut sebahu berponi tipis, rok span di atas lutut di tambah dengan dalaman yang tidak ketat di timpa jaket denim. Membuat body goals Galuh semakin terlihat. Apalagi sepatu moccasin warna hitam yang di kenakan olehnya. Manambah jenjang kaki Galuh terlihat.


Baru masuk kantor, mereka berdua langsung di sambut oleh beberapa investor. Semua melihat terpanah melihat penampilan Galuh dan Bima.


Mereka berdua tidak terlihat seperti suami istri yang sudah menikah lama. Tapi, masih terlihat seperti sepasang kekasih yang baru terjalin. Masih hangat dan mesra.


Di antara para investor dan pemegang saham yang duduk di ruang tunggu lobi. Ada satu sosok yang entah apa keperluannya berada di sana. Dan sejak kapan perusahaan Fedrik yang bergerak di bidang perhiasan dan berlian itu bekerja sama dengan perusahaan Arbi?


Perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan dan perhiasan. Apa tidak terlalu berseberangan? Kenapa bisa bekerja sama?


Galuh juga menatap apa yang tengah menjadi fokus bagi Bima. Sosok yang sudah lama tak menghilang, kini kembali muncul.

__ADS_1


"Apa kabar, Bima dan.... nyonya Fedrik." Jovan dengan penampilan barunya yang terkesan sedikit kurus namun lebih fresh itu mengulurkan tangan pada Bima.


"Ada keperluan apa anda datang ke sini tuan Arbi?" ucapan Bima sedikit sarkas saat menyambut uluran tangan Jovan.


Galuh yang awalnya mengantuk, kini dia bersembunyi di belakang Bima. Entah apa yang membuat Galuh begitu takut pada sosok Jovan sekarang. Mungkinkah ini berhubungan dengan Sasmita Arbi?


"Oh, saya dan perusahaan Fedrik tengah terlibat kerja sama...."


"Di bidang apa? Perasaan perusahaan Fedrik tidak ada yang menjembatani kerja sama dengan perusahaan Arbi." Bima semakin sarkas menghadapi Jovan.


"Nak, pak Jovan ini tengah membangun usaha perhiasan di dalam negeri. Pak Jovan juga masih merintis setelah beberapa hotelnya tutup...."


"Akulah orang yang berusaha meluluh lantakan hotel-hotel miliknya, pa. Dan sekarang, dengan tangan papa sendiri malah meraihnya kembali bangkit! Di luar nalar." ucapan Bima begitu frontal.


Dia bahkan tidak peduli dengan tanggapan orang tentang dirinya sekarang. Orang bebas mengatai dirinya kejam, bebas berpendapat jika dirinya kekanak-kanakan. Tapi kecelakaan Galuh dan selalu menghasut istrinya ini untuk meninggalkan dirinya. Tidak mudah di terima oleh Bima begitu saja.

__ADS_1


"Apa kamu gila, melakukan hal itu?" Yasa tak bisa berkata-kata saat ini. Apa yang di lakukan putranya sudah kelewat batas. Dan itu bisa menyesatkan sang putra di kemudian hari.


"Itu semua karena di negara ini, membunuh adalah kejahatan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menghancurkan usahanya. Papa tidak suka? Apa papa masih berdiri membela dia jika tau apa yang sudah dilakukannya pada Galuh?" Bima terlihat sudah semakin marah.


Yasa tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain menariknya menjauh. Citra yang di bangun Bima bisa saja hancur saat ini. Tapi amarah apa yang membuatnya meledak seperti saat ini?


"Kita ke dal...."


"Tidak perlu, kalau papa masih membela adik dari orang yang menabrak Galuh dan membuatnya tidak bisa memiliki anak lagi. Jika papa masih membela orang yang selalu menghasut dan memaksa Galuh meninggalkan aku tetap di sini. Biar aku yang mundur. Susah payah aku menjatuhkan, tapi papa bantu berdiri. Bima kecewa."


Mata Bima berkaca-kaca, sedangkan Yasa.... dia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan sang putra. Laki-laki yang berdiri di depannya ini adalah mantan tunangan dari menantu tersayangnya? Ini mustahil. Akal dan nalar Yasa di permainkan sekarang.


Kesadaran yang membawa Yasa pada kontrak kerja, tak bisa di batalkan.


"Pak Jovan, kamu akan bekerja sama dengan perusahaan ini. Tetap. Tapi di bawah naungan anak saja, Nanda."

__ADS_1


Inilah jalan tengah yang di miliki oleh Yasa saat ini. Nanda yang menjalankan anak perusahaan, berada di distrik lain. Dan itu cukup menjauhkan Jovan dengan Bima dan Galuh.


__ADS_2