
Niat hati, pulang sebelum jam tujuh malam. Tapi karena terjebak macet. Dewangga baru sampai rumah orang tuanya sekitar jam setengah delapan.
Utari sudah tertidur di pangkuan sang kakak. Seperti biasa, Utari selalu mengganggu kakaknya bekerja.
"Kamu nggak lanjut kuliah, memangnya? Terus saja kau kerja sampai bodoh!" Ucap Dewangga melihat kakak iparnya yang bekerja dari pada belajar.
"Aku belum lulus Dewangga. Kalau masalah kampus, aku sudah lulus tes bidik misi. Aku tinggal menunggu ijazah saja." Narendra memang orang yang sabar menghadapi kedua adiknya. Padahal, dia orang yang sangat dingin pada yang lainnya.
"Selamat kalau begitu. Papa sama Mama mana? Masih ada nasi untukku? Aku lapar sekali." Kata Dewangga yang melihat meja makan sudah bersih.
"Ada, Utari berisik sekali untuk nyisain makanan buatmu. Ini gantiin aku dulu, biar aku hangatin masakannya." Narendra menyuruh Dewangga menggantikan dirinya.
Narendra menghangatkan makanan untuk Dewangga. Bima mendengar suara kompor di nyalakan pun keluar dari kamarnya.
"Dewangga baru sampai?" Tanya Bima.
"Iya Pa, di depan gantiin mangku Utari yang tidur. Pa, kasih aja Dewangga naik motor lagi. Kalau naik mobil memang susah kalau sudah terjebak macet." Ujar Narendra yang kasihan melihat Dewangga tidak lagi di izinkan naik motor setelah menikah.
__ADS_1
"Tapi nanti Utari kepanasan, gimana?"
"Papa, sekarang sudah ada jaket, helm dan sunblok. Biar saja dia kenakan itu, lagian kasihan Dewangga." Narendra masih memastikan papa angkatnya untuk memberikan lagi motor milik Dewangga.
"Ya sudah, setelah makan suruh dia ke ruang kerja papa."
Bima kembali masuk ke dalam kamar. Sepertinya berbincang sebentar dengan Galuh sebelum keluar dan membawa kunci motor milik Dewangga.
Senyum Dewangga mengembang setelah mendapatkan kunci motornya. Kini motor kesayangannya kembali padanya setelah sekian lama. Ah, akhirnya dia bisa membonceng istrinya kesekolah dan tidak akan kena macet lama di jalan.
Utari tadi sudah bangun karena di bangunin paksa oleh Dewangga. Walau hanya berjarak tiga rumah dari rumah orang tuanya. Tetap saja berbahaya jika membonceng orang yang tengah tertidur.
Tapi Utari? Kenapa dia terlihat murung?
"Sudahlah, aku mau tidur."
Malam berlalu dengan Utari memunggungi Dewangga hingga pagi. Dewangga masih tidak tau apa yang terjadi pada istrinya.
__ADS_1
Pagi ini, Dewangga bangun sedikit telat. Dia tidak mendapati istrinya di sampingnya. Bahkan, dia juga tidak melihat tanda-tanda Utari ada di rumah itu.
Dewangga bergegas untuk ke sekolah setelah bersiap-siap.
"Utari pasti sudah sampai di sekolah." ujar Dewangga sambil menjalankan motornya.
Motor melaju kencang, dia tidak melihat sekitar lagi. Padahal, Utari masih ada di rumah Bima dan Galuh. Dia baru saja keluar rumah, karena Narendra sudah berangkat duluan. Utari di serahkan pada Bima untuk mengantarnya.
"Biar saja." kata Bima sambil membukakan pintu untuk Utari.
"Bukan pa, kenapa papa ngasih motornya lagi? Aku enggak suka." cicit Utari seolah dia ingin berteriak tapi tidak bisa.
"Kamu tidak suka naik motor? Kan biar Dewangga cepat sampai rumah sorenya." Bima memberi tau keuntungan memakai motor.
"Tapi motor itu aku sama sekali enggak pernah naik, pa. Cuma kak Nimas saja yang di antar pulang pakek motor itu." Air mata Utari menetes tanpa bisa di bendung lagi.
Bagaimana bisa Dewangga melakukan hal itu di hadapan Utari? Ah, tidak. Itu terjadi sebelum pernikahan. Mengingat mereka berdua tidak pernah pacaran sebelum menikah. Jadi, seharusnya itu tidak jadi masalah, bukan?
__ADS_1
"Maaf, papa tidak peka. Ya sudah begini saja, nanti papa yang jemput kamu. Kamu jangan naik motor itu kalau tidak mau. Sekarang fokus sekolah saja."