
Hari ini Bima benar-benar kerja dari rumah. Dia bahkan tidak melewatkan satu meeting pun, walau menggunakan baju rumahan.
Galuh yang memang juga sudah bosan berada di ruangan Bima. Kali ini dia main bersama dengan Dewangga di dalam boks besar berisikan banyak sekali mainan bola kecil-kecil. Di dalam boks juga terdapat kasur yang tak menyakiti Dewangga jika ia lelah tengkurap.
Bima yang sejak tadi sibuk di ruangan kerjanya, dia penasaran apa yang di kerjakan oleh istri dan anaknya. Suara sunyi yang entah sejak kapan itu, membuat Bima keheranan pula.
Di lihatnya seorang anak bayi yang naik ke atas tubuh istrinya. Di sana, dia juga membuka sebelah dadanya. Dalam posisi terlentang, rupanya Galuh ikut tidur kala memberi asi untuk Dewangga.
"Dasar." Bima mengangkat Dewangga yang kelihatanya sudah sangat lelap dalam tidurnya. Setelah itu, dia mengangkat Galuh untuk pindah ke kamar.
"Aku laper." bisik Galuh malas.
Mata Galuh terpejam, tapi dia juga tidak bisa menahan rasa lapar yang menerpanya.
"Kamu ngigau?"
__ADS_1
"Tidak, tapi aku juga ngantuk. Laper, Bim. Suapin aku." Rengek Galuh dalam gendongan sang suami.
"Ya sudah, tunggu di sini dulu aku masakin." Bima menidurkan istrinya kembali di boks mainan putranya. Dia memasak untuk Galuh makanan yang sehat dan yang pasti cocok untuk ibu menyusui.
Di tengah-tengah menyiapkan makan siang untuk Galuh Pintu rumah di ketuk oleh seseorang.
"Permisi." Sapa tamu itu sopan.
"Ya, sebentar." Bima meletakkan piring berisi lauk untuk Galuh di atas meja. Dia juga membuka celemek yang ia kenakan untuk melindungi bajunya selama masak.
Namun, yang tidak dia duga adalah siapa yang membawanya. Seorang anak magang. Memang sih, dia kerja sudah sekitar dua bulanan. Tapi tetap saja, dia belum resmi menjadi karyawan tetap perusahaannya.
"Ririn, mana atasan kamu?" tanya Bima heran.
"Oh, kak Yulia ketemu klien yang sudah janjian seminggu yang lalu, pak. Makanya saya yang mengantar ke sini." tutur Ririn penuh kesopanan.
__ADS_1
"Oh, iya. Ayo masuk dulu, saya akan menandatangani langsung. Jadi kamu bisa istirahat makan siang."
"Wah, terima kasih pak. Pasti enak makan di rumah bapak, secara bapak kan tidak khawatir masalah makanan." jawab Ririn antusias
Bima memang mengatakan istirahat makan siang. Tapi sepertinya dia tidak berniat mengundang karyawan magang itu untuk makan siang di rumahnya. Namun, jika mendengar dari ucapan gadis berusia dua puluh tahun itu. Sepertinya dia mengalami kekurangan dalam hal makanan.
Bima tak enak untuk mengatakan, jika Ririn sudah salah sangka. Akhirnya dia mengundang Ririn makan siang di rumahnya. Bima terpaksa pula untuk memasak beberapa menu lagi. Menyambut tamu untuk makan siang, tidak baik menyuguhkan makanan hambar. Menurut Bima.
"Sayang, aku laper sekali. Kamu sudah masaknya?" Galuh dari dalam boks mainan itu merengek seperti orang yang sudah tidak kuat lagi bangun.
"Sudah, ayo sini makan." jawab Bima sembari menyiapkan beberapa hidangan di meja.
"Gendong."
Tak banyak bicara, Bima menghampiri istrinya dan langsung mengangkat istri malasnya dari tempat bermalas-malasannya.
__ADS_1
Ririn melihat jelas perlakuan yang di berikan Bima pada Galuh. Dia beranggapan, bos perempuan ini sungguh menyusahkan bos lelaki yang begitu tampan. Mengatasnamakan cinta, hanya untuk membully suaminya yang merupakan pria idaman para karyawan di perusahaan Bima.