Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Buka matamu


__ADS_3

Bima tengah bekerja di ruangan Galuh. Dia menunggu adiknya sepuluh menit sedikit lebih lambat dari jam yang di janjikan.


"Kenapa kamu lambat?" Bima langsung menunjukkan rasa tidak sukanya pada adiknya.


"Maaf kak, tadi Vio ke kantor minta di anterin ke mall dulu." Jawab jujur Candra.


"Kamu sudah makan? Biar di buatin makan kalau belum." jam setengah tiga, seharusnya Candra sudah makan, bukan?


"Belum, Vio tadi ke kantor bawa makanan. Tapi mama udah wanti-wanti nggak boleh makan. Sebenarnya ada apa? kakak juga udah balik ke sini tapi enggak masuk ke kantor."


Tampaknya Candra memang tidak tau apa-apa. Dia bahkan merasa sebuah keanehan dengan kakak dan orang tuanya.


"Kak Galuh kan masih ngurus Dewangga, jadi belum bisa menghendel cafe sama warung secara bersamaan. Jadi mumpung ada kamu, kakak yang urus cafe sama warung untuk sementara." Bima masih belum memberitahu kebenaran yang membingungkan itu pada adiknya.

__ADS_1


"Wah, berarti aku nanti juga harus membantu Vio jaga anak. Jadi enggak sabar deh aku, apalagi kalau lucunya seperti Dewangga." Terlihat pancaran kebahagiaan di mata Candra, berbanding terbalik dengan Bima yang terlihat kaget.


"Apa Vio hamil?"


"Iya, baru jalan dua Minggu. Oh iya kak, kalau orang ngidam itu kan harus di turuti, kan? Vio katanya kepingin sebuah villa di dekat pantai di tanah milikmu itu. Boleh aku tinggal di sana sementara?"


Bima kaget mendengar penuturan sang adik yang begitu polos. Orang ngidam yang terstruktur, apa ini?


"Can, kamu tau sendiri bagaimana kakak iparmu, kan? Dia pasti tidak akan setuju kalau kamu memakai villa itu bersama Vio." Dengan menggunakan nama Galuh, Bima sebisa mungkin menolak keinginan Candra.


"Vio benar, kak Galuh masih belum menerima dan memaafkan dirinya. Kemarin, katanya mobilnya di lempar pengulekan oleh kak Galuh. Padahal Vio cuma mau mendekatkan diri padanya. Kok jahat banget sih kak Galuh?!"


Jujur, Bima yang ada di rumah kemarin jadi kebingungan sekarang. Selain ingin menduduki rumahnya, Vio tak sekalipun mengatakan maaf pada istrinya. Oh, rupanya Vio memerankan dua peran ganda.

__ADS_1


"Iya, kak Galuh memang jahat. Bahkan, kemarin kakak juga hampir membunuh istrimu. Sama-sama jahat, bukan? Tapi kenapa kamu lembek begini?" Bima duduk di meja depan Candra duduk sambil menunjuk dada adiknya itu.


"Maksud kakak apa? Aku lembek di mana? Dia istriku, jelas aku memihak padanya."


"Benar, kamu memang harus memihak padanya. Tapi lihat dulu, dia baik nggak? Jangan buta, kamu wajib tau apa yang sebenarnya terjadi."


Vio benar-benar bahaya, kenapa dia tidak melihat ini kemarin? Oh Tuhan, Bima sudah melakukan sebuah kesalahan besar. Dia bahkan sudah sedikit percaya dengan cerita sedih yang di dongengkan oleh Vio langsung.


"Jangan buat aku jadi bingung, kak." Bima paham, dia langsung menunjukkan sebuah video yang ada di ponselnya.


Sebuah rekaman cctv di rumah Bima kemarin siang. Suara dan juga perlakuan Vio terdengar jelas di telinga Candra. Tidak ada satu kalimat pun yang mengatakan Vio meminta maaf pada Galuh.


Yang ada malah Vio memprovokasi kakak iparnya. Jika saja Candra berada di sana, dia juga pasti akan naik darah dan emosi. Candra sangat malu sekali dengan kenyataan yang di tamparkan oleh Bima padanya. Pernikahan macam apa yang sudah dia jalani sekarang?

__ADS_1


"Cerita Vio itu benar, tapi ketamakan ini juga benar. Buka matamu!"


__ADS_2