Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Surga di mana-mana


__ADS_3

Siang panas terik matahari seakan membakar kulit. Di dalam tenda yang seharusnya hanya sehari semalam. Ternyata mereka berniat menghabiskan weekend bersama.


Bima yang sejak tadi asyik di dapurnya, sedangkan yang lain malah sibuk berenang di pantai. Memang pemandangan yang begitu indah, surganya para penikmat bodi ideal.


Galuh dan Raya hampir tak berkedip melihat ke arah tiga orang yang tengah main air. Oh Tuhan, kenapa badan mereka tidak ada yang buncit? Minimal, seperti orang hamil tiga bulan lah. Biar Galuh dan Raya tidak seperti orang yang mendapat angin segar di tengah gurun.


Bima datang membawa minuman dan beberapa makanan untuk makan siang. Kepiting dan cumi juga kerang, pilihan yang paling tepat saat ini. Apalagi gurita pedasnya, sungguh menggugah selera.


Bima melihat istrinya, melihat bola mata Galuh yang sudah hampir lepas dari kelopaknya. Bima hanya menggeleng kepala, ketika tau apa yang sudah menjadi pusat perhatiannya.


Bima tak mau kalah, dia melepas kemejanya sebelum mendekati Galuh. "Kamu lihat apa?" bisik Bima mengagetkan bumil dan istrinya.


"Astaga, surga di mana-mana." kata Raya jujur.


Shanti dan Devi yang ada di dalam tenda langsung keluar karena Raya. Setelah tau apa yang di teriakkan oleh Raya, mereka juga ikut teriak.

__ADS_1


"Alhamdulillah, rejeki nomplok."


Bima kaget, apa yang di pikirkan orang-orang ini? Niat Bima cuma mau menarik perhatian istrinya aja. Tapi malah menarik perhatian semuanya.


"Pakek bajunya, jangan di kasih liat ke yang lain." Galuh berusaha menutupi badan sixpack Bima.


"Jangan pelit dong, kamu aja tadi juga ampek ngiler liatin Fairus. Itung-itung vitamin buat anakku." kata Raya mengintip dari balik kemeja Bima yang tak di kancing.


"Vitamin buat emaknya, bukan bayinya. Lagian ini laki ganjen bener. Udah sono masuk rumah lagi, aku pelit kalo ini." Kata Galuh masih tak mengizinkan Bima melepas bajunya lagi.


"Ayolah, yang. Boleh ya...." Bima masih merengek, seakan dia masih anak umur lima tahun.


"Hmm, jangan jauh-jauh." pesan Galuh yang akhirnya mengalah pada bujukan mantan dosennya.


Bima dan Fairus ke pantai menyusul Adnan dan Johannes. Bermain air laut, ternyata seru juga. Mereka bahkan lupa kalau sudah memiliki anak dan istri. Bermain pasir dan sepak bola pantai dengan penduduk sekitar.

__ADS_1


Rupanya, Bima tidak hanya menarik perhatian keempat kaum hawa yang ada di villanya. Tapi, ada beberapa wisatawan lokal yang juga menikmatinya dari lokasi yang berbeda.


Siapa yang sangka, badan yang selalu terbungkus baju kemeja itu ternyata sangat menggoda. Terlihat kecil kala memakai baju, rupanya besar dan kokoh sekali saat tak mengenakan baju.


Sepertinya, tubuh kuat itu tidak cuma bagian atasnya saja. Raya melihat ke arah Galuh, pikirannya berkecamuk. Begitu banyak pertanyaan yang ingin terlontar pada sahabatnya ini.


"Ngapai liatin aku? Emang aku ini Roro Jonggrang versi modern?" Tanya Galuh asal bicara.


"Roro Jonggrang? udah jadi patung. Enggak, aku cuma mikir aja. Kalau memang begitu memukaunya Bima, kenapa kamu dulu sampai enggak menyukainya sejak awal?" Tanya Raya yang akhirnya terucap juga.


"Otak mu itu konslet? Seumur-umur, aku belum pernah lihat badan Bima sebelum menikah. Ya kamu pikir cintaku di jalanin sama otak? Enggak, sama hati. Jadi ya, mana tau aku masalah itu...."


"Tapi sekarang kamu suka, kaaannn."


"Ya... i, iya sih aku suka. Tapi kan itu sudah sejak liat Bima pertama." Aku Galuh malu-malu

__ADS_1


__ADS_2