Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Aku yang tidak mau di madu!


__ADS_3

"Calon mempelai?"


Satu kalimat yang membuat Dewangga terdiam mematung. Dia tidak paham apa yang di katakan Nimas. Bukankah dia tau, jika dirinya sudah menikah?


"Nimas, apa maksudnya ini?" tanya Dewangga yang merasa gadis ini semakin gila.


"Calon imamnya Nimas...."


"Jangan pernah sebut itu lagi!" kata tegas dan berani Dewangga membuat ucap manja Nimas terhenti.


"Nak, duduk dulu. Mana Utari?" Bima, dia satu-satunya orang tersabar menghadapi tamu yang tidak tahu diri ini sejak tadi.


"Utari di belakang. Biar dia tidak mendengar...."

__ADS_1


"Mendengar apa?" Utari yang mendengar suaminya berteriak. Dia pun merasa penasaran.


"Utari, kamu itu kan masih kecil. Dan, selama ini kamu di kenal sebagai adik kandung Dewangga. Sepertinya, pernikahan kalian tidak etis deh. Jadi, aku ke sini mau menyelamatkan kalian dari gunjingan masyarakat." tutur bahasa yang lemah lembut, sudah pasti akan membuat siapa saja luluh di buatnya.


Tapi, jika kelembutan itu untuk memisahkan suami istri yang baru menikah? Apa itu tetap terdengar syahdu di telinga?


"Kakak, aku tau kamu terobsesi sama kak Dewa. Aku sebagai seorang wanita yang juga mencintai kak Dewa. Hanya ingin memberi saran, ambil kaca dan coba cari di mana letak keburukan mu yang membuat kak Dewa jijik padamu." Utari, dengan bahasa yang mudah di mengerti. Dia memberikan cermin dari dalam tasnya.


Nimas, sosok gadis yang selama ini di kenal Dewangga sebagai teman yang menyenangkan. Kalo ini, dia melihat sosok asli dari rubah betina ini. Astaga, Dewangga langsung menarik Utari ke arahnya.


Saking keras tarikan Dewangga, Utari sampai membentur dada bidangnya.


"Jaga mulut kamu! Nimas, selama ini aku masih menganggap kamu sebagai teman. Tapi, dengan mengatakan hal itu, aku harap kita tidak saling kenal kedepannya!" Dewangga kecewa, dia langsung menarik Utari untuk keluar dari rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Nak Dewangga, kamu tidak bisa pergi begitu saja. Dulu, papa kamu dan om pernah punya kesepakatan. Kamu dan Nimas menikah setelah dewasa. Dan itu terikat dengan cincin pertunangan ini." Orang tua Nimas mengeluarkan sebuah foto masa kecil Dewangga yang memang masih sangat kecil dengan seorang gadis. Gadis itu pasti Nimas, karena gadis itu juga memamerkan cincin yang menjadi bandulan kalungnya.


"Janji? itu keterlaluan, mas. Karena waktu itu kamu yang memberi cincin untuk mereka berdua. Aku tidak pernah mau menikahkan putraku sejak kecil. Hidup dia, dia sendiri yang menentukan!" Bima mulai naik pitam karena orang tua Nimas yang semakin keterlaluan.


"Bima, kamu sama seperti papa kamu, ternyata! Sama-sama tidak bisa menepati janji." Orang tua Nimas masih saja membuat cerita yang seolah mereka adalah korban janji palsu.


"Terserah kamu mau ngomong apa, mas. Yang jelas, aku sama sekali tidak menjanjikan apa pun pada kalian. Termasuk janji pernikahan. Dan lagi, pernikahan mereka berdua sah di mata agama dan juga negara. Karena sebelum mereka menikah. Mereka melaksanakan sidang penangguhan pra-nikah! Tolong hormati keputusan mereka berdua!" Bima sudah tidak bisa lagi mentolerir apa yang di perbuat para tamunya.


"Papa, sudahlah. Mereka juga tidak akan mengerti."


"Dewa, aku rela menjadi istri keduamu. Jika itu kamu, aku akan mau." Nimas bersimpuh di bawah kaki Dewangga dengan air mata yang berlinang deras.


"Aku yang tidak mau di madu!"

__ADS_1


__ADS_2