Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Sinyal 5G


__ADS_3

Pagi sekali Bima bangun setiap hari, seperti biasanya dia akan memasak sarapan untuknya dan sang istri tercinta. Pelukan Galuh pagi ini terasa sangat erat bagi Bima, tapi dia tidak mungkin untuk mengganggu tidur istri cantiknya.


Di ciumnya Galuh perlahan, melepas pelukan pelan-pelan. Seperti banyak orang katakan, pagi hari para lelaki itu sangat aktif. Sinyal Bima tempaknya sangat kuat pagi ini, sampai ia berani menyibak daster yang di kenakan Galuh.


Terlihat kaki putih mulus nan jenjang dari balik selimut, semakin membuka daster terlihat paha yang menggoda.


"Shit!"


Umpat Bima kala melihat istrinya yang selalu siap perang. Tidak mengenakan dalaman adalah kebiasaan Galuh yang terlupan oleh Bima. Namun pemandangan itu semakin memancing sinyal di dalam sarung kotak-kotak merah milik Bima.


Di elusnya perlahan pangkal paha belakang Galuh, dengan sesekali menyenggol tujuan utamanya. Galuh hanya mendesis geli, tapi Bima semakin gila. Tak mampu menahan gejolak pagi yang menyiksanya hampir setial hari. Bima dengan lembut menempelkan bibirnya pada milik Galuh.


Geli dan terasa aneh, itu yang pertama di rasakan oleh Galuh, sebelum akhirnya bangu dan mendesahkan nama suami tercinta.


"Ssshhhh Bima, aku geli di sana." Bima keget tapi dia mencoba biasa saja, hingga cairan kental Galuh keluar.


"Maaf sayang, aku gak tahan. Sinyalnya iuat banget, kayaknya ini udah 5G deh." kata Bima sedikit serak.


"Dari mana kamu belajar itu? Itu jorok sayang, aku gak mau di cium sama kamu." Galuh ternyata marah, bukannya senang seperti yang ada di film itu.


"Maaf sayang, aku akan mencucinya. Tapi janji mau di cium ya...? pinta Bima memelas.


Galuh tersenyum dan mengangguk serta menggoda Bima, dengan memainkan puncak kembarnya. Bima semaki frustasi, dengan cepat ia melangkah ke kamar mandi.


Galum membuka daster yang ia kenakan, dan pada saat dia akan menggantungnya. Ponsel Bima berdering, satu nama yang membuat Galuh memanas. Jalang, siapakah dia? Kenapa menghubunginya di pagi-pagi buta.


Tepat Bima keluar dari kamar mandi, Galuh mengangkat telfon tersebut. Satu kata yang terucap di ponsel, sama persis dengan kata yang Bima keluarkan.


"Sayang."


Kaget dan panik. Bima langsung melihat siapa yang menelfonnya. Galuh cukup pintar dengan mengeraskan suaranya, tapi Bima? Dia cukup gugup namun tidak mematikan ponselnya.


Entah sengaja Bima tidak meminta ponsel itu dari Galuh, malah dis sengaja membuat istrinya mendesahkan namanya.

__ADS_1


Di cium bibir istrinya dengan rakus, seakan ada yang memintanya. Di mainkan pucuk dada Galuh yang sudah mengeras dan sampai ponsel itu mengeluarkan suara isak tangis. Bima mengambil dari Galuh dan meletakkan di atas nakas sebelum kembali ke dekapan sang istri.


Sekali masuk, Bima tidak lantas menggerakkannya. Hanya mendiamkan di dalam sambil menciumi tubuh Galuh yang memang menggodanya.


"Ssshhhh siapa itu sayang?" desah Galuh namun juga ingin tau.


"Orang suruhan Sasmita." jawab Bima tenang bermain di atas Galuh.


"Ahhh kau tau itu? Kemarin dia mencari ku. Ahh aku marah padanya daaannn...." kalimat Galuh terpotong karena kenikmatannya sudah menjemput.


"Aku tidak akan tergoda sayang, tenang lah. Seberapa cantik dia dan seberapa berpengaruhnya dia. Kamu yang paling utama." Bima merebahkan diri di samping Galuh setelah satu jam lebih bermain.


Tidak di sangka sambungan itu masih menyala, isak tangis pun semakin terdengar.


"Bima, kamu jahat. Aku menaruh hati padamu sebelum kamu bertemu dengan wanita busuk itu. Akulah orang yang paling tulus mencintai kamu, bukan dia." katanya di sela isak tangisnya.


"Biarkan saja, kalau kamu tidak percaya padaku. Ikutlah ke kantor, hari ini aku tidak ada kelas jadi akan ke kantor pagi." kata Bima yang tidak ingin Galuh mencurigainnya.


"Aku lelah Bima, sinyal mu terlalu kuat. Aku ingin isirahat sejenak sebelum nanti berbelanja. Kau mengizinkan aku belanja, bukan?" tanya Galuh seakan tidak terpngaruh oleh wanita bernama 'Jalang' di ponsel Bima.


Ciuman mendarat di bibir Bima berkali-kali hingga berakhir dengan ******* dan tarian indah di bawah selimut lagi.


***


Perut besar Raya tidak menghalanginya untuk berbelanja. Di tambah ia berbelanja di toko bayi.


Fairus yang setia menemani istrinya, tidak segan untuk mencium pucuk kepalanya saat gemas menanyakan ini lucu atau tidak padanya.


Pemandangan ini sungguh menjengkelkan bagi Galuh pastinya. Tapi mau gimana lagi? Dari pada Fairus sebagai suami tidak bertanggung jawab membiarkan istrinya berbelanja dengan sahabatnya.


Suasana panas itu tampak semakin membakarnya, karena mereka tidak segan untuk berciuman.


"Dasar tua bangka bucin." gerutunya yang jelas tidak akan di dengar oleh kedua pasangan itu.

__ADS_1


Merasa jengkel, Galuh menghubungi Bima. Dia baru menyadari jika yang ia bawa adalah ponsel milik suaminya, saat ia membuka layarnya.


mencari kontaknya lalu menghubungi, benar. Bima mengangkat dan berbicara dari sebrang.


"Hallo sayang, kenapa? Kurang uangnya?" tanya Bima.


Wajah Galuh memerah mendengar suara lembit dari suaminya. Diam beberapa detik sebelum kembali menjawab. "Tidak. Aku kekurangan belaian." jawabnya.


"Apa yang tadi pagi kurang?" Bima tampak pandai merayu sekarang-sekarang ini. Kenapa?


"Lihat itu," Galuh mengarahkan ponsel setelah mengubah menjadi panggilan Video.


Meliht kemesraan dosen dan temannya yang sudah menikah. Bima paham apa yang di rasakan Galuh saat ini. "Aku ke sana sekarang."


Bima meninggalkan pekerjaannya demi sang Istri tercinta. Ponsel yang ia bawa adalah milik Galuh, dan dia sangat sadar saat mengambilnya. Itu karena Bima tidak ingin istrinya terus mencurigainnya.


Terlebih dari pengetahuannya, Galuh tidak akan pernah melihat apa-apa di dalam ponselnya.


Di tengah perjalanan, ponsel Galuh berdering. Nama Jovan kembali menyeruak di permukaan. Dengan santai Bima menjawabnya.


"Ada apa menghubungi istri saya? Jangan coba bsrmain belakang hanya karena kakakmu." kata Bima penuh menekanan.


"Tolong, kakak ku sakit parah saat ini." Jovan mengiba pada Bima? Apa matahari sudah terbit dari barat?


"Aku tidak peduli!" Bima memutus sambungan telfonnya sebelum keluar dari mobil dan masuk ke dalam mall.


Naik satu lantai dan nengok kiri, Bima sudah mendapati Galuh tengah memilih baju untuk bayinya Raya. Datang memberikan ciuman di tengah pelukan.


"Jangan pernah berhubungan dengan Jovan lagi!" kata Bima bergetar, seakan dia takut Galuh meninggalkan dirinya.


"Tidak akan. Memang kenapa?" tanya Galuh heran.


"Sasmita yang membuat kita kecelakaan. Dia sengaja membuat kamu keguguran, aku sudah kemenjarakan dia." jawab Bima.

__ADS_1


Galuh terkejut, seharusnya Sasmita senang jika dirinya tetap bersama dengan Bima. Bukan kah dia yang menentang hubungan Galuh dengan Jovan dulu? Tapi apa ini?


"Aku ingin dia membusuk di penjara."


__ADS_2