
Malam hari keluarga Bima sudah tiba di kediaman baru mereka. Ayah Bima tampak tidak nyaman tinggal bersama dengan menantu pertamanya. Itu bisa di rasakan oleh Galuh saat mereka makan malam bersama.
"Apa ayah tidak nyaman tinggal di sini?" Galuh memang bukan orang yang pandai basa basi. Sehingga dia akan mengatakan tidak suka jika dia tidak mau.
"Bapak tidak biasa tinggal di rumah mewah seperti ini, nak. Jangan kecil hati." Suara ayah Bima mengecil dengan mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan.
"Kalau tidak sekarang, kapan lagi bapak akan mulai membiasakan diri?" Itulah Galuh yang tak bisa menata ucapannya.
"Galuh, bapak sama ibuk mungkin lebih nyaman tinggal di rumah yang lama." Bima mencoba memberikan pengertian.
Memang dasar Galuh keras kepala, kali ini dia sungguh sangat marah. Galuh menampar meja sekuat ia mampu. "Apa aku akan betah tinggal di rumah mewah yabg di hasilkan dari jual tanah orang tuamu? Sedangkan mereka tinggal di rumah sepetak untuk beramai-ramai? Apa aku sebegitu egois, Bima?"
Semua terdiam dengan apa yang di ucapkan Galuh. Ayah Bima terlihat terkejut seketika, namun ia kembali menata ekspresi wajahnya sebelum Galuh menyadarinya.
"Bukan begitu nak. Ibu sama Bapak baik-baik saja di sana. Kedua adik Bima juga sudah tinggal di asrama, dan kami sekarang hanya tinggal bertiga dengan Mimi. Jangan khawatirkan kami, kalian hidup rukun saja sudah membuat ibu dan bapak sudah ikut senang." tutur Ibu Bima.
"Iya itu benar, nak." Ayah Bima menimpali.
"Kalian sungguh lucu, aku ini menantu bukan anak kalian. Kenapa kalian tidak sungkan menolak ajakan ku? Baiklah kalau begitu, ibu dan bapak menolak tinggal di rumah mewah ini hanya untuk melihat Galuh dan Bima rukun kan? Besok kita kembali ke kontrakan saja, sayang. Aku juga tidak akan pernah betah tinggal di rumah ini sendirian." Rajuk Galuh.
"Baiklah, baiklah. Bapak sama ibu akan tinggal di sini, tapi dengan satu syarat." akhirnya usaha Galuh tidak sia-sia.
__ADS_1
"Apapun itu pasti akan Galuh turuti. Asal tidak memintaku pisah dari Bima." Mendengar ucapan Galuh, Bima sempat ingin tertawa, tapi dia hanya bisa menahan.
Bukankah dia yang selalu meninggalkan Bima? Kenapa sekarang malah sebaliknya?
"Kami tinggal di sini sebagai penjaga rumah dan pembantu kalian. Sejujurnya bapak tidak bisa tinggal hanya dengan melihat kalian bersusah payah menanggung kami." Ayah Bima mengatakan syaratnya.
Tanpa ragu Galuh langsung menyetujuinya. Bima kaget dengan jawaban Galuh, tapi dia ingat akan jawaban Galuh sebelumnya. 'Asal tidak berpisah dengan Bima, dia akan menuruti' apa pun itu syarat dari Bapak dan Ibu Bima.
Setelah makan malam, Bima merapikan piring dan makanan sisa di meja. Galuh membantu Bima dengan suka rela, tetapi dengan cepat Bima mengambil apa yang di pegang Galuh.
"Masuklah ke dalam kamar, tunggu aku di sana." bisik Bima membuat pipi gadi itu menjadi memerah padam.
Orang tua Bima hanya tersenyum melihat Bima yang menggoda Galuh. "Lihat itu anak kamu. Sepertinya kita tidak salah memilih menantu." Ibu Bima tak tahan untuk tidak berkomentar.
Setelah Galuh hilang dari ruangan itu, Ayah Bima langsung mendekati putranya bersama dengan suaminya. "Bagaimana ini? besok Papa ada meeting dengan perusahaan asing untuk membahas bahan berlian yang akan di investasikan."
"Besok Bima yang akan mewakili. Kalian tetap di rumah bersama menantu keras kepala kalian." Bima tersenyum mengingat betapa keras kepalanya Galuh tadi.
"Kamu itu! Mau sampai kapan kamu akan mengakui siapa dirimu sebenarnya? Kasihan nak Galuh. Keluarga Fedrik juga butuh pewarisnya, bukan cuma sekedar bekerja melanjutkan hasil keringat kakek kamu dulu." Ucap Yasa Fedrik yang menjadi lebih tegas dan berwibawa.
"Haduh, mama lupa dua hari lagi juga ada arisan keluarga. Pasti mereka akan menanyakan lagi menantu cantik mama." Rosmia Fedrik tak kalah heboh dari suaminya.
__ADS_1
"Aku sudah sempat bicara itu, Ma Pa. Hanya menantumu itu gak mau mengakui, malah gak percaya. Galuh bahkan berpikir kalau aku jual ginjal buat beli rumah ini. Dia juga lebih percaya kalau Bima mencuri toko perhiasan dari pada pemilik toko perhiasan itu. Sudahlah jangan di bahas lagi masalah ini, selama masih bisa Bima tangani. Pasti Bima akan tetap berusaha." Bima mengelap tangan yang basah karena air cucian piring.
"Ya sudah kalau begitu, sana susul istri kamu. Pasti sekarang sudah jengkel kamu gak masuk-masuk kamar." goda Rosmia pada putra yang kini tengah di mabuk asmara itu.
"Ya sudah kalau begitu Ma, Bima naik dulu." Bima meninggalkan kedua orang tuanya yang masih menatap punggungnya gemas.
Di dalam kamar, Galuh mengenakan baju tidur berbahan sutra pembelian Bima yang ia katakan hanya berbahan satin biasa. Galuh tampak menggoda, namun Bima masih harus menahan diri demi kuliah mereka.
"Besok aku di warung sampek malam ya, sayang. Kamu di rumah saja temani pembantu sama tukang kebun baru itu bekerja." goda Bima.
"Jahat sekali sih kamu sama orang tua." Galuh memukul lengan Bima yang tangah terkeke geli.
"Ya kan kamu sendiri ya g menerima itu semua."
"Itu biar mereka mau saja tinggal di sini." Suasana kamar hening sejenak, karena Bima masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti baju tidurnya.
"Bim, kamu gak bilang kan ke orang tuamu. Kalau aku tidak bisa masak?" Galuh nampak ketakutan akan hal itu.
"Ibu sudah tau, kalau bapak mungkin belum. Kenapa emangnya?" tanya Bima menaiki ranjangnya.
"Aku malu," cicit Galuh.
__ADS_1
"Aku yang akan masak, ibu pun masakannya juga gak enak. Sudah tenang saja, keluargaku tak akan masalah hal itu." Bima menggiring Galuh mendekat padanya dan tidur dalam pelukannya.