Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Ketakutan Bima


__ADS_3

"Tidak perlu." Galuh datang langsung memeluk tangan Bima posesif.


"Oh, ada Galuh. Posesif sekali, Bu? Awas Lo entar di rebut orang lagi, sepertiiii...."


Plak


"Seperti siapa? Siapa pun yang berani merebut milikku, aku pastikan dia tidak akan hidup dengan tenang." Galuh menyeret Bima yang sudah membayar belanjaannya.


"Tangan kamu sakit, sayang?" tanya Bima setelah jauh dari supermarket itu.


"Sakit banget, sayang. Lihatlah, merah sekali tangan ku. Bener-bener tebal sekali mukanya." keluh Galuh sudah berubah manja.


"Hahaha, besok-besok jangan kamu sendiri yang lakuin. Biar aku yang membalasnya." kata Bima penuh kasih.


Bima dan Galuh pulang ke rumah. Gadis yang tengah berbadan dua itu memang terlihat biasa saja. Tapi hatinya masih terasa panas, melihat Bima bertegur sapa dengan lawan jenisnya.


"Sayang, mau di bikinin jagung bakarnya sekarang?" tanya Bima membawa belanjaan ke dapur.


"Mau kamu saja." Galuh yang tadinya berniat ke kamar lebih dulu. Harus terhenti dan kembali mencari suaminya ke dapur.


"Aku cuma mau kamu di samping aku sekarang dan selamanya." Galuh langsung memeluk Bima dari belakang.


"Oke nyonya Fedrik, suamimu ini hanya akan ada di samping kamu. Selamanya." Bima membalik badannya dan langsung mengangkat istrinya ke kamar.

__ADS_1


Hal yang paling di inginkan Galuh hanya tidur di pelukan Bima. Tangan Bima yang mengelus perutnya, membuat Galuh semakin nyenyak tidurnya.


"Hallo, sudah ada hasil?" tanya Bima yang sejak tadi menunggu kabar dari orang yang dia tugaskan untuk mencari informasi.


"Sudah saya kirim ke email anda. Sepertinya nyonya akan dalam bahaya. Kemarin saya mendengar Jovan akan pulang ke Indonesia dalam waktu tiga hari kedepan. Kemungkinan dia akan mencari nyonya untuk mempertanggung jawabkan atas kehilangan kakaknya, Sasmita."


"Pantau terus, Sasmita memang harus segera di lenyap kan." kata Bima dengan nada dingin.


Galuh memang ada di samping Bima, tapi dia terlelap dalam buaian. Jadi tidak sama sekali mendengar apa yang di katakan Bima.


Jovan, sampai kapan lelaki itu akan menyerah? Dia adalah gambaran pecundang yang sebenarnya. Potret pecundang dalam kehidupan nyata.


Tidak mau mengalah, meski dia sudah di buang berkali-kali. Mungkin, jika dia di katakan sebagai parasit, juga tidak berlebihan.


Dia takut, kalau misalnya Galuh akan kembali tergoda oleh lelaki itu. Biar Jovan seorang lelaki tua, pesonanya tidak bisa di ragukan.


Sosoknya yang tinggi, putih dan memiliki paras yang begitu mempesona. Gadis belia mana yang tidak tertarik pada lelaki itu?


Pagi-pagi sekali Bima sudah tidak ada di samping Galuh. Baru saja membuka matanya, Galuh langsung menangis histeris.


"Bimaaaaa huhuhuhu jahat sekali kamu..." tariak Galuh sebisa ia di sela-sela Isak tangisnya.


Bima di dapur, dia sengaja bangun sangat pagi karena ingin membuatkan jagung keju untuk Galuh. Mendengar istrinya menangis dan berteriak, Bima langsung naik ke lantai dua di mana istrinya tidur.

__ADS_1


"Hei, jangan nangis sayang. Aku di sini." Bima langsung memeluk Galuh yang sudah menangis sesenggukan.


"Jangan tinggalkan aku."


Entah kenapa Galuh menjadi orang yang sangat manja. Bukan, dia tampak seperti ketakutan dan merasa tidak aman. Jika di ingat, dia adalah istri sah bagi Bima. Dia juga nyonya di rumah ini.


Lantas, apa yang dia takutkan?


"Apa yang tengah terjadi?" kali ini suara Bima tidak terdengar baik-baik saja.


Galuh menunjukkan sebuah pesan yang di terimanya kemarin sore. Dia tidak ingin membuat Bima berpikir jika dirinya terlalu posesif. Tapi pesan yang di kirim tadi subuh, membuat Galuh semakin takut.


Foto itu terlihat seperti Bima tengah memeluk seorang wanita, siapa itu? Tampaknya juga bukan sebuah foto editan. Itu murni, foto asli.


"Dia adikku, kamu ingat mereka bukan? Dan yang di peluk itu adik Perempuanku yang paling kecil. Besok mereka tiba di Indonesia. Aku tidak berharap kamu melupakan adik-adikku." kata Bima tersenyum.


"Tapi, sayang. Seinget aku, adik-adik kamu itu kurus kering semua. Tapi mereka?" Galuh masih tidak percaya.


"Dalam dua tahun, kamu merasa perubahan ku tidak? Sama seperti aku, mereka juga melakukan perubahan. Terutama pada bentuk badan, mereka juga bisa menghasilkan uang sendiri. Jadi, tidak ada salahnya mereka merawat tubuh dan wajahnya." kata Bima sangat logis.


"Siapa ini?"


"Sasmita."

__ADS_1


__ADS_2