
Pagi hari mendung membangunkan Galuh dari tidur yang kurang tenang. Karena merasa sangat lapar, Galuh beranjak dari kasur empuk dan selimut tebalnya.
Galuh berjalan ke arah dapur, dia bertingkah seolah koki handal. Menyalakan kompor dan menaruh penggorengan di atasnya, baru menyiapkan bahan makanannya.
Sayur mayur, telur dan beberapa buah sosis telah di siapkan. Tetapi dia merasa ada yang kurang, tapi apa itu? Nasi. Benar, tidak akan menjadi nasi goreng jika nasinya tidak ada.
Galuh mengambil satu mangkuk kecil nasi putih kemarin. Di rasa semua bahan sudah lengkap di siapkan, Galuh mulai memasak.
Tetapi.
Pada saat Galuh memasukkan bumbu uleg ke dalam penggorengan. Tiba-tiba asap hitam membumbung tinggi. Sang koki dadakan pun panik, akhirnya dia teriak-teriak dan membangunkan orang rumah.
Pagi itu sebenarnya masih cukup gelap, hanya perutnya tidak bisa bertahan.
__ADS_1
Bima dan pelayan langsung menghampiri Galuh di dapur. Melihat asap tebal, dengan sigap Galuh mengambil pemadam kebakaran portable yang menggantung tidak jauh dari pintu masuk dapur.
Sungguh di sayangkan, Galuh sudah jatuh pingsan saat api berhasil di padamkan. Bima bingung, kenapa hal ini bisa terjadi? Suami itu kembali ke dapur setelah memastikan istrinya aman bersama dengan pelayan di kamar.
Melihat sekilas, Bima yakin jika Galuh akan membuat nasi goreng. Tapi entah bagaimana caranya penggorengannya yang ikut gosong?
Bima melanjutkan acara masak Galuh sebelum kembali ke kamar. Nasi goreng setelah petaka pun jadi, Bima membawa ke kamar lengkap dengan teh hangatnya.
"Aku juga gak tau Bim, tiba-tiba saja apinya naik saat aku memasukkan bumbu ulegnya." Jawab Galuh jujur.
"Bumbu uleg? Memang kamu tidak menambahkan minyak pada penggorengan?" tanya Bima.
"Menambahkan kok, seperti yang pernah aku lihat di tv. sedikit minyak sayur, sedikit mentega biar harum. Tapi apinya naik, aku kaget dan.... Mungkin minyak sayur musuhan dengan mentega, dia merasa kalah saing. Mentega jauh lebih premium dari pada minyak sayur." jawab Galuh mengutarakan asumsinya.
__ADS_1
"Tidak ada yang namanya bahan makanan baperan. Memang tadi kamu menyalakan apinya seberapa besar?" selidik Bima.
"Tak penting apinya besar atau kecil, mereka sama-sama panas bukan?" dari jawaban Galuh yang seperti ini, Bima bisa mengatakan jika istrinya tidak pandai di dapur.
"Apa kau mau membakar rumah dengan tidak memperhatikan besar kecilnya api? Kau membuatku Khawatir Galuh. Di masa depan, jangan kau sentuh dapur ku, kau cukup menjadi penikmat makanan ku saja." Bima meski dalam keadaan emosi, dia tetap berusaha mengatur kelembutannya pada sang istri yang mungkin belum pernah maauk dapur.
"Maaf, tapi tadi aku lapar sekali." Galuh memeluk Bima yang tengah marah, dia tau kalau salah. Dengan meminta maaf sepenuh hati.
"Kau bisa membangunkan ku kapan pun kau ingin makan." Bima tidak bisa berlama-lama marah oada wanitanya.
Setlah nasi goreng sudah tandas tak bersisa, Bima membawa wanitanya kembali tudur di sampingnya hingga mentari menampakkan wajahnya.
Jika di waktu tadi Galuh tidak tidur dengan benar, berbeda dengan saat ini. Tidur di pelukan Bima, cukup memberikan kehangatan dan kenyamanan.
__ADS_1