
Jam setengah sebelas, kelas Utari masih belum istirahat juga. Padahal, jam istirahat terhitung dari jam sepuluh. Sudah molor sekitar setengah jam, tapi masih belum ada tanda-tanda untuk istirahat.
Dewangga geram dengan apa yang di lakukan oleh guru ini. Bagaimana bisa, dia tidak memberikan waktu istirahat untuk anak didiknya.
"Permisi, pak? Apa jam di kelas ini sudah mati?" Dewangga, dia dengan beraninya, masuk ke dalam kelas Utari.
"Tidak, kenapa?" Tanya guru biologi yang terkenal sangat galak itu.
"Apa bapak lupa, kalau jam istirahat sudah berlalu sekitar setengah jam?" Tanya Dewangga yang terlihat seperti pahlawan di depan adik kelasnya.
"Saya sengaja tidak memberi izin mereka untuk istirahat. Buang-buang waktu yang tidak penting saja. Kenapa? Kamu keberatan?" Guru biologi bernama pak Nando itu sudah keterlaluan.
Bagaimana bisa dia sengaja tidak memberi izin istirahat pada muridnya? Dewangga sangat geram, walau dia sudah tidak menjadi ketua OSIS lagi.
"Baik, bapak mengatakan kalau istirahat adalah membuang-buang waktu. Setelah ini, bukankah kelas ku? Saya sangat mengunggu anda di jam itu. Selamat mengajar, bapak Nando." Kata Dewangga tidak menyela lagi dan segera keluar dari kelas Utari.
Dewangga sudah tidak terlihat lagi, inilah kesempatan yang di ambil oleh guru biologi.
__ADS_1
"Baiklah anak-anak, jam pelajaran bapak, kita akhiri sampai di sini. Sampai jumpa Minggu depan." Kata guru biologi dan segera keluar dari kelas.
"Loh, baru juga saya tinggal beberapa menit yang lalu. Kok sudah udahan, pak?" Dewangga ternyata ada di depan kelas Utari. Dia tidak meninggalkan jauh-jauh guru yang mengatakan tidak mau membuang-buang waktu itu.
"Saya... saya... saya ada kerjaan lain di kantor." jawab guru itu terbata-bata.
"Baik, silakan." Dewangga menyilakan guru itu untuk pergi dari hadapannya.
Sebagai gantinya, Dewangga masuk ke dalam ruang pengawas dan memencet bel masuk kelas.
Utari dan kawan-kawan merasa jengkel. Belum sampai keluar kelas, mereka sudah harus masuk lagi ke pelajaran selanjutnya.
"Hahahaha, ini makan roti bareng aku. Semoga aja jam pulangnya juga maju. Kan lumayan pulang jam sebelas." Kata Utari yang saat itu menikmati roti bekal yang di buatin oleh Dewangga.
"Wah, enak ya." Kata Denis yang juga mengambil roti di depannya.
"Iya dong, makan apa aja kalau sudah laper banget itu pasti enak rasanya." Jawab Utari sambil mengambil rotinya lagi.
__ADS_1
Roti Utari ternyata berisi banyak. Mereka bertiga saja sampai kekenyangan. Lihat saja Denis dan Tata, mereka seperti sudah tidak sanggup lagi makan. Padahal masih ada satu potong roti lagi di kotak bekal Utari.
"Tar, Dewangga bikinin kamu roti itu dari apa sih? Kok sedikit sekali sudah kenyang banget?" Tanya Denis yang merasa lambungnya besar, ternyata tidak sanggup menampung lagi walau hanya terisi beberapa potong roti isi.
"Roti isi cinta, hahahaha." jawab Utari dengan becandaan.
"Sialan emang, kenyang makan cinta ya ini. Hahahaha...." Denis tetap mengunyah makanannya walau dia mengatakan sudah sangat kenyang.
"Makanya, cari pacar. Biar bisa kamu makan bekal rasa cinta." sahut Tata yang juga gemas dengan jawaban Denis.
"Besok, kalau tuan putri mau sama aku. Langsung aku ajakin kawin aja." Kata Denis melirik salah seorang teman yang duduk di depan.
"Masiiihhh aja nungguin putri. Tau, dia baru aja jadian sama si Yosan."
"Yosan permen karet itu? Sialan juga anak itu lama-lama."
"Yosan kan wakilnya kak Dewa, jelas dia mau sama si letoy itu...."
__ADS_1
Percakapan bercandaan itu sangat seru, sampai-sampai tidak sadar. Kalau guru agama sudah ada di ruangan mereka.