
Mendengar istrinya di salahkan oleh teman-temannya, Bima langsung mengutus orang untuk menyiapkan mobil. Bima bukan orang yang suka pamer sebelumnya, karena dia tidak boleh menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Tapi, kali ini berbeda. Galuh, istri tercintanya mendapat perlakuan yang salah dari teman-temannya.
Dengan kecepatan tertinggi, Bima mulai membelah jalanan kota. Baru di depan gerbang, Bima sudah di cegat keamanan.
"Maaf, ada keperluan apa?" kata pak tua yang terlihat semakin tua untuk ukuran penjaga sekolah.
"Pak, ini aku, Bima." dengan bangganya Bima menyebut namanya sendiri.
"Ah, tidak mungkin. Den Bima dulu kan orangnya sederhana. Masa hanya dua tahun bisa berubah begini?"
Merasa di ragukan, Bima turun dari Porsche warna hitam. Dengan masih mengenakan baju formal kerjanya, Bima menyapa bapak tua tersebut.
"Sekarang sudah percaya?"
"Ya Allah Ya Gusti pengeran, Ini benar Den Bima yang sering ngajak makan bakso di depan kalau lagi nunggu neng Galuh. Sudah sukses sekarang? Bapak ikut senang." air mata pak penjaga sekolah mengalir tanpa bisa di sanggah lagi.
Anak yang selalu terluka dan minta di obati itu, kini sudah menjadi orang sukses. Memakai baju bagus dan juga mobil mewah. Dia tidak seperti anak sekolahan yang dulu ia kenal selalu pakai baju seragam lusuh.
"Bapak yang paling berjasa buat Bima, sampai kapan pun aku tidak akan pernah lupa. Bapak tinggal di mana? masih di gudang sekolah bareng istri?" tanya Bima sambil menggandeng bapak penjaga untuk masuk ke dalam area sekolahan.
"Istri bapak pulang kampung seminggu lalu. Anak mau lulus SMA tahun ini, mungkin setelah lulus biar ikut ke sini cari kerja." kata pak penjaga keamanan.
"Baiklah, nanti kalau sudah di sini. Bapak hubungi saya, nomernya masih yang lama. Saya sendiri yang akan memberi dia pekerjaan. Saya ketemu Galuh dulu ya pak. Bisa parkiran mobil saya?" Bima memberi kesempatan pak penjaga sekolah yang terlihat kagum pada mobilnya tadi untuk mencobanya.
"Baik-baik," dengan senang hati Bima memberikan kunci mobilnya pada bapak tersebut.
Bima melangkah mencari istrinya berada. Dia ingat, kalau sudah ada Yoga, pasti mereka pada ngumpul di dalam kelas mereka dulu.
"Hai sob, apa kabar ni?" Bima berteriak dari pintu pada teman-temannya.
__ADS_1
"Widiiihhhh keren ni, roman-romanye bukan mahasiswa universitas biasa ini. Lu udah kerja?" Yoga datang menyambut.
"Gue? Udah kerja juga udah menikah, tapi masih kuliah. Sama kek lu pada." jawab Bima berjalan mendekat pada yang lainnya.
"Menikah? Sialan anda-anda semua ini, menikah tidak ada yang mengundang. Ini, kalian harus datang di pernikahan kami kalau gitu." Yuda memberikan undangan.
"Eh, siapa ini? Laku juga lu, oh sama Zara? Gile, cinta bersambut ini ceritanya?" Bima menanggapi dengan kehebohan seperti biasanya pada teman-temannya.
"Iya, cinta mereka bersambut. Cinta elu doang yang kagak bersambut. Btw, siapa istri elu?" Yoga yang tadinya kaget kaget pun jadi penasaran.
Jadi mereka berdua sudah memiliki pasangan masing-masing. Tidak heran kalau Bima bisa melepas Galuh begitu saja. Pikir Yoga merasa bersalah pada Galuh.
"Ada deh, nanti juga tau. Eh, mana Galuh?" tanya Bima yang tidak melihat istrinya sama sekali di dalam ruangan.
"Toilet sebentar katanya. Sudahlah, lo sudah tidak punya harapan. Dia sudah menikah juga, dan Lo udah nikah juga. Lo nikah udah berapa lama? kok gak undang-undang sih?" tanya Yoga sedikit tidak bersemangat.
"Dulu gue nikah masih belum ada apa-apa. Dan sekarang gue sibuk banget ngurus kerjaan." Bima melihat ekspresi teman-temannya yang mulai kepo menunggu jawaban berapa lama menikah, merasa geli sendiri.
"Hahaha kalian kepo banget ya, berapa lama gue nikah? Gue nikah udah hampir dua tahunan." jawab Bima dengan senyum mematikannya.
"Jangan tergoda Ama gue, istri gue macan. Manis dan cantik, jadi gue gak akan tergoda." kata Bima menghalau godaan teman sekelasnya itu.
"Tunggu, hampir dua tahun? Berarti, lu lulus sekolah langsung kawin dong? Udeh berapa anak elu?" Yoga baru menyadari.
"Iya..." jawab Bima terpotong oleh suara yang familiar.
"Udah Dateng? kok gak bilang?" Galuh berjalan ke arahnya.
"Maaf, tadi ngobrol dulu sama pak penjaga sekolah. Jadi kelupaan. Dari mana?" tanya Bima yang seakan tidak percaya pada pernyataan Yoga yang mengatakan Galuh di toilet.
"Dari depan terus ke depan nunggu kamu. Tapi lihat mobilmu aja," jawab Galuh terdengar manja.
__ADS_1
"Jijik Luh, inget suami di rumah." kata Yoga mencibir.
"Tadi kata Lo, gue harus nemanin Bima kalau Dateng. Lagian, lu juga gak inget laki gue pas nyuruh nemenin Bima." jawab Galuh membalikkan ucapan Yoga.
"Gue salah, tapi kayanya Bima sudah gak ada rasa sama elu. Dia sudah menikah juga, jadi jangan jadi orang ke tiga lu." Yoga memang teman sejatinya Bima.
"Hahaha udah gak apa, emang Galuh kok yang nemenin gue dua puluh empat jam." kata Bima membawa Galuh duduk di sampingnya.
"Galuh? Elu? Apa kuping gue congean ya? jadi kalian....?" Yuda terkejut dengan pernyataan Bima yang secara tidak langsung mengatakan jika Galuh lah istrinya itu.
"Iya, dan kami belum punya anak. Seharusnya sudah punya, cuma Tuhan belum memberikan kepercayaan pada kami." jawab Bima yang terlihat lebih dewasa saat ini.
Yoga tidak bisa bicara apa-apa saat ini. Yang ada di bayangan dia, Galuh dan Bima dua orang terbresngseek di sekolah. Bisa menikah dan terlihat jauh lebih dewasa sekarang.
"Bima, Lo buat kamu baper tau. Lo diem-diem nikahin Galuh. dan bersikap manis banget seperti ini, apa Lo gak kasian sama para jomblo?" Valeri tidak bisa menahan diri untuk tidak mengucapkan kata itu.
"Hahaha, maaf kalau gitu." tawa kembali pecah di antara mereka.
Di dalam kelas itu sudah tersedia berbagai macam makanan. Makanan itu di susun di meja bangku melingkar. Mereka menikmati makanan yang tersedia, termasuk Galuh dan Bima.
"Tunggu deh, tadi Galuh bilang. Suaminya itu seorang CEO muda berbakat, jangan-jangan...." Bima tersedak dengan ucapan Yuda.
"Uhuk-uhuk."
"Kan kamu sendiri yang tanya, CEO mana yang menaklukan gue. Jadi gue jawab seadanya," jawab Galuh sebelum Bima bisa mengatakan apa-apa.
"Iya, itu artinya Bima...."
"Iya, gue CEO perusahaan Fedrik." jawab Bima malu-malu.
"Gila, jadi selama ini...."
__ADS_1
"Sorry, gue gak bermaksud bohongin kalian. Tapi memang ini kenyataan. Bahkan setelah menikah pun Galuh belum mengetahuinya. Sampai akhirnya gue kepergok pakai baju beginian pulang ke rumah."
Cerita penyamaran yang sering di dengar, ternyata memang terjadi. Ini sua membuat teman-temannya takjub dan tak percaya. Mereka berteman dengan crazy rich di Indonesia. Tapi sayangnya mereka tidak sadar.