Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Hulk


__ADS_3

"Sayang, lagi apa?" Tanya Bima yang baru saja selesai mandi sehabis makan malam.


"Nonton karoon." jawab Galuh tanpa melihat ke arah suaminya.


"Kenapa masih ada malam-malam gini?" Bima duduk di samping Galuh.


Entah apa yang di rasakan Bima saat ini, dia tiba-tiba menciumi leher Galuh. Pertama hanya kecupan-kecupan kecil, ciuman-ciuman gemas. Mungkin dia terlalu gemas dengan kecuekan Galuh, akhirnya Bima menggigit leher perempuan itu.


"Auw, apa kau sudah berubah menjadi Vampir?" tanya Galuh mengusap lehernya yang di gigit Bima.


"Kalau buat mu, aku bisa jadi Drakula atau Vampir. Bahkan aku bisa jadi kucing lucu yang menggemaskan." Bima menggosok-gosokkan pipinya di ceruk leher Galuh.


"Kalau gitu jadilah Hulk untukku malam ini." goda Galuh.


Tanpa menjawab, Bima langsung menggendong Galuh ke kamar di lantai dua. Tatapan mata Galuh membuat Bima tak merasakan betapa beratnya beban yang di sanggah. Senyum Galuh semakin melebar ketika kening bertemu kening.


Napas memburu seakan ada hantu yang tengah menapakkan diri. Terdiam akan hasrat yang membuncah. Perlahan Bima menurunkan Galuh pada kasur empuk yang tebalnya sekita tiga puluh centi dari poros dipan.

__ADS_1


Bima masih tersenyum dengan tatapan tetap tertuju pada objek nan cantik rupawan. Bima kembalu menautkan kening menyatukan hidung mancung mereka sebelum kecupan hangat mendarat di bibir.


Awalnya hanya menempel sebelum Galuh membuka mulutnya. Bima hanya bisa mengecup berulang kali, hingga wanita itu memberi izin dengan membuka mulutnya.


Lidah sudah mulai bermain dan saling membelit, tarik menarik seakan bermain tarik tambang. Hisapan demi hisapan tak terhitung jumlahnya.


Galuh terbuai akan permainan Bima, sehingga dia tidak sadar sudah tak berbusana. Ciuman yang beralih memberi sebuah aliran listrik ke seluruh tubuh melalui satu jilatan di leher.


Leher depan dan belakang adalah kelemahan Galuh, dan Bima memanfaatkan dengan baik. Tak ada satu jengkal pun yang terlewati olehnya, hingga bukit kembar menjulang tingga nan menggoda itu tercakup kedua tangan Bima.


"Ada apa?" Tanya Bima kaget.


"Aku lupa beli kontrasepsi." jawab Galuh tegas.


"Aku punya ini." Bima menunjukkan bungkus kecil di depan Galuh.


Galuh mencium Bima sebelum melanjutkan aktivitasnya. Bercumbu dengan nikmat bermain air di dalam selimut.

__ADS_1


Bima kaget mendapat serangan dari Galuh. Ciuman lembut yang membawanya melayang ke udara. Bima hanya diam, menikmati perlakuan Galuh yang semakin berani.


Ciuman panas sedikit menggigit kecil itu sudah berada di perut rata Bima. Geli rasanya dan ingin sekali menghujam Galuh sekuat tenaga. Tapi, semua itu hanya harapan saja.


Galuh semakin turun pada inti kenikmatanya. Galuh sungguh berani bermain dengan pusakan milik Bima. Lidah Galuh sungguh membuat rasa semakin menggila.


"Aku sudah tidak kuat lagi, sayang." Bima membalikkan posisi galuh berada do bawahnya.


"Aku pun, tapi aku ingin memuaskan mu juga." Ucap Galuh serak.


Ah....


Galuh dan Bima saling mencari kenikmatan mereka berdua, hingga mereka benar-benar menjapai ujung kenikmatannya.


Bima dan Galuh menikmati hal itu berdua, hingga membuat keduanya lupa akan waktu subuh. Bahkan Bima masih meminta jatahnya setelah pelepasan ke tiganya.


Sungguh gilla Bima! Dia tidak memberikan istrinya beristirahat walau hanya sepuluh menit.

__ADS_1


__ADS_2