
Hari Senin itu cepet sekali datangnya. Perasaan baru kemarin mereka berpesta barbeque di halaman rumah belakang. Sekarang, mereka sudah kembali ke rutinitas yang monoton.
Hanya tertinggal Raya saja di villa, itu juga karena dia tidak kerja. Sama dengan Galuh, ibu rumah tangga penikmat hasil kerja suami.
Awalnya Fairus tidak mengizinkan. Tapi Bima memastikan jika sahabat istrinya itu akan baik-baik saja tinggal beberapa hari dengan mereka.
"Tapi, Bim. Raya suka minta ini itu tengah malam...."
"Ya bapak bisa pulang ke sini untuk beberapa waktu. Ada kamar kosong kok, itu di sana. Di jamin, bulan madu kedua bapak, tidak akan ada gangguan." Kata Bima memotong pembicaraan Fairus dan menunjukkan satu bangunan yang sedikit menjorok ke laut.
Deburan ombak yang sudah pasti terdengar, karena kamar itu. Bukan, ruangan itu sejajar dengan tenda mereka kemarin.
Karena desakan dari wajah tak berdosa yang tengah memohon milik istrinya. Fairus pun akhirnya mengalah, dia bilang akan pulang ke Villa selama beberapa hari, setelah ngajar.
__ADS_1
Bima yang juga memiliki pekerjaan di tengah kota. Dia bisa berangkat bareng dengan Fairus.
Galuh, dengan penjagaan yang jauh lebih ketat. Di tinggal oleh Bima, dia bersama dengan Raya dan beberapa pengurus villa.
"Jam berapa biasanya Bima pulang, Luh?" Tanya Raya menikmati aneka buah yang sudah di potong.
Setelah melihat jam, Galuh pun menjawab. "Biasanya sih, nggak lama lagi. Memangnya kenapa? Kamu bosan?" Tanya Galuh.
"Enggak, aku cuma kepingin berendam di kolam sambil pakai bikini. Kalau suamimu pulang, jelas aku malu sekali." Jelas Raya mengatakan keinginannya.
Galuh tidak tau, apa yang di pikirkan oleh sahabatnya. Dia masih bisa memikirkan hal konyol, pada saat dia tengah hamil besar seperti ini.
Mungkin ada beberapa orang yang akan sangat bernafsu. Ketika dia melihat orang hamil, terutama suami ibu hamil itu. Tapi dia Bima, orang yang bahkan lebih cantik dari Raya pun, belum tentu dia nafsu. Apalagi dengan Raya yang sudah hamil tua begini.
__ADS_1
Raya dan Galuh memakai bikini yang hanya berupa bra dan ****** ***** seksi. Mungkin baru setengah jam, mereka masuk ke dalam kolam renang. Terdengar jelas deru mobil yang baru masuk garasi.
Itu Bima, Raya sedikit panik, Galuh melihat itu. Wajah Raya terlihat sedikit pucat, Galuh pun merasa khawatir. Tapi dalam hatinya, dia juga ingin tertawa.
"Tenanglah, Bima juga tidak akan memangsamu." Ejek Galuh.
"Sial kau, Aku malu bukan takut di mangsa. Emang suamimu itu binatang buas?!" Ujar Raya yang masih tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya.
"Buas banget, apalagi di ranjang. Wow, sangat perkasa. Apalagi kalau sudah membuka bajunya, ototnya, perutnya, dadanya... Buat aku nggak berhenti nyentuh." Goda Galuh yang membuat Raya merinding sendiri.
"Gila kamu ya, nggak mau aku bayangin suami orang. Lagian, Fairus juga enggak kalah keren kok. Dadanya juga bidang, perutnya juga rata..."
"Iya rata, tapi kayaknya tidak sekeras punya Bima deh. Apa kamu nggak ingat kemarin? buset, kerasa banget...."
__ADS_1
"Ehem." Obrolan nonfaedah itu di hentikan oleh suara deheman.
Fairus dan Bima ternyata sudah berdiri di belakang mereka. Betapa terkejutnya Raya melihat suaminya datang. Walau begitu, dia tetap bahagia. Karena dia tidak menjadi obat nyamuk bagi Galuh dan Bima.