
Jika tadi Dewangga yang menyeret Utari untuk meninggalkan rumah Bima. Sekarang berbanding terbalik.
Utari menarik Dewangga pulang ke rumahnya sendiri. Utari bahkan tidak memberi kesempatan Dewangga untuk membawa motornya pulang. Di sepanjang jalan menuju ke rumahnya, Dewangga di tarik seperti anak kecil yang ketahuan main.
Di kompleks ini tau, jika kedua siswa berseragam putih abu-abu ini sudah menikah. Jadi, tidak ada gunjingan yang tidak enak di dengar sampai ke telinga mereka.
"Nak Utari, ketemu di mana Dewangga nya? Main di sawah?" goda ibu-ibu yang gemas akan tingkah kedua pasutri baru ini.
"Hooh Bu, sawah di samping sana bahaya. Banyak lumpurnya." Jawab Utari dengan nada seperti seorang ibu yang sudah jengkel anaknya main lumpur.
"Hahaha, ya sudah bawa pulang. Cepat mandikan, biar tidak gatelan nanti." lanjut ibu sebelahnya.
"Iya Bu, gatel kayak e." jawab Utari sambil membuka pintu gerbangnya dan memasukkan Dewangga yang ternyata tersenyum-senyum di belakangnya.
"Apa senyum-senyum?! Seneng di lamar cewek? Emang dasar kau itu kegatelan, ya kak!" geram, Utari memukul kaki Dewangga menggunakan bantal sofa.
__ADS_1
"Astaga, kakak sama sekali enggak seneng, sayang. Kakak cuma untuk kamu saja." Dewangga memegangi tangan Utari yang masih berusaha untuk memukulnya.
"Bohong, kakak itu ibarat binatang, tu kucing. Nah, si Nimas ini ikan asin! Astaga, jelas lah kakak tergoda." Utari sangat geram di buat oleh Dewangga.
Utari duduk di sofa samping Dewangga dengan segala kejengkelannya. Astaga, Dewangga malah semakin gemas.
"Dengerin kakak, kamu itu istri kakak satu-satunya. Ibu dari anak-anak kakak. Apalagi yang kamu takutkan?" Dewangga tiduran di pangkuan Utari. Membelai rambut yang menjuntai ke depan.
"Kakak, jangan suka gombal...."
"Gombal ke istri sendiri itu nggak ada salahnya, sayang. Semua orang satu sekolah tau, kalau kita sudah menikah. Jadi, jangan berpikir negatif lagi, ok?!" Dewangga memeluk dan mencium perut rata Utari. Seakan-akan, di sana ada dedek bayi yang mereka hasilkan.
"Kenapa larinya ke orang itu? Kakak di buat jengkel sama kerjaan dia. Ternyata tidak ada yang bener." Dewangga langsung teringat akan kerjaan dia setengah hari ini.
Kerjaan yang di berikan oleh papanya benar-benar terbengkalai karena kerjaan yang di kerjakan oleh Lidya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau kakak kesal. Lampiasin ke makanan, ya. Utari udah laper, sekarang mau mandi dulu."
"Ok."
Dewangga segera bangun dan menyingsingkan lengan bajunya. Dia masuk ke dapur dan segera membuat makan siang untuk Utari.
Sedangkan Utari sendiri, dia keluar rumah dan mengunci pintu gerbangnya. Setelah itu, dia juga mengunci pintu-pintu keluar rumahnya. Kunci dia bawa naik ke kamar untuk mandi.
Dewangga tau, dia hanya tersenyum dengan apa yang di lakukan oleh istrinya. Bisa-bisanya Utari cemburu sampai sebegitunya. Kalau masih seperti ini, Dewangga merasa masih sangat wajar. Dari pada Utari yang melarang dia secara langsung.
"Dasar anak kecil."
Dewangga membuat makan siang yang simpel dan terlihat sangat nikmat sekali. Ayam goreng dengan sayur bening, menu makan siang simpel dan segar.
Dewangga sudah selesai masak, tapi Utari masih belum siap mandi. "Lama bener anak ini mandinya."
__ADS_1
Dewangga berniat untuk melihat istrinya, tapi sayang... Pintunya terkunci.
"Amsyong lah, masa nggak boleh masuk."