Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Kunjungan orang tua


__ADS_3

"Eesssttt.... kamu lagi apa?" rintih Galuh melihat Bima berada di dalam selimut.


Bima melihat ke atas, di mana Galuh membuka selimutnya. "Lagi nyari biji kopi."


Galuh tak bisa menahan rasa lagi, dia hanya bisa menikmati. "Ketemuuh?"


"Ketemu," Bima juga tak bisa menahannya.


Secara perlahan, Bima naik. Dia menindih Galuh yang sepertinya tak merasa keberatan. Galuh menatap mata Bima yang memancarkan cahaya. Galuh melihat senyum Bima yang mengembang indah bersama rasa yang entah bagaimana rasanya.


Galuh mengalungkan tangannya di leher Bima. Dia bahkan tak tau sudah berapa lama Bima berada di atasnya.


Hari semakin terang, Bima masih tak bangun dari atas Galuh. Dia sudah berkeringat di bawah suhu enam belas derajat. Entah memang sangat panas atau Bima yang tengah sakit?


Tidak, Bima tidak sakit. Tapi dia tengah berolah raga di tengah ranjang. Olah raga yang membuat badan Galuh pegal-pegal setelahnya. Dia juga harus beristirahat lebih lama setelah olah raga.

__ADS_1


Bima berangkat ke warung miliknya dan ke cafe Galuh. Dia sudah berjanji untuk menghendel dua kerjaan itu di sekali waktu. Bukan tanpa alasan Bima melakukan itu.


Semua demi melindungi Galuh.


"Bima mana, mbak?" tanya Galuh baru bangun dengan muka bantalnya.


"Den Bima sudah berangkat ke warung katanya, non. Mau sarapan?" tanya pembantu yang melihat nyonya ya sedikit kelelahan.


"Bima yang buatin apa mbaknya?"


"Tadi den Bima yang buatin sarapan buat non Galuh sebelum berangkat." pembantu pun mengambil sarapan yang di buat oleh Bima.


Galuh membawa sarapannya dan mencari orang tuanya. Dia bahkan masih belum mencuci mukanya saat ini.


"Papa...." Teriak Galuh melihat dua orang tua yang tengah asyik bermain di taman belakang dengan Dewangga.

__ADS_1


"Ya ampun anak ini, belum mandi sudah sarapan. Mandi dulu sana, baru ke sini lagi." kata ibu Galuh yang sudah terlihat lebih sehat dari sebelumnya.


"Siap, bos." Galuh berlari masuk ke dalam rumah dan segera mandi.


Sudah seperti anak kecil saja, Galuh bahkan tak seperti seorang ibu dengan satu anak. Dia terlihat lebih manja dari saat masih gadis.


Galuh yang cuek itu hilang dan berganti menjadi gadis yang manja. Seperti inilah yang di inginkan oleh mereka dulu. Sungguh terlambat Galuh bermanja pada orang tuanya.


Manja pada orang tuanya, mungkin bisa di bilang terlambat. Tapi, dengan perlakuan Bima pada Galuh, sepertinya tak ada kata terlambat untuk itu. Karena Galuh terbiasa akan kemanjaannya pada Bima.


Sebagai orang tua, Prayan sungguh bangga dan beruntung mendapatkan menantu seperti Bima. Dia baik, tanggung jawab dan yang paling penting adalah Bima sangat mencintai putrinya.


Memberikan keluarga yang selalu mendukung Galuh. Juga memberikan seorang putra yang begitu tampan dan lucu.


"Papa kok tumben datang pagi-pagi? Ada apa?" tanya Galuh masih dengan sandwichnya.

__ADS_1


"Mama bosan, jadi ke sini aja. Oh iya, Bima habis dari Kendari bawa oleh-oleh buat mama sama papa. Sekarang mama sama papa yang baru pulang dari puncak, bawa jagung mentah untuk kalian. Katanya dulu kamu ngidam jagung." Prayan ingat betul apa keinginan putrinya selama hamil. Walaupun mereka tidak bisa bersama, Bima cukup baik hati dan pengertian akan hal ini.


Dia pula yang selalu melaporkan apa saja yang terjadi pada dirinya dan Galuh.


__ADS_2