Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Adat makan yang berbeda


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Bima sudah membawa Galuh dan putranya pulang ke rumah orang tuanya. Di sana, sudah ada pengantin baru, orang tua dan adik-adiknya Bima.


Galuh terlihat sekali masih mengantuk, apalagi Dewangga. Bayi kecil itu masih terlihat nyaman dalam dekapan sang ibundanya.


"Loh, mana Vio? Belum bangun?" Tanya Bima yang sejak tadi netranya sudah mengabsen satu persatu penghuni tempat makannya.


"Enak aja, rupanya dia itu berbanding terbalik dari cerita yang kakak ceritain. Dia bukan gadis manja sama sekali, astaga aku kaget semalem." cerita Candra seakan mengingatkan Bima pada sosok istrinya.


"Maksudnya?" pikiran Bima sudah jauh di awang-awang.


"Semalem lampu kamar mandi mati tiba-tiba. Vio masih mengenakan gaun pengantin, naik ke atas kursi rias dan mengganti lampu itu sendiri." Bukan Candra yang menceritakan kejadian semalam. Tapi Rosmia yang saat itu berniat membantu Vio mengganti bajunya.


"Hahahaha, tinggal tunggu saja kamu macam-macam. Entah apamu yang hilang, nanti." Bima meledek adiknya yang mulai saat ini hidupnya akan benar-benar terikat.

__ADS_1


Bima masuk ke dalam dapur, kali ini dia yang di kagetkan dengan penampilan Vio. Gadis yang ia tolak, rupanya sangat mahir dalam dapur. Bahkan Vio membuat hidangan sarapan yang tak biasa.


"Kak Bima, aku sudah masak nasi goreng lumayan banyak. Apa kakak masih mau menu lain?" Vio kaget karena Bima yang datang ke dapur langsung mengambil telur dan roti.


"Oh, tidak. Nanti aku sarapan nasi gorengmu, ini untuk Galuh. Dia biasa makan makanan yang aku masak sendiri. Dan lagi, Galuh hanya mau makan roti sama telur saja." Bima membuatkan roti telur untuk Galuh dengan begitu telaten.


Vio semakin terpesona dengan apa yang di lakukan Bima. Namun, dia juga sadar jika kakak iparnya ini sungguh sangat mencintai istrinya.


"Galuh sepertinya masih sangat mengantuk, semalem ada kejadian apa?" tanya Yasa melihat menantunya kembali terlelap di kursi makan.


Percakapan ayah dan anak itu di dengar langsung oleh Vio. Dia tampak iri dengan kedekatan Galuh dan keluarga lainnya.


"Vio, sudah sini makan." Rosmia memberi kursi untuk menantu keduanya di samping putranya.

__ADS_1


"Apa tidak menunggu Candra selesai makan dulu, baru aku makan?" pertanyaan Vio rupanya membuat seluruh keluarga bingung. Kecuali Galuh tentunya, dia masih asyik dengan dunia mimpinya.


"Buat apa? Kamu mau makan di piring bekas Candra makan?" Rosmia hanya bercanda mulanya. Tapi, siapa yang sangka jika itu memang di lakukan oleh Vio.


"Iya, di rumah begitu. Mama makan setelah papa, dan di piring yang sama. Katanya itu sunah...."


"Kami mencari pahala tidak dengan begitu. Kalau itu sudah ketinggalan jaman, ya tinggalkan. Sekarang, kamu duduk di samping suamimu, layani dia. Keluarga kami tidak kekurangan piring dan sabun cuci. Makan bersama jauh lebih enak." Bima memberikan satu piring dengan sedikit di hentakkan.


Hal ini membuat Galuh terbangun. Sayang sekali, mimpi indah Galuh harus berakhir begitu saja.


"Kenapa di banting sih? Nggak sopan, sayang." Kata Galuh protes.


"Maaf, aku geregetan saja sama cara pandang keluarga Tante Weni." Bima malah meminta maaf pada Galuh, dari pada ke Vio langsung.

__ADS_1


"Ya sudah sih sayang, setiap keluarga punya adat dan peraturan masing-masing. Dan kamu Vio, biasakan dengan adat di sini." Galuh sebenarnya tidak tau apa yang tengah terjadi. Tapi dia tidak suka dengan sikap Bima pada adik iparnya.


Semua makan dengan nikmat, dan Vio juga ikut makan bersama dengan yang lainnya.


__ADS_2