
Bima menatap Galuh yang tengah melakukan perawatan wajah sebelum tidur. Bima duduk di tempat tidur, menunggu dengan sabar istrinya yang tengah asyik memperhatikan kulit wajahnya.
Hal ini pertama kali Bima lakukan, karena sebelumnya dia akan diam di ruang kerja. Ya, pekerjaan dia yang di pindahkan ke rumah, justru menyita waktunya sepenuhnya.
"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Galuh yang merasa risih.
"Apa kamu melakukan ini setiap malam?" tanya Bima seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa.
"Ya, kalau tidak, mana mungkin kulitku halus dan lembut seperti pantat Dewangga." Galuh menjawab dengan tangan terus memberikan krim ini dan itu pada kulit wajahnya.
"Aku pikir, kulit dan wajah ini sudah kenyal sejak lahir." Bima mendekati Galuh dan mencolek pipi kenyal istrinya.
__ADS_1
"Mana ada! bunga saja butuh perawatan untuk mekar dengan cantiknya. Masa wajahku yang mulai menua ini tidak butuh perawatan. Makanya, kasih aku uang lebih untuk pergi ke salon." kata Galuh yang seakan Bima tidak pernah memberikan uang untuk perawatan diri.
"Haik, ATM ada di kamu, kartu kredit juga kamu yang pegang. Aku cuma punya uang di aplikasi saja, bagaimana aku bisa ngasih kamu lagi, sayang?" Bima kaget dengan apa yang di katakan Galuh.
"Hahahaha, ya sudah. Sekarang kamu pegang, jadi bisa pulang kerja beliin aku oleh-oleh." Galuh memberikan dompetnya agar Bima mengambil apa yang pernah di titipkan padanya.
"Kalau hanya untuk membelikan mu oleh-oleh, aku tidak butuh kartu kredit. Palingan juga kamu di beliin martabak juga demen." apa yang di katakan Bima benar, Galuh tak pernah sulit untuk di senangkan.
"Halah, biar begitu juga kamu jarang ngajak aku beli nasi goreng pa Ujang yang di depan sekolahan tu." Galuh pun protes, karena Bima selalu menolak jika di ajak beli nasi goreng di depan sekolah mereka dulu.
"Jam berapa ini? Dewangga saja sudah tidur. Besok saja, lagian aku juga udah ngantuk." Galuh pindah ke tempat tidur dan meninggalkan Bima yang masih berada di depan meja riasnya.
__ADS_1
"Ya sudah besok siang kita makan di sana."
Galuh sudah berniat untuk tidur, tapi tangan Bima sepertinya tidak mau diam. Itu membuat Galuh tak bisa tidur nyenyak.
"Galuh, apa kamu enggak merasa kasihan pada Dewangga?" Tiba-tiba Bima bertanya pada Galuh yang sedikit menjauh darinya.
"Memangnya, Dewangga kenapa? Bukankah dia baik-baik saja?" Galuh penasaran, karena dia merasa putranya tidak mengalami hal menakutkan. Kenapa kasihan?
"Dia sendirian, mungkin kita coba kasih adik untuknya sebagai teman." Apa yang di katakan Bima saat ini, Galuh akhirnya tau apa yang di maksud oleh suaminya.
"Aku bisa saja memberikanmu satu anak lagi. Tapi, aku mau melihat dulu kamu. Masih terus membuatku sakit hati dan kecewa apa tidak. baru aku mau pertimbangin lagi." Keputusan Galuh tak bisa di ganggu gugat untuk saat ini.
__ADS_1
Tapi tenang, karena obat KB yang biasa di konsumsi Galuh. Sudah di tukar dengan vitamin c oleh Bima. Jadi, walau Galuh mengonsumsinya sebelum dan sesudah, tetap saja akan bocor.
Di tambah dengan Bima yang tak pernah mau menggunakan pelindung saat menjamah istrinya. Tak berasa, katanya.