
Setelah semalam lembur, pagi ini Bima datang dengan membawa suasana mendung. Candra, orang yang sudah menunggu dirinya dengan koper besarnya. Pakaian yang terbilang cukup tebal, Candra tidak bermaksud untuk bekerja hari ini, kan?
"Kenapa kamu bawa-bawa koper begitu besar?" tanya Bima.
"Kak, aku ke sini untuk memberikan surat pengunduran diri. Aku mau membawa Vio keluar negeri. Mungkin aku akan cari kerjaan di sana, semoga aku bisa lebih mandiri di negara orang." Ucapan Candra membuat Bima kaget.
Apa yang sebenarnya terjadi? Setelah beberapa waktu lalu, perusahaan di serang. Pada saat semua sudah mulai kembali normal. Adiknya malah mengundurkan diri sebagai pegawai di perusahaan ini.
"Baiklah, tapi kakak nggak bisa melepas kamu begitu saja. Pergilah ke negara selatan, karena di sana kamu bisa hidup tenang." Bima mengambil map coklat yang di serahkan oleh adiknya.
"Apa Australia masih kawasan kekuasaan kakak?" Candra tau apa yang di inginkan kakaknya.
__ADS_1
"Iya, kakak ada sebuah perkebunan anggur seluas tiga hektar. Mungkin kamu bisa mengelolanya dan menambah jumlah luasnya. Kakak akan berikan untukmu."
"Bertani anggur? Apa aku bisa?" Candra meragukan diri. Karena selama ini, dia sama sekali tidak ada pengalaman tentang bertani. Dia lulusan manajemen terbaik di Amerika, saat itu. Masa dia harus banting setir ke petani anggur?
"Bisa, kalau kamu pergi dari perusahaan ini. Jangan ambil kerjaan yang sama di perusahaan lain. Karena itu pasti akan menyakiti hati papa. Bertani, walau kamu tidak bisa, teruslah mencoba."
Ucapan Bima terus terngiang di telinga Candra sepanjang perjalanan. Perut Vio yang semakin terlihat pun membuat Candra tak ingin mengambil resiko.
Menuruti apa kata Bima, Candra pergi ke alamat yang di beri kakaknya. Bertani anggur dengan lahan yang cukup luas. Ini adalah awal dari kehidupan Candra bersama Vio.
"Kakek tua ini ngomongnya ngelantur sekali. Pulang sama, minta istrimu bawa makanan ke sini, pa. Laper, pengen makan masakan mama." Bima menggerutu.
__ADS_1
Apa yang di katakan Yasa tidak sepenuhnya benar, dan juga tidak salah. Karena Bima hampir mencapai puncak kenikmatan, malah terhenti karena tamu bulanan.
Hal ini cukup memancing emosi Bima. Jujur saja, dia bahkan harus mandi air dingin tengah malam. Itu menyiksa.
"Istriku, aku larang masak. Hari ini dia lagi aku manjakan dengan berbelanja di luar negeri bersama dengan cucu tersayangku. Mau apa kamu?!" ucapan Yasa begitu santai, tapi malah membuat Bima bingung.
"Dewangga?" Tebakan Bima di angguki oleh Yasa. "Cucumu itu anakku. Apa sudah ijin...."
"Sudah, bahkan menantuku yang selalu kau sebut istri tercinta juga mengantar ke bandara setengah jam yang lalu."
"Sial, kalian para orang tua ini. Anggap aku orang tua Dewangga, nggak?" Bima kaget, emosinya terpancing. Bagaimana tidak meledak, dia sendiri tidak tau menahu rencana ibunya yang mengajak putranya keluar negeri.
__ADS_1
"Tenang, pulang kerja papa juga jemput mereka kok. Bima, kalian berdua butuh waktu. Ajak Galuh liburan, dia itu butuh penyegaran diri. Buat dia melupakan keguguran yang baru terjadi beberapa waktu lalu...."
Banyak sekali ucapan Yasa untuk menasehati Bima. Mereka berdua sangat serius membahas hal ini, sampai-sampai tak menyadari ada sosok bidadari cantik yang kini tengah terdiam membatu. Mendengar kabar yang begitu mengejutkan baginya. Galuh merasa diri tersambar petir dengan kekuatan satu koma tiga Volta.