Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta
Siapa dalangnya?


__ADS_3

Pekerjaan di kantor, lumayan banyak hari ini. Bima tidak bisa pulang tepat waktu karena dia datang sudah siang sekali. Siapa yang dia salahkan? Galuh?


Oh, tidak. Bima menyalahkan Candra. Karena dia hampir mengacaukan pekerjaannya. Karena Candra lalai membawa satu proyek yang bernilai miliaran. Jelas ini membuat Bima dan Yasa marah.


"Candra, kamu itu bisa kerja apa enggak sih? Sudah tau ada ular di rumahnya, masih aja ngasih kaki. Ya di gigit!"


Candra sendiri yang di marahi hanya bisa menunduk. Semua ini karena Vio terlalu ikut campur. Bagaimana bisa dia selalu mengacaukan hidupnya bersama kakak dan papanya.


Candra pulang ke rumah dengan wajah lesunya. Bukan hanya itu, Candra yang belakangan sudah sangat dingin pada Vio. Sekarang Candra sudah seperti lautan es abadi.


"Candra, aku sudah masak kesukaanmu. Ayo makan dulu." Kalau suami istri normal, pasti akan bahagia sekali di sambut senyuman istri yang begitu cantik. Tapi dia Vio, ular berkepala tiga, sangat berbahaya.


Tak berkata-kata, Candra memilih meninggalkan Vio. Badannya capek, lelah dan sangat tertekan sekali hari ini. Dan semua itu di sebabkan oleh Vio.


Candra masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia duduk memperhatikan apa yang ada di sekitar. Apa dia terlalu ceroboh apa tak seharusnya dia tinggal bersama dengan Vio? Tapi dia tengah mengandung anaknya.

__ADS_1


Candra merasa sangat dilema. Di satu pihak adalah keluarga besarnya dan di pihak lain adalah istrinya. Keputusan apa yang harus dia ambil sekarang?


Setelah lama merenung, Candra akhirnya mendapatkan keputusannya.


"Vio, sebenarnya apa yang kamu inginkan dengan aku membawamu keluar dari negara ini?" Candra mendekati istrinya yang terlihat sangat sedih.


"Setidaknya, kita bisa menjauhkan orang itu dari keluarga kamu. Mereka sudah sangat baik, Can. Aku nggak mau mereka mendapat masalah hanya karena aku lagi."


"Sebenarnya, kamu itu siapa sih? Kenapa berubah di setiap waktunya? Aku bahkan tidak mengenalimu sama sekali." Candra merasa kalau Vio tidak sekali pun memikirkan dirinya dan keluarganya. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Kalau kita sudah jauh dari keluarga kamu, pasti kamu akan tau."


"Tapi, Vio. Kalau kita keluar negeri, aku tidak bisa memberimu jaminan kehidupan mewah. Aku hanya menjanjikan kehidupan yang layak untuk kamu." Candra bertekad, dia tidak ingin menggunakan fasilitas yang di miliki keluarganya di luar negeri.


"Jangan pikirkan itu. Walau aku harus menjadi gelandangan di sana pun aku tidak keberatan. Atau, mungkin kamu membuangku di sana, jujur. Aku akan sangat berterima kasih padamu seumur hidupku." Jawaban Vio sungguh di luar dugaan. Sebenarnya, apa yang tengah terjadi pada Vio?

__ADS_1


"Baik, kamu yang meminta. Besok siap-siaplah, dalam waktu dekat aku akan membawamu pergi jauh dari sisi keluargaku." ucapan lesu Candra di sambut antusias dan senyum lebar Vio.


"Ya, aku akan siap-siap semuanya. Kita hanya akan membawa baju dan uang secukupnya saja. Aku tidak akan membawa sedikitpun barang pemberian orang tuamu yang begitu berharga."


Dengan perut yang sedikit menyundul Candra, Vio mencium pipi suaminya. "Oh iya, ada satu lagi permintaanku. Tolong, jangan bawa aku pulang kalau kamu mau bertemu dengan keluargamu." Ucapan Vio kali ini lebih aneh.


"Apa kamu membenci keluargaku? Apa mereka membullymu?"


"Tidak, tapi ini yang terbaik untuk mereka. Terutama untuk kamu, aku sayang kamu dan keluargamu. Tapi, ada orang yang menginginkan aku berbuat jahat pada kalian."


"Katakan, Vio! Katakan!"


"Tidak, dia selalu memata-matai ku. Kalau aku keceplosan, maka.... Dewangga adalah orang pertama yang di eksekusi. Kak Galuh adalah orang paling terluka kalau itu terjadi."


Candra mendengar apa yang di tuturkan oleh istrinya pun merasa, Ada sebuah petir yang menyambar dirinya saat ini. Dia juga merasa, nyawanya di cabut dari ubun-ubun dan di kembalikan secara paksa. Siapa orang yang ingin membuat keluarga Bima berantakan?

__ADS_1


__ADS_2